DAILY WORDS, KAMIS, 23 OKTOBER 2025
PEKAN BIASA XXIX– TAHUN C
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : ROM 6: 19 – 23
MAZMUR : MZM 1: 1 – 2. 3. 4.6
INJIL : LUK 12: 49– 53
@ Judul yang saya berikan untuk refleksi hari ini kedengarannya juga sangat PROVOKATIF. Namun itu bukan maksudku! Tentang menjadi provokator atau promotor, atau tor-tor yang lain, saya teringat pengalaman kami sebagai mahasiswa filsafat di STFK LedalEro, saat menjelang lengsernya Presiden II Republik Indonesia, Soeharto. Dengan mengendarai belasan truck dan mengusung beberapa peti jenazah kosong, kami turun ke kota Maumere untuk berdemonstrasi, meminta agar segera diganti pemimpin negara yang baru mengingat situasi chaos yang sedang terjadi di tanah air. Bukan hanya mahasiswa STFK Ledalero melainkan semua mahasiswa di seluruh tanah air turun ke jalan-jalan menuntut adanya reformasi di segala bidang termasuk leadership di negara yang kita cintai ini. Akhirnya Presiden Soeharto pun mengundurkan diri. Pengunduran diri Presiden Soeharto meninggalkan luka yang cukup dalam karena begitu banyak mahasiswa diculik dan dibunuh/dihilangkan. Banyak korban pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mahasiswa yang diculik dan dibunuh atau dihilangkan, dituduh sebagai PROVOKATOR dari tuntutan perubahan ini. Berarti kami di STFK Ledalero juga dicap sebagai provokator. Apakah benar bahwa kami para mahasiswa waktu itu adalah PROVOKATOR?
@ Saya lebih melihat kami para mahasiswa sebagai PROMOTOR bagi masyarakat Indonesia untuk menghayati nilai-nilai sosial kemanusiaan yang lebih adil dan beradab. Ya, mungkin cara-cara kami sangat provokatif, tetapi tidak agitative. Kami hanyalah corong yang mempromosi perubahan atau reformasi di segala bidang kehidupan. Mungkin saya keliru, tetapi saya lebih melihat diri saya bersama rekan-rekan mahasiswa yang lain sebagai PROMOTOR nilai-nilai yang mesti ditanam untuk menggusur nilai-nilai lama yang bernuansa koruptif – kolutif – nepotis. Indonesia, pada waktu itu, ada di ambang kehancuran oleh karena massive -nya tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme dalam berbagai bidang kehidupan. Kami mempromosikan nilai-nilai baru yang mestinya dihidupi oleh masyrakat bangsa Indonesia demi terwujudnya keadilan dan perdamaian serta kesejahteraan bersama. Kalau memang kami harus memprovokasi, ya kami memprovokasi masyarakat untuk menghidupi nilai-nilai keadilan dan cinta kasih serta kesetaraan.
@ Dari kata-kata Yesus yang kita dengar di dalam Injil hari ini, nuansa yang sedang diwartakanNya bersifat provokatif dan bahkan agitatif. “ Aku datang melempar api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!…Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan!. ..” Mendengar atau membaca seruan Yesus ini, saya secara pribadi memang merasa dibakar atau diprovokasi oleh – Nya. Apalagi Dia melanjutkan dengan penyataan yang agitative. Yesus melihat bahwa kedatanganNya dan oleh seruannya, akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua, dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puterannya, dan Putera melawan bapanya, dst. Sungguh, pernyataan Yesus ini bukan saja bernada provokatif melainkan juga agitative (memecah belah). Bagi saya, Yesus bukan memprovokasi atau mengagitasi. Yesus sedang mempromosi alternatif nilai-nilai yang baru bagi penghayatan hidup iman dan kemasyarakatan. Yesus sedang mencerahkan umat atau masyrakat agar lebih kritis dan cermat di dalam memilih dan memilah nilai-nilai yang baik untuk dapat dihidupi di dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat
@ Yesus mempromosikan nilai-nilai baru karena, sebagaimana yang digambarkan oleh Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, orang-orang masih hidup dalam kegelapan dengan menyerahkan anggotat-anggota tubuhnya menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan. Yesus, sebenarnya dalam nada yang sama, sedang mempromosikan nilai-nilai yang baru, nilai-nilai yang ditandai oleh penyerahan anggota-anggota tubuh untuk menjadi hamba kebenaran yang membawa kita kepada kekudusan. Sebagaimana yang diserukan St. Paulus, ketika kita menjadi hamba dosa, kita tidak hidup di dalam kebenaran. Yesus, lewat penderitaanNya di kayu salib, telah mempromosikan kepada dunia, nilai-nilai yang baru, nilai cinta kasih yang memerdekakan kita dari dosa ingat diri, iri hati, dengki, dendam, amarah, dll.
@ Mari kita saling mendoakan, semoga iman kita dikuatkan. Semoga kita diteguhkan oleh Roh Kudus agar kita pantang mundur menjadi PROMOTOR nilai-nilai yang membawa kepada hidup yang adil, damai dan sejahtera. Sudah tentu, ketika menjadi PROMOTOR nilai-nilai yang baik dan benar, kita akan mengalami berbagai macam tantangan dan rintangan bahkan dari dalam tubuh Gereja sendiri, teristimewa tantangan dari mereka yang melayani Gereja dengan berbagai macam kepentingan pribadi, kelompok atau suku-nya. Mari kita tetap tegar menjadi PROMOTOR KEADILAN DAN PERDAMAIAN dengan terus menaruh kepercayaan hanya pada Tuhan sebagaimana yang kita dengungkan di dalam antiphon Mazmur Tanggapan hari ini. Semoga demikian! Have a blessed day filled with love and compassion. Warrm greetings to you all. padrepiolaweterengsvd 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼














