DAILY WORDS, SABTU, 21 FEBRUARI 2026
SABTU SETELAH RABU ABU – MASA PRAPASKAH,TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : YES 58: 9b – 14
MAZMUR T : MZM 86: 1 – 2. 3 – 4. 5 – 6
INJIL : LUK 5: 27 – 32
TIPIKAL PENDOSA DALAM TERANG FIRMAN TUHAN
( Telaah Seruan Nabi Yesaya, Kisah Panggilan Lewi – Pemungut Cukai & Yudas Iskariot )
@ Nabi Yesaya menyerukan pertobatan para pendosa yang dihadapkan pada Allah yang berbelaskasih. Pertobatan diartikan secara menohok dalam satu frase “tidak lagi” yang diulang berkali-kali dalam seruan nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. Bertobat berarti TIDAK LAGI dalam beberapa hal ini: kenakan kuk pada sesama, menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah. Pilihan untuk TIDAK LAGI diikuti dengan tindakan nyata yang menunjukkan satu tindakan yang bertolak belakang dari tindakan dosa sebelumnya: peduli dan memperhatikan orang yang lapar, menolong yang tertindas, mendirikan tembok yang sudah roboh, tidak menginjak-injak hukum Sabat, tidak menodai hari kudus Tuhan dengan urusan manusia, dengan tidak berkata “omong kosong”, dst. Pertobatan bukan hanya sampai pada frase dan keputusan untuk TIDAK LAGI melainkan diikuti dengan satu tindakan PERBAIKAN – rehabilitasi. Inilah pertobatan yang tulus. Pertobatan yang tulus datang dari PENDOSA YANG TULUS.
@ Lewi – Pemungut Cukai masuk dalam kelompok PENDOSA YANG TULUS. Dia bukan tipikal pendosa yang PLAYING VICTIM . Pendosa yang tulus adalah pendosa yang sadar akan masa lalu dan berbalik dalam keheningan untuk melakukan sesuatu sebagai wujud PERBAIKAN/rehabilitasi. Pendosa yang selalu berlaga PLAYING VICTIM adalah pendosa yang mempunyai pola pikir dan perilaku yang manipulative. Dia berpura-pura atau merasa dirinya selalu menjadi korban dalam berbagai situasi, bahkan ketika dia sebenarnya bersalah. Mungkin pendosa ini hanya mau CUCI TANGAN – TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB – atau MEMBUAT PENCITRAAN dan MENGALIHKAN KESALAH PADA ORAN LAIN. Pendosa yang suka PLAYING VICTIM adalah pendosa yang sering menyalahkan orang lain, dan lebih gemar mengeluh dan menceritakan kisah-kisah sedih secara berlebihan dan membuat orang lain yang mengoreksi kesalahannya MERASA BERSALAH. Ada usaha untuk mendapatkan perhatian, pembelaan dan belaskasih. Saya yakin, Lewi Pemungut Cukai bukan seorang pendosa yang suka PLAYING VICTIM . Dia menerima bahwa dia bersalah dan siap dibaharui oleh Yesus untuk masuk dalam kawanan pengikut-Nya untuk menjadi pewarta cinta kasih Tuhan. Lewi – Pemungut cukai tidak melakukan tindakan PLAYING VICTIM karena jika demikian, ia dapat merusak hubungan dengan orang lain (toxic relationship) apalagi hubungan dengan orang-orang yang Tuhan percayakan kepadanya. Jika tidak dikendalikan, orang-orang yang Tuhan percayakan kepadanya bisa menjadi stress.
@ Lewi Pemungut Cukai bukanlah tipikal pendosa yang merencanakan untuk berdosa dan pada saatnya akan berbalik. Tidak! Dia mungkin agak berbeda dengan Anak yang Hilang dalam perumpamaan yang Yesus ajarkan. Anak yang Hilang secara sadar keluar dari situasi tak berdosa, melakukan dosa sampai pada batas “tak berdaya” dan akhirnya merencanakan untuk berbalik kepada ayahnya. Anak yang Hilang mungkin berbeda dengan Domba yang Hilang. Sosok Domba yang Hilang lebih merujuk pada pendosa yang innocent – terseret oleh situasi sosial dan akhirnya hilang tanpa tahu bagaimana harus pulang. Disinilah kita dapat memerankan fungsi penggembalaan – menjangkau yang hilang. Anak yang Hilang mungkin lebih mempunyai pengetahun tentang strategi untuk bisa mendapat JALAN PULANG.
@ Lewi Pemungut Cukai mungkin berbeda dengan sosok Yudas Iskariot. Banyak ahli Kitab ‘Suci coba mengartikan kata “ Iskariot ” untuk memahami later belakang Yudas dan perilakunya. Ada yang mengklaim bahwa kata Iskariot itu berasal dari bahasa Latin yang artinya pembunuh atau yang membawa pedang, dari bahasa Aram yang berarti “ penipu ” atau “ yang palsu ”, atau kata Aram “Iskariota” yang berarti tergantung/gantung diri. Ada yang mengartikannya sebagai pemegang khas/bendahara dan itulah tugas Yudas di antara kalangan para rasul Yesus. Kata Iskariot juga lebih dihubungkan dengan nama kota darinya dia berasal yaitu kota Kariot. Jika ini benar, Yudas adalah satu-satunya rasul yang bukan berasal dari Galilea melainkan dari Yudea. Atas latar belakang ini, dia bisa menjadi penghianat yang menjual Gurunya kepada orang-orang dari wilayahnya yaitu wilayah Pegunungan Yudea dimana terletak kota Yerusalem sebagai pusat peradaban orang Yahudi dan tempat Yesus akhirnya diadili dan dibunuh sampai wafat di kayu salib. Dari telaah singkat tentang sosok Yudas Iskariot – Pengkhianat Yesus, apakah saya termasuk tipikal pendosa yang secara tahu dan mau melakukan penghianatan terhadap kebenaran, lalu coba mencari pembenaran dengan cara playing victim /menceritakan atau memberi kesan sebagai penderita yang terkirakan atau dalam versi Yudas Iskariont, pendosa yang putus asah dan menggantung diri?
@ Di akhir pekan setelah Rabu Abu, pada hari keempat Prapaskah, mari kita berintrospeksi. Entah sebagai imam atau sebagai awam, kita semua adalah pendosa. Kita hanya bertanya dengan rendah hati: model atau tipikal “pendosa” mana yang sesuai dengan diri saya? Mari nikmati RETRET AGUNG dengan masuk lebih ke dalam diri kita masing-masing. Tuhan memberkati! Have a good weekend, filled with love and mercy . padrepiolaweterengsvd 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻














