{"id":19793,"date":"2026-05-27T00:08:31","date_gmt":"2026-05-27T00:08:31","guid":{"rendered":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/?p=19793"},"modified":"2026-05-27T00:27:22","modified_gmt":"2026-05-27T00:27:22","slug":"ensiklik-magnifica-humanitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/","title":{"rendered":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam rangka memperingati lahirnya Ensiklik Rerum Novarum yang ke-135 dari Paus Leo XIII, Vatikan merilis ensiklik pertama dari Paus Leo XIV berjudul&nbsp;<em>Magnifica Humanitas: Tentang Melindungi Pribadi Manusia di Era Kecerdasan Buatan<\/em>&nbsp;(2026). Melalui ensiklik tersebut, Sri Paus menyerukan perlindungan kemanusiaan, promosi kebenaran, martabat kerja, keadilan sosial, dan perdamaian. Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Isabella Piro yang meringkaskan isi ensiklik tersebut melalui laman&nbsp;<a href=\"https:\/\/zenit.org\/2026\/05\/24\/pope-leo-xivs-encyclical-magnifica-humanitas-a-summary-in-english\/\">https:\/\/zenit.org\/2026\/05\/24\/pope-leo-xivs-encyclical-magnifica-humanitas-a-summary-in-english\/<\/a>, 24 Mei 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cUmat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala keagungannya, saat ini menghadapi pilihan penting: membangun Menara Babel baru atau membangun kota tempat Tuhan dan umat manusia tinggal bersama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-19794\" srcset=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1.webp 1024w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1-300x200.webp 300w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1-768x512.webp 768w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1-585x390.webp 585w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-1-1024x682-1-263x175.webp 263w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata-kata pembuka ensiklik pertama Paus Leo XIV, \u201cMagnifica humanitas: Tentang Melindungi Pribadi Manusia di Zaman Kecerdasan Buatan\u201d, merangkum alasan dan tujuan yang mendasarinya. Diterbitkan pada hari Senin, 25 Mei, Paus menandatangani ensiklik tersebut pada tanggal 15 Mei, peringatan ke-135 pengumuman&nbsp;<em>Rerum Novarum<\/em>&nbsp;Paus Leo XIII. Paus Leo XIV telah mengambil alih warisan pendahulunya, menulis ensiklik sosial yang membahas salah satu tantangan utama zaman kontemporer: kecerdasan buatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ensiklik Magnifica humanitas terbagi menjadi lima bab dengan memiliki premis yang mendasarinya: teknologi bukanlah \u201ckekuatan yang bertentangan dengan kemanusiaan\u201d (4), dan juga bukan \u201csecara inheren jahat\u201d (9). Namun, \u201cteknologi tidak pernah netral, karena teknologi mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya. Oleh karena itu, Paus Leo XIV menyerukan agar orang-orang membangun \u201cuntuk kebaikan bersama\u201d dan \u201ctetap menjadi manusia,\u201d mengikuti mentalitas yang berani tentang tanggung jawab bersama dan persekutuan, sehingga dunia \u201cakan mengenali hati manusia sebagai tempat di mana Tuhan ingin berdiam\u201d (16).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ajaran Sosial Gereja<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bab pertama\u2014\u201cPendekatan Dinamis yang Setia pada Injil\u201d\u2014menelusuri Ajaran Sosial Gereja dalam magisterium baru-baru ini dan Konsili Vatikan Kedua, menyoroti \u201ckarakter dinamisnya\u201d (17). Jauh dari sekadar \u201cbuku panduan prinsip dan norma yang harus diterapkan,\u201d ajaran sosial Gereja lebih merupakan \u201cteologi persekutuan dalam sejarah\u201d (27), yang membimbing pembacaan kita terhadap peristiwa-peristiwa dalam terang Injil. Paus Leo XIV mengingat tulisan para pendahulunya: dari Pius XII \u2013 yang pertama menggunakan ungkapan \u201cAjaran Sosial Gereja\u201d dalam Anjuran Apostolik Menti Nostrae tahun 1950 \u2013 hingga Paus Fransiskus. Ia mengingat Ensiklik Paus Leo XIII Rerum Novarum tahun 1891, yang \u201cmerupakan tonggak penting dalam perkembangan ajaran sosial Gereja\u201d (30). Pada tahun-tahun berikutnya, setiap penerus Petrus \u201cmenafsirkan perubahan sejarah sesuai dengan Injil, menyoroti berbagai aspek dari satu warisan tunggal: martabat pribadi, nilai kerja, tujuan universal barang, solidaritas dan subsidiaritas, kepedulian terhadap ciptaan dan sentralitas perdamaian dan persaudaraan\u201d (45).