Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.
Hari Raya Penampakan Tuhan
Minggu, 4 Januari 2025Para majus yang mengikuti petunjuk bintang untuk bertemu dengan Yesus merupakan gambaran bangsa-bangsa di dunia yang sedang berziarah mencari Allah. Mereka mewakili “orang-orang asing”, bukan bangsa Yahudi, yang memiliki kerinduan untuk bertemu Tuhan karena mendengar kabar kelahiran Yesus Kristus. Berita kelahiran Yesus Kristus menjadi berita gembira bagi semua orang. Dalam pencarian untuk menemukan Tuhan, para majus menunjukkan tiga sikap penting, yaitu mata mereka terarah ke langit, kaki yang melangkah di bumi, dan hati yang tertunduk dalam penyembahan.
Pertama, mata yang terarah ke langit. Para majus memiliki krerinduan untuk bertemu dengan Tuhan yang hadir dalam diri Yesus. Mereka mengangkat kepala untuk mencari Tuhan atas tuntutan bintang di langit. Bintang yang dipandang merupakan petunjuk bagi para majus ini. Para majus membiarkan diri tetap memandang bintang untuk menemukan petunjuk dan kebijaksanaan dalam hidup. Sikap ini merupakan simbol keterbukaan diri kepada Tuhan. Kita memang berjalan di atas bumi, tetapi pandangan kita juga harus tetap ke atas, kepada Tuhan. Memandang ke langit mengisyaratkan keterarahan diri kepada Tuhan. Perjalanan hidup kita sebagai orang beriman adalah perjalan dalam persabatan dengan Tuhan.
Kedua, Para majus melangkah di bumi. Mereka pergi ke Yerusalem dan bertanya: “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Sebab kami telah melihat bintang-Nya di timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Satu hal penting: kaki mereka terhubung dengan kontemplasi. Bintang yang bersinar di langit mengutus mereka untuk menempuh jalan-jalan dunia. Dalam mencari Tuhan, kita jangan lupa menghidupkan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup kita di tengah-tengah bumi ini. Para majus, selain memandang ke atas, kaki mereka tetap melangkah di atas bumi. Hidup dalam tuntutan Tuhan menjadikan kita untuk lebih dekat dengan “bumi”. Iman akan Tuhan harus menuntun kita untuk tidak menghindari diri untuk berjumpa dengan sesama, terutama mereka yang susah, miskin, sakit, dan terpinggirkan; berani mengambil resiko untuk hidup dalam tantangan dunia ini.
Ketiga, hati para Majus tertunduk dalam penyembahan. Perjalanan para majus tidak tanpa tujuan. Arah dan tujuan mereka adalah bertemu Tuhan, tunduk dalam penyembahan kepada Tuhan. Ketika mereka bertemu dengan Yesus, mereka sujud menyembah Yesus. Persembahan yang mereka berikan kepada Yesus hendak menegaskan identitas Yesus: dengan emas mereka menyatakan bahwa Yesus adalah Raja; kemenyaan melambangkan ke-Allah-an Yesus, mur melambangkan pengorbanan Yesus. Tindakan penyembahan para majus ini mengajak kita untuk senantiasa bersyukur dan menyembah Tuhan. Pengalaman hidup kita harus menjadi sebuah persembahan syukur kepada Tuhan. Semua pencapaian hidup ini, termasuk kegagalan, harus tetap bersandar pada Tuhan. Ketika kita mengantar semua pengalaman itu kepada Tuhan, maka kita akan memperoleh rahmat untuk menemukan kasih Tuhan dalam semua pengalaman hidup kita. Selain itu, dalam hidup devosional, penyemabahan para majus ini juga mengajak kita untuk jangan lupa untuk mengadakan doa penyembahan (adorasi). @novlymasriat.















