Pagi ini, Senin pekan Prapaskah III, rintik hujan dan angin yang tak bersahabat seolah ingin menguji keteguhan hati.
Namun, semangat St. Fransiskus Xaverius rupanya membakar jiwa Pastor Paroki bersama Ketua Rukun dan Baperus untuk melangkah, menembus dingin demi menjumpai domba-dombanya di Rukun Santo Aloysius Gonzaga.
Berikut adalah gema suara, rintihan, dan harapan yang terucap dari sudut-sudut rumah umat:
Suara Hati umat Rukun yang dikunjungi:
- Bapak Isaias Klise.
Ungkapan syukur atas keteguhan iman; meski fisik mungkin lelah, kehadiran Pastor adalah kekuatan yang memulihkan. - Bapak Hendrikus Saikmat.
Sebuah kerinduan akan bimbingan rohani di tengah pergumulan hidup yang berat, menanti jamahan doa dari sang Gembala. - Bapak Martinus Batmomolin.
Pengharapan agar keluarga tetap menjadi “Gereja Kecil” yang tangguh meski didera berbagai tantangan ekonomi dan sosial. - Ibu Apolonia Boin.
Rintihan seorang ibu yang membawa doa-doa bagi masa depan anak cucu, memohon berkat agar kasih Tuhan tak pernah lekang dari rumahnya. - Bapak Leonardus Sarmpumpwain.
Pengakuan akan kerapuhan diri dan rasa haru karena merasa tidak dilupakan oleh Gereja di saat cuaca buruk sekalipun. - Bapak Caspar Somar.
Harapan akan persatuan umat di rukun; bahwa kehadiran Pastor menjadi pengikat tali persaudaraan yang sempat merenggang.
Suara Pengorganisir
Ketua Rukun Aloysius Gonzaga:
”Kami hanyalah perpanjangan tangan Tuhan. Melihat air mata haru dan senyum umat saat pintu rumah diketuk oleh Pastor adalah upah rohani yang tak ternilai. Kami belajar bahwa melayani berarti siap basah dan siap lelah.”
Pesan Gembala: Pastor Paroki HKY Olilit Barat
Di penghujung kunjungan, dalam temaram lampu rumah dan suara hujan yang masih menderu, Pastor menyampaikan pesan penguatan:
Prapaskah adalah Perjumpaan: “Cuaca buruk pagi ini adalah simbol ujian hidup. Namun, seperti kita yang berhasil bertemu pagi ini, begitulah Tuhan selalu mencari kita, tak peduli seberapa lebat badai dalam hidup kalian.”
Meneladani St. Fransiskus Xaverius:
“Jangan pernah takut menjadi saksi Kristus. Jika Xaverius bisa menyeberangi lautan, maka kita harus bisa menyeberangi ego dan rasa malas kita untuk saling mengunjungi dan menguatkan.”
Keluarga Kudus sebagai Cermin:
“Jadikanlah rumah kalian tempat di mana nama Tuhan selalu disebut, tempat di mana rintihan hati berubah menjadi nyanyian syukur.” ( Rd Ponsio08)
