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Melindungi Martabat Manusia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bab kedua, Paus Leo XIV membahas \u201cDasar dan Prinsip Ajaran Sosial Gereja\u201d. Dasar-dasar ini, katanya, mencakup martabat pribadi, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Penting untuk mengingat hal ini karena \u201ctekanan ideologi baru atau kepentingan-kepentingan tertentu yang sangat kuat\u201d dapat mereduksi manusia menjadi \u201csumber daya yang digunakan dan dieksploitasi\u201d atau \u201cberdasarkan apa yang mereka capai atau hasilkan\u201d (51). Sebaliknya, \u201cmartabat mendasar setiap orang\u2026 tidak diperoleh atau didapatkan, dan tidak perlu dibenarkan\u201d (53).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Landasan kedua dari Doktrin Sosial Gereja adalah kekebalan hak asasi manusia, di antaranya yang pertama adalah hak untuk hidup \u201csejak konsepsi hingga akhir hayatnya.\u201d Dalam hal ini, Leo XIV mendefinisikan aborsi yang diinduksi, pembunuhan orang yang tidak bersalah, dan eutanasia sebagai \u201cpilihan yang dianggap Gereja sangat salah\u201d (55).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Landasan ketiga adalah pengakuan hak-hak minoritas, dengan perhatian khusus pada perempuan. Paus menyerukan \u201ckeputusan konkret\u201d yang menguntungkan mereka terkait hukum, pekerjaan, pendidikan, dalam tanggung jawab sosial dan politik, sehingga mereka benar-benar dapat didengar dan dihargai (57).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>\u2018Sangat Tidak Bermoral\u2019 untuk Menundukkan Suatu Bangsa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo XIV kemudian mengidentifikasi lima prinsip Doktrin Sosial Gereja. Yang pertama adalah kebaikan bersama, dan Paus mendefinisikannya sebagai \u201cekspresi sosial dari martabat yang diakui dalam setiap orang\u201d (59). Ia dengan tegas menyatakan bahwa \u201cpromosi kebaikan bersama tidak pernah dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap hak bangsa untuk eksis, untuk melestarikan identitas mereka sendiri dan untuk menyumbangkan kualitas unik mereka kepada keluarga bangsa-bangsa.\u201d Oleh karena itu, katanya, \u201csetiap upaya atau rencana untuk melenyapkan atau menundukkan suatu bangsa adalah sangat tidak bermoral dan oleh karena itu tidak dapat diterima\u201d (64).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"567\" src=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/el-papa-leon-xiv-emprendera-un-viaje-de-diez-dias-por-argelia-camerun-angola-y-guinea-ecuatorial-01-1024x567-1.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-19795\" srcset=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/el-papa-leon-xiv-emprendera-un-viaje-de-diez-dias-por-argelia-camerun-angola-y-guinea-ecuatorial-01-1024x567-1.webp 1024w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/el-papa-leon-xiv-emprendera-un-viaje-de-diez-dias-por-argelia-camerun-angola-y-guinea-ecuatorial-01-1024x567-1-300x166.webp 300w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/el-papa-leon-xiv-emprendera-un-viaje-de-diez-dias-por-argelia-camerun-angola-y-guinea-ecuatorial-01-1024x567-1-768x425.webp 768w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/el-papa-leon-xiv-emprendera-un-viaje-de-diez-dias-por-argelia-camerun-angola-y-guinea-ecuatorial-01-1024x567-1-585x324.webp 585w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Teknologi tidak boleh Berada di Tangan Segelintir Orang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus kemudian mengidentifikasi prinsip kedua dari \u201ctujuan universal barang.