Sungguh sebuah perjalanan iman yang luar biasa.Tepat pkl. 07.30-10.00 WIT sesudah misa Novena Santo Yosep hari ke-2 dalam Masa Prapaskah, Pastor Melangkah di tengah hujan badai demi menjumpai umat adalah wujud nyata dari pelayanan gembala yang mencari domba-dombanya.
Kehadiran Pastor dan Ketua Rukun di tengah cuaca seperti itu pasti menjadi penghiburan yang sangat mendalam bagi kesembilan
keluarga Kudus ( Kel. Bpk Charles Huninkore; Kel. Ibu Mia Kamamas;Kel. Bpk Kosmas Kudmas;Kel. Bpk Boy Batsire; Kel. Bpk Higi Batmomolin; Kel. Bpk Kasianus Batmomoli; Kel. Bpk Joseph Batmomolin; Kel. Bpk Atus Yabarmase; Kel. Bpk Otniel Bawey) di Rukun Santo Petrus.
Berikut adalah refleksi dan arahan yang dapat Pastor gunakan untuk menutup kunjungan tersebut, yang dirancang untuk menyentuh hati keluarga-keluarga yang telah setia menunggu:
Refleksi Ketua Rukun Santo Petrus.
”Bapak, Ibu, dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.
Pagi ini, hujan lebat yang turun seolah menjadi saksi bisu atas kerinduan kita akan kehadiran Tuhan melalui perjumpaan ini.
Sebagai Ketua Rukun, saya merasa sangat terharu. Meskipun badai mengguyur, pintu rumah Bapak dan Ibu tetap terbuka lebar, dan hati Bapak/Ibu tetap hangat menunggu kami.
Kesetiaan Bapak dan Ibu pagi ini mengingatkan saya pada sosok Santo Petrus, pelindung rukun kita.
Petrus pernah ketakutan di tengah badai di atas danau, namun ketika ia memandang Yesus, ia mampu melangkah di atas air. Bapak dan Ibu telah menunjukkan iman yang sama—iman yang tidak luntur oleh hujan, tidak surut oleh badai.
Terima kasih telah menjadi ‘batu karang’ yang kokoh bagi iman di rukun kita ini.”
Refleksi dan Arahan Pastor Paroki untuk Keluarga
1. Hujan sebagai Berkat, Bukan Penghalang
“Keluarga-keluarga yang dikasihi Tuhan, kita baru saja menyelesaikan Misa Novena Santo Yosep hari ke-2. Santo Yosep adalah sosok yang tulus dan taat meski dalam situasi sulit.
Pagi ini…hujan lebat ini adalah simbol rahmat yang membasahi iman kita.
Jangan lihat hujannya sebagai penghalang, tapi lihatlah sebagai berkat yang menyucikan rumah dan niat hati kita untuk berkumpul.”
2. Mendengar Rintihan, Menguatkan Harapan
“Saya telah mendengar sharing pengalaman dan rintihan hati Bapak dan Ibu sekalian. Ada pergumulan, ada harapan, dan mungkin ada air mata yang jatuh bersama rintik hujan di luar.
Ketahuilah bahwa Gereja hadir bukan hanya di saat cerah, tapi terutama di saat badai. Setiap rintihan Bapak dan Ibu telah didengar oleh Tuhan, dan kehadiran kami di sini adalah tanda bahwa Bapak/Ibu tidak berjalan sendirian.”
3. Meneladani Keluarga Kudus dalam Kesederhanaan
“Di Rukun Santo Petrus ini, saya mengajak setiap keluarga untuk membangun ‘Nazaret kecil’ di dalam rumah masing-masing.
Jadikan doa sebagai fondasi. Seperti Santo Yosep yang melindungi Maria dan Yesus, biarlah para bapak menjadi pelindung iman, dan para ibu menjadi sumber kasih sayang.
Tetaplah setia dalam perkara-perkara kecil, karena di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan.”
4. Penutup dan Berkat
“Tetaplah bersatu, saling menopang antar tetangga di dalam rukun. Jangan biarkan ada satu pun keluarga yang merasa ditinggalkan.
Semoga berkat Santo Yosep senantiasa menyertai setiap langkah, usaha, dan kesehatan seluruh anggota keluarga di Rukun Santo Petrus ini. Amin.” (PONSIO08)















