Yoh. 1:19-28
Jumat, 2 Januari 2026Kejujuran berarti sikap hidup dalam kebenaran. Orang jujur selau menyatakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak munafik, tidak berpura-pura. Orang jujur menyadari kekurangan dan keterbatasannya, dan berani untuk membaharui diri. Komunikasi yang penjuh intrik dan kebohongan tidak akan pernah menciptakan dialog yang baik, dan menyelesaikan konflik. Sebuah konflik akan tetap tumbuh dan bertahan ketika orang-orang yang menyelesaikan konflik penuh dengan kebohongan atau manipulasi. Paus Fransikus, dalam ensikilik Frateli Tutti, berkata bahwa salah satu nilai penting dalam menyelesaikan konflik, selain kesabaran dan keterbukaan, diperlukan nilai kejujuran. Dia berkata, “rekonsiliasi yang otentik tidak lari dari konflik, namun dicapai dalam konflik, menyelesaikannya melalui dialog dan keterbukaan, kejujuran dan negoisasi yang sabar” (FT, art. 244). Dalam kaitan dengan kehidupan iman, kejujuran berarti hidup dalam kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Memang bertindak jujur itu tidak mudah. Kadang orang takut jujur karena dapat menyakiti hati orang lain, tetapi adalah lebih baik jujur. Sebuah kebohongan akan menghasilkan kebobongan baru.
St. Yohanes Pembaptis adalah orang yang jujur. Dia menyadari bahwa dirinya bukan mesias ketika beberapa imam dan orang Lewi bertanya tentang identitasnya. Dia juga jujur menjawab kepada mereka bahwa dirinya bukan Elia. Dia menyadari identitas dirinya sebagai “orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yoh. 1:23). Dia jujur mengakui identitas dirinya, dan bahkan menunjukkan kerendahan hati. Dia merasa tidak pantas disejajarkan dengan Yesus, sang Mesias sejati. Dia mengakui bahwa Yesus lebih hebat dari dirinya. Dia hanyalah orang kecil, senderhana, memiliki keterbatasan. Dia berkata, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak” (Yoh. 1:26-27). St. Yohanes Pembaptis tidak mengenakan “topeng” untuk menutup wajahnya. Dia terbuka, dan sangat menyadari kelemahannya. Dia mengajarkan kepada kita kejujuran dan kerendahan hati. Orang yang jujur adalah juga orang yang rendah hati. Kesombongan tidak akan pernah mengantar kit auntuk berani rendah hati, dan menjadi jujur. Orang sombong selalu akan hidup dalam kebohongan agar menutupi kelemahannya.
Mari kita belajar menjadi jujur dan rendah hati. Kejujuran harus dibangun dalam segala hal: jujur tentang diri sendiri, jujur dalam berkomunikasi, jujur dalam bertindak, jujur dalam relasi, jujur dengan Tuhan, jujur dengan sesame. Kadang membangun hidup jujur tidaklah mudah. Banyak orang yang sering menyembunyikan banyak hal, dan tidak mau terbuka tentang apa yang sebenarnya. Sering kali orang berkata bahwa saya tidak jujur demi kebaikan. Tujuan tentang kebaikan tertentu menjadi alasan untuk menyembunyikan kebenaran. Ketidakjujuran demi kebaikan hanya mungkin ditoleransi dalam situasi ekstrem untuk mencegah kerugian serius, namun secara moral tetap problematis dan tidak dapat dijadikan prinsip umum. Maka dalam kebobongan demi kebaikan tertentu bukanlah menjadi prinsip moral umum. Kebohongan adalah kebohongan, dan akan menghasilkan kebobongan baru. Mari kita berjuang menjadi orang-orang yang jujur dan rendah hati dalam hidup. Kita jangan menjadi orang-orang munafik, yang terlihat baik, tetapi hati penuh dengan iri, benci, dengki, dan kemarahan. @novlymasriat.