\u201d Pada titik ini, dan di bagian lain dari ensiklik, Paus Leo XIV menekankan perlunya memastikan bahwa teknologi tidak terkonsentrasi di tangan hanya beberapa orang, sehingga memperlebar kesenjangan antara mereka yang termasuk dan mereka yang dikecualikan dari revolusi digital (67). Prinsip ketiga, subsidiaritas (68), mengharuskan umat manusia untuk mengatasi \u201csegala bentuk pengelolaan kehidupan masyarakat yang paternalistik atau berbasis kesejahteraan\u201d demi tanggung jawab bersama. Solidaritas (73), prinsip keempat, adalah \u201csebuah prinsip dan kebajikan,\u201d kata Paus, seraya mencatat bahwa hal itu bertentangan dengan ketidakpedulian dan mempertimbangkan orang-orang dan generasi mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keadilan Sosial dan \u2018Uji Coba\u2019 Mengenai Migran<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keadilan sosial adalah prinsip kelima dari Ajaran Sosial Gereja. Di era digital, keadilan sosial membutuhkan jaminan akses yang adil terhadap kesempatan bagi semua orang, melindungi yang paling rentan, memerangi kebencian dan disinformasi, dan menundukkan penggunaan teknologi pada pengawasan publik, \u201csehingga prinsip panduannya bukan semata-mata keuntungan tetapi martabat setiap orang dan kebaikan bersama semua orang\u201d (80).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo XIV mengidentifikasi migran, pengungsi, dan orang-orang yang terlantar sebagai \u201cuji coba\u201d untuk keadilan sosial. Cara masyarakat memperlakukan migran, katanya, \u201cmengungkapkan apakah rasa keadilannya didorong oleh rasa takut atau oleh semangat persaudaraan.\u201d Oleh karena itu, ia menyerukan kepada masyarakat untuk melindungi \u201charapan yang sah\u201d dari mereka yang terpaksa pergi, dengan memastikan mereka jalur yang aman dan legal, sambutan yang bermartabat, dan jalan yang tulus menuju integrasi, sambil mempromosikan \u201chak untuk tetap tinggal\u201d di tanah air seseorang dalam damai dan aman, dengan mengatasi \u201cakar penyebab\u201d migrasi (81).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penyalahgunaan dan Pemeriksaan Hati Nurani oleh Gereja<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus mengatakan bahwa kelima prinsip ini harus diterapkan tidak hanya pada masyarakat, tetapi juga pada Gereja itu sendiri, yang dipanggil untuk melakukan \u201cpemeriksaan hati nurani.\u201d Paus mengatakan bahwa mewujudkan keadilan ini membutuhkan \u201cpemurnian hubungan dan struktur gerejawi dari distorsi yang menimbulkan ketidaksetaraan, kurangnya transparansi, dan penyalahgunaan kekuasaan.\u201d Ini berarti mendengarkan \u201cpara korban penyalahgunaan spiritual, ekonomi, institusional, seksual, dan berbasis kekuasaan, serta penyalahgunaan hati nurani.\u201d Pemeriksaan ini, katanya, \u201cmerupakan bagian integral dari perjalanan menuju keadilan, yang mencakup pengakuan atas kerugian yang telah dilakukan, ganti rugi yang adil, dan mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya terjadi lagi\u201d (89).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kode Etik untuk AI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bab ketiga\u2014Teknologi dan Dominasi. Keagungan Kemanusiaan dalam Terang Janji-janji AI\u2014menekankan perlunya mendekati kecerdasan buatan dengan kewaspadaan. Paus Leo memperingatkan tentang \u201cparadigma teknokratis\u201d yang telah dikecam oleh Paus Fransiskus dan bagaimana hal itu dapat mengharuskan setiap pilihan didikte secara eksklusif oleh pengukuran efisiensi dan keuntungan (92). Sebaliknya, teknologi yang paling canggih belum tentu yang terbaik. AI dapat meniru dan mensimulasikan manusia, tetapi ia tidak memiliki hati nurani moral, empati, atau kemampuan