Advertisement

KESAKSIAN TENTANG TUHAN YANG BERANGKAT DARI IMAN

Yoh. 1:29-34.
Sabtu, 3 Januari 2026Yesus memiliki beberapa gelar, seperti Pokok Anggur, Mesias, Roti Hidup, Imanuel, Anak Domba Allah, Anak Allah, dan beberapa gelar lainnya. Injil hari ini menyebutkan dua gelar Yesus, yaitu Anak Domba Allah dan Anak Allah (Yoh. 1:29-34). Gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah berkaitan dengan pengorbanan. Yesus menjadikan dirinya korban silih atas dosa-dosa manusia. Dia rela menderita dan wafat agar kita semua diselamatkan. Anak Domba Allah adalah simbol penyerahan diri. Dia juga adalah Anak Allah karena Yesus sungguh-sungguh Allah. Dia bersatu dengan Allah, dan Roh Kudus. Dia mengenal Allah, dan Dia adalah gambaran paling nyata dari Allah.

Yohanes Pembaptis dengan keyakinan teguh memperkenalkan identitas Yesus ini kepada orang-orang di sekitarnya. Yohanes memang pada dasarnya selalu menempatkan Yesus sebagai inti pewartaannya. Dalam bagian lain dalam injil, Yohanes sungguh menyadari diri sebagai pribadi yang tidak sepadan dengan Yesus. Dia hadir untuk menyiapkan jalan bagi Yesus, menyebutkan Yesus lebih tinggi dari dirinya (Yoh. 1:19:28). Yesus selalu menjadi yang utama dalam pewartaan Yohanes. Paus Fransiksus, dalam ensiklik Evangelii Gaudium, berkata: “Tidak mungkin ada pewartaan Injil sejati tanpa secara eksplisit memaklumkan Yesus sebagai Tuhan, dan tanpa kedudukan tertinggi pewartaan tentang Yesus Kristus di segala karya evangelisasi” (art. 110). Yesus harus menjadi inti utama pewartaan. Yohanes telah menunjukkan hal ini.
Yohanes dapat memberikan pewartaan tentang Yesus dengan baik karena dia mengenal Yesus. Pengenalan Yohanes tentang Yesus berasal dari Allah sendiri. Yohanes berkata, “akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus” (Yoh. 1:33). Pengenalan akan Yesus harus berawal dari kebiasaan mendengar suara Allah, diperdalam dengan penglihatan akan tanda-tanda Yesus yang diterangi Roh Kudus, dan mengalami kepenuhan dalam perjumpaan yang personal dengan Tuhan (bdk. Lumen Fidei, art. 29-31).
Mari kita belajar untuk menjadi pewarta yang senantiasa menempatkan Yesus sebagai pusat pewartaan. Isi pewartaan kita selalu menjadikan Yesus yang lebih utama; membiarkan Yesus lebih terkenal, dipuji, dan dimuliakan, bukan diri kita (diri pewarta). Pewartaan tidak hanya melalui kata-kata tetapi kesaksian hidup. Kita dipanggil untuk mewartakan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang berkorban, dan Anak Allah yang Maha Kuasa, tidak hanya melalui “mulut”, tetapi dengan kesaksian hidup yang mau berkorban dan keyakinan akan Allah yang dibina melalui kebiasaan “mendengar”, “melihat”, dan membangun hubungan personal dengan Tuhan. Amin, @novlymasriat.

    wpChatIcon