DAILY WORDS, MINGGU, 01 MARET 2026
PEKAN PRAPASKAH II – TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : KEJ 12: 1 – 4a
MAZMUR T : MZM 33: 4 – 5. 18 – 19. 20. 22
BACAAN II: II TIM 1: 8b – 10
INJIL : MAT 17: 1 – 9
“ Jika anda berani melangkah keluar dari zona nyaman, maka anda akan mulai berubah dan bertumbuh .” Kata-kata ini merupakan pikiran bernas dari Andrew Nugraha, seorang motivator dan business coach. Kata-kata sang motivator ini setidaknya menggugah setiap orang, terlebih mereka yang sudah berada dalam zona nyaman, zona di mana tidak ada lagi tantangan dan rintangan yang menghadang, zona di mana seseorang sudah merasa betah dan tidak ingin diganggu, zona di mana seseorang cenderung mempertahankan status quo . Artinya, ketika seseorang sudah merasa nyaman pada posisinya atau pada tempatnya, nyaman dengan lingkungan dan orang sekitarnya, atau nyaman dengan apa pun yang sudah dikerjakan begitu lama, tentu saja perubahan adalah salib yang paling berat. Siapa yang rela memikul salib “ perubahan ” ini ketika dia sedang menikmati kenyamanan yang tiada duanya? Andrew Nugraha mengedepankan sifat “ berani ” sebagai qualitas diri yang dibutuhkan untuk dapat keluar dari zona nyaman.
Namun, sebagai orang beriman, saya merasa lebih pas jika kebenarian itu dilandasi dengan iman yang teguh dan penyerahan diri yang total. Hanya di dalam iman dan penyerahan diri yang total pada kehendak Allah, seseorang berani untuk “ keluar ” dari zona nyaman.
Kisah Bapa Abraham yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini merupakan sebuah kisah heroik – kisah seorang yang berani bertaruh. Hanya dalam iman dan penyerahan diri yang total pada kehendak Allah, Abraham rela meninggalkan negeri Haran termasuk meninggalkan sanak saudaranya dan rumah bapanya. Abraham pun tidak tahu kemana dia akan pergi. Yang dia yakini adalah kehendak Allah atas dirinya. Setelah mendengar panggilan dan perintah Tuhan atas dirinya, Abraham berangkat keluar dari Haran sesuai dengan firman Tuhan. Abraham tidak terikat pada kenyamanan yang diperoleh sejak dia lahir dan besar di Haran. Abraham pun tidak terikat atau tidak melekat erat dengan sanak saudara serta rumah ayahnya (simbol harta benda). Abraham menunjukkan satu sikap iman yang kuat serta kepasrahan yang total pada kehendak Allah.
Kisah Yesus berubah rupa di atas sebuah gunung merupakan kisah yang sarat makna bagi kehidupan iman kita. Petrus, yang bersama kedua murid yang lain, menyaksikan kemuliaan Tuhan Yesus yang sedang berbicara dengan Musa dan Elia, meminta untuk mendirikan tiga kemah. Permintaan ini mengisyaratkan satu keinginan atau kerinduan yang mendalam dari Petrus untuk tetap tinggal di atas gunung dan mengalami kenyamanan yang tiada taranya. Namun peristiwa penampakkan itu hanya sekejab saja, yang diikuti dengan suara Allah yang menegaskan siapa Yesus, Putera kekasih Bapa yang akan turun dari gunung Kemuliaan dan menjalani penderitaan hingga wafat di atas kayu salib. Namun salib bukanlah akhir dari segalanya. Melalui penderitaan dan salib, Yesus Kristus bangkit dan dimuliakan Bapa-Nya di dalam surga.
Baik pengalaman iman Abraham maupun kesaksian Yesus – Putera Allah, kita diajak untuk, di dalam iman akan kasih dan kebesaran Allah, berani keluar dari zona nyaman hidup kita, menghadapi salib/tantangan dan rintangan. Sekali kelak, kita akan mengalami kemuliaan bersama Bapa di dalam surga. Jika menginginkan mahkota mawar-mawar, jangan takut akan duri-durinya. Palma non sine pulvere (Tak ada kemenangan tanpa jerih payah) – Saepe creat molles aspera spina rosas .- (Terkadang, duri paling kasar menghasilkan bunga paling lembut.) Have a great Sunday filled with love and mercy. Warm greetings to you all – padrepiolaweterengsvd