afektif, relasional, atau spiritual. Paus mendesak kejelasan tentang tanggung jawab dan akuntabilitas di setiap tahap proses pengembangan, dengan fokus pada kebijakan AI dan kerangka hukum yang memadai, pengawasan independen, dan pendidikan pengguna. Di atas segalanya, Paus Leo menyerukan kode etik yang tunduk pada standar keadilan sosial bersama, karena \u201cAI yang lebih bermoral saja tidak cukup jika moralitas itu ditentukan oleh segelintir orang\u201d (107). Ia menambahkan, dampak lingkungan dari teknologi baru juga tidak boleh diabaikan, karena teknologi tersebut membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar, yang memengaruhi ciptaan (101).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-1.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-19796\" srcset=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-1.webp 750w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-1-300x169.webp 300w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-1-585x329.webp 585w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Melucuti Senjata AI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AI harus \u201cdilucuti senjatanya,\u201d lanjut Paus Leo XIV, untuk membebaskannya dari mentalitas persaingan militer, ekonomi, dan kognitif. \u201cMelucuti senjata berarti mendiskreditkan asumsi bahwa kekuatan teknis secara otomatis memberikan hak untuk memerintah,\u201d katanya. \u201cMelucuti senjata bukan berarti menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi umat manusia\u201d (110). Ia mencurahkan banyak ruang untuk mengkritik transhumanisme dan posthumanisme, yang menafsirkan kemajuan sebagai mengatasi keterbatasan manusia. Sebaliknya, keterbatasan bukanlah kekurangan yang harus dihilangkan, tetapi dimensi konstitutif dari pribadi manusia, karena dalam kerapuhan dan keterbatasan itulah hubungan dan keterbukaan kepada Tuhan dan sesama menjadi matang. Ia mengatakan kita harus ingat bahwa \u201cumat manusia berkembang bukan meskipun ada keterbatasan, tetapi sering kali melalui keterbatasan itu sendiri\u201d (118).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kemajuan Teknologi Tanpa Kemunduran Hati<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengejar inovasi teknologi dengan mengorbankan penghapusan keterbatasan manusia, katanya, akan menyebabkan kemunduran antropologis. \u201cKemanusiaan\u2014dalam segala keagungan dan lukanya\u2014tidak boleh digantikan atau dilampaui,\u201d katanya. Teknologi dapat meringankan penderitaan umat manusia dan membuka kemungkinan baru, tetapi tidak boleh menyangkal esensi kemanusiaan, yaitu \u201ckapasitas kita untuk berhubungan dan mencintai\u201d (126). Dalam menghadapi AI, kata Paus, \u201calternatif yang sebenarnya bukanlah antara antusiasme dan ketakutan, tetapi antara dua jalur pembangunan: kemajuan yang melayani individu dan masyarakat, atau kemajuan yang menundukkan mereka pada mentalitas kekuasaan\u201d (129).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ekologi komunikasi dan sentralitas sekolah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bab keempat\u2014Melindungi Kemanusiaan di Masa Transformasi. Kebenaran, Kerja, Kebebasan\u2014Paus menyerukan \u201cekologi komunikasi\u201d yang berbasis pada kebenaran. Ia mendesak transparansi dalam pemilihan konten, perlindungan data pribadi, jurnalisme serius yang didasarkan pada argumentasi dan verifikasi, kesadaran baru dalam penggunaan alat digital yang \u201ctepat dan kritis\u201d, dan integrasi berbagai bentuk pengetahuan. Gereja juga harus mewujudkan komunikasi yang transparan dan jujur, terutama dalam kasus ketidakadilan dan penyalahgunaan. Paus juga menyerukan aliansi pendidikan yang diperbarui, agar \u201ckeinginan untuk bertanya\u201d tidak padam pada kaum muda oleh mesin-mesin sempurna yang membuat pemikiran manusia tampak tidak berguna (140). Oleh karena itu, Paus Leo XIV menyerukan perhatian yang diperbarui pada sekolah sebagai tempat orang belajar untuk \u201cmencari dan mencintai kebenaran\u201d (147).