Advertisement

MENCERMATI PERBEDAAN SIKAP “CEPAT TANGGAP” ORANG NINIWE PADA ZAMAN NABI YUNUS DENGAN KAUM ELITE YAHUDI PADA ZAMAN YESUS

DAILY WORDS, RABU, 25 FEBRUARI 2026
PEKAN PRAPASKAH I, TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YUN 3: 1 – 10
MAZMUR T : MZM 51: 3 – 4. 12 – 13.18 – 19
INJIL : LUK 11: 29 – 32

@ Orang-orang Niniwe, mulai dari pimpinannya (raja) sampai rakyat jelata, semuanya cepat tanggap terhadap seruan nabi Yunus. Segera setelah mendengar jika empat puluh hari lagi, Niniwe akan ditunggang balikkan, mereka langsung mengumumkan puasa. Hal ini dilakukan secara massive. Baik orang dewasa maupun anak-anak mengenakan kain kabung – tanda pertobatan. Raja bahkan turun dari singgasananya dan menanggalkan jubahnya. Dengan berselubungkan kain kabung, raja duduk di atas abu. Ini tindakan yang sangat radikal. Raja dan para pembesarnya bahikan memerintahkan agar semua lapisan masyrakat termasuk ternaknya, tidak boleh makan dan berselubungkan kain kabung berseru dengan keras kepada Allah, menyatakan komitmen untuk bertobat dari hidup mereka yang jahat. Sungguh, orang-orang Niniwe cepat tanggap terhadap perintah Allah lewat seruan nabi Yunus. Mereka benar-benar takut (dalam arti positif) kepada Allah. Cukup dengan satu seruan dari nabi Yunus, semua langsung mengambil langkah “pertobatan”. Sikap cepat tanggap ini membuahkan sesuatu yang baik. Allah tidak lagi murka terhadap mereka. Tidak perlu banyak diskusi. Mereka juga tidak memerlukan banyak tanda atau mukjizat untuk taat pada perintah Allah melalui seruan nabi Yunus. Ini baru namanya “ takut akan Allah ”.

@ Berbeda dengan orang Niniwe, kaum “elite Yahudi di zaman Yesus” menunjukkan sikap hati yang tegar. Kaum elite Yahudi terdiri dari orang Saduki (kaum aristocrat, kaya dan berkuasa yang sebagian besar terdiri dari imam-iman kepala yang menguasai Bait Allah di Yerusalem; yang bekerja sama dengan pemerintah Romawi untuk mempertahankan posisi dan statu quo; yang menolak konsep kebangkitan orang mati, malaikat atau tradisi lisan), Orang Farisi (kelompok yang sangat dihormati oleh rakyat oleh karena ketaatan mereka pada Taurat dan hukum lisan, selalu menekankan hidup suci dan ajaran guru/rabi, dan punya pengaruh besar dalam masyarakat dan bahkan lembaga Sanhedrin), I mam Kepala dan Penatua (mereka yang memimpin Sanhedrin: Mahkamah Agama Tertinggi dan bertanggung jawab atas urusan operasional Bait Allah), Ahli Taurat (ahli hukum dan cendikiawan yang menguasai dan mengajarkan Taurat), Keluarga Herodes dan Elite Politik (herodians) yaitu pendukung raja Herodes dan pemerintah Romawi yang mempunyai kepentingan politik dan ekonomi. Melihat dan memahami “profil” kelompok-kelompok elite Yahudi di atas, dengan mudah kita mengerti bahwa hidup mereka berorientasi pada “mempertahankan status quo”. Dengan ini, kita semakin memahami jika mereka “ lebih taku t” atau “ memilih untuk menjilat ” pemerintah Romawi guna mempertahankan status quo. Apapun ajaran Yesus yang bertolak belakang dan bahkan mengekang ruang geraknya untuk memanipulasi hukum, dibantah atau ditolak oleh mereka. Pantas jika mereka selalu bertotak belakang dengan Yesus, figure yang sungguh ngotot mendobrak kemapanan. Mereka berkiat menghabisi Yesus oleh karena Dia membawa banyak pembaharuan dalam praktek hukum Taurat.

@ Bagi kaum “ elite Yahudi ”, mereka memilih untuk mempertahankan posisinya masing-masing dalam masyarakat. Mereka anti terhadap perubahan-perubahan yang dibawa oleh Yesus. Oleh karena ketegaran hati kaum “elite Yahudi” ini, mereka mengalami kesulitan untuk menerima Yesus sebagai Mesias – Utusan Allah yang datang untuk membawa kaum Israel dari penindasan para penjajah. Di sinilah letak “resistensi/penolakan ” kaum elite Yahudi terhadap kehadiran Yesus sebagai Mesias – Anak Allah. Dengan hati yang sudah dibentengi oleh kepentingannya masing-masing, mereka susah menerima Yesus sebagai Putera Allah meskipun mereka sendiri sudah menyaksikan banyak tanda dan mukjizat. Ketegaran hati mereka telah membutakan mata hatinya untuk memahami, menerima dan mengimani Kristus sebagai Mesias. Tidak ada lagi TANDA yang mempan untuk mata hati mereka. Semuanya “d ibutakan ” oleh napsu untuk mempertahankan “ status quo” .

@ Dari dua kelompok masyarakat yang berbeda di atas, kita tentu saja memilih untuk mengenakan semangat tobat orang-orang Niniwe. Kita mau bertobat secara sungguh-sungguh tanpa ada takut “ kehilangan posisi ”, tanpa harus “ menjilat ” pada orang atau pihak-pihat tertentu, dst. Di masa Prapaskah ini, saatnya bagi kita untuk “berbalik kepada Allah” dengan hati yang tulus dan dengan kehendak yang bebas, membuka mati hati kita untuk peka terhadap kehadiran Yesus, bukan hanya dalam Perayaan Sabda dan Perayaan Ekaristi Kudus, tetapi juga di dalam diri orang-orang miskin dan tertindas. Kita belajar “ peka dan cepat tanggap ” terhadap kehadiran Tuhan. Have a good day filled with love and kindness. padrepiolaweterengsvd

    wpChatIcon