DAILY WORDS, SENIN, 23 FEBRUARI 2026
PEKAN PRAPASKAH I,TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : IM 19: 1 – 2. 11 – 18
MAZMUR T : MZM 19: 8.9.10.15
INJIL : MAT 25: 31 – 46
@ Dalam Perjanjian Lama, khususnya di dalam kitab Imamat, Allah menyuruh Musa untuk mengabarkan kepada bangsa Israel agar mereka mengusahakan kekudusan diri mereka karena “yang akan datang dan bersemayam di antara mereka adalah ALLAH YANG KUDUS. Kekudusan itu hanya dicapai lewat “larangan-larangan” untuk menghindari hal-hal yang menodai seseorang. Pada tataran ini, larangan-larangan lebih berhubungan dengan keputusan suara hati seseorang untuk tidak melakukan sesuatu yang menodai dirinya. Larangan-larangan itu berupa: jangan mencuri, jangan berkata bohong, jangan berdusta, jangan bersumpah dusta demi nama Allah, jangan memeras sesama manusia, jangan menahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya, jangan mengutuk orang tuli, jangan menaruh batu sandungan di depan orang buta, jangan berbuat curang di pengadilan, adililah sesamamu dengan kebenaran, jangan pergi kian kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu, jangan mengancam hidup sesamamu, jangan membenci saudaramu di dalam hati, hendaknya berterus terang dalam menegur sesamamu, jangan datangkan dosa pada dirimu oleh karena dia, jangan menuntut balas, jangan menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, dan kasihilah sesamamu mansuia seperti dirimu sendiri.
@ Hemat saya, semua larangan di atas tersimpul pada suruhan: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (golden rule). Jika kita sungguh-sungguh mau mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri, maka dengan sendirinya kita tidak akan berbohong, tidak bersaksi dusta, tidak mencuri, tidak menfitnah orang lain, tidak menuntut balas, tidak menahan upah orang yang berhak mendapatkannya, tidak mengancam hidup orang lain dan dengan cara yang elegant menegur sesama yang bersalah kepada kita. Semua hal yang tidak diperbolehkan bagi kita untuk melakukannya pada orang lain tentu saja lahir dari “harapan yang sama” yang datang dari lubuk hati kita masing-masing, yaitu agar tidak diperlakukan demikian juga oleh sesama kepada diri kita.
@ Dalam Perjanjian Baru, dalam tulisan St. Matius – Penginjil, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya persyaratan-persyaratan untuk dapat masuk dalam kelompok domba-domba, yaitu kelompok yang diperkenankan untuk ada di hadirat YANG KUDUS, yaitu di hadirat Anak Manusia yang datang pada akhir zaman. Persyaratan-persyaratan yang Yesus sodorkan lebih mengarah pada perbuatan-perbuatan kasih yang konkrit: memberi makan orang-orang yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang, melawat yang sedang sakit, mengunjungi yang ada di penjara. Point penting yang Yesus tekankan adalah ketika kita memandang wajah YANG KUDUS dalam diri orang yang lapar, yang haus, yang telanjang, yang tak punya tumpangan, yang sakit dan yang ada di penjara. Ketika kita memperlakukan orang-orang lapar, haus, asing, sakit dan yang di penjara, dengan baik, kita sedang melakukannya terhadap Tuhan kita Yesus Kristus – DIA YANG KUDUS.
@ Pada masa Prapaskah ini, mari kita melihat kembali hidup kita di hari-hari kemarin. Sebagai imam, saya mengintrospeksi diri, apakah saya sudah menyiapkan diri saya dengan baik untuk menghadirkan dan atau berada di hadirat YANG KUDUS? Apakah saya sudah mengindahkan LARANGAN dan PERINTAH Tuhan di atas sebagai syarat untuk ada di hadirat-Nya YANG KUDUS? Pertanyaan yang sama tentu saja dapat dialamatkan kepada kita masing-masing. Tentu saja banyak dari kita yang sudah dengan caranya masing-masing, menyiapkan diri untuk dapat berada di hadirat YANG KUDUS. Mari kita saling mendoakan, semoga di masa Prapaskah – di hari-hari retret agung ini, kita dipacu untuk semakin giat dalam mengindahkan larangan dan perintah, baik yang kita simak dari Perjanjian Lama (kata-kata Musa) maupun Perjanjian Baru yaitu kata-kata Kristus sendiri. Have a good day filled with love and mercy. Warm greetings to you all. padrepiolaweterengsvd














