Home Ā» GARAM DAN TERANG DUNIA

GARAM DAN TERANG DUNIA

by Leonardus Ansis
0 comments


Yes. 58:7-10; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16
HM Biasa V/Minggu, 8 Februari 2026

Yesus, dalam injil hari ini, mengajak kita untuk menjadi garam dan terang. Yesus mengandaikan bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, garam merupakan salah unsur penting bagi makanan. Garam memberi rasa (asin) bagi makanan dan mengawetkan makanan. Garam (dalam jumlah yang cukup) membuat makanan menjadi enak. Terang menunjuk pada cahaya. Terang menjadikan yang gelap menjadi terlihat dengan jelas.
Berdasarkan makna di atas, panggilan menjadi garam dan terang dunia memiliki nilai yang mendalam. Menjadi garam dan terang berarti hadir untuk orang lain. Garam tidak menggarami dirinya sendiri atau cahaya tidak mencahayakan dirinya sendiri. Garam memberi rasa pada makanan dan cahaya memberi terang. Panggilan menjadi garam dan terang adalah panggilan untuk ke luar dari diri sendiri. Untuk itu, hidup kristiani adalah hidup yang mau memberi diri. Menjadi garam dunia berarti menjadi sarana bagi terciptakan nuansa atau cita rasa yang ā€œmengenakanā€, menggembirakan, dan menyenangkan. Selain itu, menjadi garam juga berarti bersedia untuk ā€œmengawetkanā€ kebaikan, kasih, damai, pengampunan, dan berbagai buah-buah kebaikan lainnya. Menjadi cahaya berarti menjadikan diri sebagai sumber terang, membuat hidup yang ā€œgelapā€ menjadi terang; mengubah konflik menjadi damai; mengubah kebencian menjadi pengampunan.
Dalam kaitan dengan cahaya, Paus Fransiskus, dalam khotbahnya pada 7 Juni 2016 berkata, sumber energi bagi cahaya adalah Tuhan doa. Paus Katakan bahwa kita dapat melakuklan banyak pekerjaan belas kasih, berderma, dan berbagai pekerjaan lain, tetapi tetapi ā€œjika kita tidak berdoaā€ maka semua ini tidak akan membawa terang. Banyak pekerjaan menjadi sia-sia dan terjebak dalam semangat popularitas dan kesombongan diri karena kurang berdoa. Doa, bagi Paus, bagaikan bateri yang membuat cahaya tetap terang.
Mari, dengan menjadi garam dan terang dunia, kita dipanggil untuk mau memberi diri. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga hadir bagi kebaikan banyak orang. Orang yang mau terbuka dan berbuat baik bagi orang lain tidak pernah akan habis rejekinya. Semakin kita memberi, semakin kita juga akan menerima. Siapa yang memberi banyak, juga akan menerima banyak. Inilah keyakinan iman kita. Rahmat Tuhan tidak akan pernah berhenti bagi orang yang bersedia menjadi garam dan terang dunia bagi orang lain. @novlymasriat.

You may also like