Mrk. 6:14-29
Jumat, 6 Februari 2026
Dendam merupakan sikap batik yang terluka dengan keinginan untuk membalas. Perasaan dendam bila tidak diolah dengan baik maka akan menciptakan masalah yang berkepanjangan. Untuk itu dendam sering merupakan perasaan destruktif. Dendam tidak pernah akan menciptakan perdamaian. Ruang perdamaian tertutup ketika perasaan dendam masih menyelimuti hati setiap orang. Pengampunan membutuhkan belas kasih, bukan rasa dendam.
Kisah pembunuhan St. Yohanes Pembaptis sungguh didorong oleh rasa dendam. Herodes memerintahkan para prajuritnya untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis karena dorongan dari Herodias. Yohanes menegur Herodes yang menikahi Herodias, istri saudaranya. Teguran ini menimbulkan rasa dendam dan keinginan untuk membunuh Yohanes. Keinginan ini terpenuhi pada saat perayaan hari ulang tahun Herodes. Saat itu, Herodias menyuruh anak perempuannya untuk meminta kepala Yohanes pembaptis sebagai hadiah. Herodes pun menyanggupi itu (bdk. Mrk. 6:14-29).
Perasaan dendam sangat berpotensi untuk merusak dan melukai. Kesediaan untuk menerima kritik, dan melihat nilai positif di balik sebuah kritik merupakan jalan yang baik untuk membina hati kita. Kritikan Yohanes pembaptis sangat membangun. Dia mengoreksi perbuatan yang secara moral keliru. Namun ternyata Herodias tidak menerima itu. Herodias tidak mampu melihat nilai moral dibalik kritikan tersebut. Dia tidak mengubah diri, tetapi justru “membunuh seruan moral”. Tindakan pembunuhan ini pertama-tama berangkat dari rasa dendam.
Balas dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Balas dendam akan selalu memproduksi masalah. Untuk itu, mari kita belajar untuk menerima kritik, terutama kritikan yang menunjuk langsung pada perbuatan moral kita. Keterbukaan terhadap evuluasi demi perbaikan diri merupakan jalan untuk memperharui diri. Hidup yang menutup diri dari evualuasi demi kebaikan akan membuat kita hidup dalam zona yang sama. Kritik membantu kita untuk keluar dari zona nyaman. Selain itu, mari kita jangan menyimpan dendam. Rekonsiliasi tidak akan pernah terjadi ketika masih ada dendam. Hati yang menyimpan dendam tidak akan memberi ruang kedamaian. Paus Fransiskus, dalam ensiklik Frateli Tutti Kekerasan menghasilkan kekerasan, kebencian melahirkan lebih banyak kebencian dan kematian lebih banyak kematian. Kita harus memutus rantai yang tampaknya tak terelakkan ini (art. 227). Hal yang sama juga dengan balas dendam. Balas dendam akan menghasilkan juga balas dendam. Penerimaan dan kerelaan untuk dikoreksi dapat memutuskan mata rantai konflik dan keinginan untuk tetap balas dendam. @novlymasriat.