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Martabat Kerja<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam \u201crevolusi industri keempat\u201d yang diwakili oleh transisi digital, Paus menekankan pentingnya melindungi martabat kerja dengan merancang sistem yang berpusat pada pribadi dan bukan hanya pada kinerja. \u201c\u2019Cara kerja baru\u2019 belum tentu lebih baik,\u201d tulisnya, \u201csementara AI menjanjikan peningkatan produktivitas dengan mengambil alih tugas-tugas rutin, AI sering memaksa pekerja untuk beradaptasi dengan kecepatan dan tuntutan mesin, daripada mesin yang dirancang untuk mendukung mereka yang bekerja\u201d (150). Teknologi tentu dapat membebaskan manusia dari tugas-tugas yang memberatkan atau berulang, tetapi teknologi tidak boleh menyebabkan pengangguran atas nama pengurangan biaya dan peningkatan keuntungan. Dalam hal ini, Paus mengungkapkan harapannya untuk pembaruan organisasi buruh (155).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perdamaian dan Pembangunan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo kemudian mencatat perlunya melampaui PDB sebagai ukuran tingkat pembangunan suatu negara, dan lebih fokus pada martabat kerja, kemakmuran bersama, pengurangan ketidaksetaraan, dan perlindungan lingkungan. Keuangan, katanya, harus fokus pada pengembangan, penciptaan, dan evolusi pekerjaan (159-160). Mengikuti jejak Paus Santo Paulus VI, ensiklik ini menggarisbawahi saling ketergantungan antara perdamaian dan pembangunan. Ensiklik ini menyerukan kerja sama internasional yang mampu mendefinisikan strategi bersama, terutama untuk negara dan kelompok yang paling rentan, karena kemakmuran berkontribusi pada perdamaian \u201chanya jika tersebar luas, inklusif, dan berkelanjutan\u201d (163).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keluarga, \u201cKebaikan Sosial Utama\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus menjunjung tinggi peran keluarga, dengan mengatakan bahwa keluarga didasarkan pada persatuan yang stabil antara seorang pria dan seorang wanita. Keluarga adalah \u201ckebaikan sosial utama\u201d dan \u201csel fundamental dan tak tergantikan dari setiap organisasi masyarakat\u201d (165), yang harus didukung, termasuk melalui kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung stabilitas dan ritme yang manusiawi, sehingga melindungi kemampuan masyarakat untuk \u201cmembangun masa depan.\u201d \u2018<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Arsitektur Visibilitas\u2019 dan Risiko bagi Kebebasan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo XIV kemudian membahas tema kebebasan manusia di era ketika platform digital dirancang untuk merebut waktu pengguna dan mengeksploitasi kerentanan mereka. Ia menegaskan kembali perlunya memperkuat kebebasan batin setiap orang, sekaligus menghadapi risiko kontrol sosial yang muncul dari pengumpulan data massal dan penggunaan sistem algoritmik. Pembuatan profil, prediksi, dan pengarahan perilaku, katanya, adalah \u201cbentuk kekuasaan baru\u201d (171) yang berisiko mendiskriminasi yang terlemah. Paus secara khusus mengkritik \u201carsitektur visibilitas,\u201d yang hanya memperkuat apa yang terlihat dan membentuk opini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bentuk-Bentuk Perbudakan dan Kolonialisme Baru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AI juga menghasilkan bentuk-bentuk perbudakan baru, seperti perbudakan tubuh yang \u201cterluka, cedera, dan lelah\u201d (173) dari mereka yang bekerja dalam ekstraksi \u201cunsur tanah jarang\u201d yang dibutuhkan untuk teknologi. Oleh karena itu, Paus menegaskan pentingnya memerangi bentuk-bentuk perbudakan baru sebagai \u201cujian penting lainnya untuk kebijaksanaan etis\u201d dalam transformasi digital. Paus Leo XIV menekankan bahwa \u201cGereja memperbarui kecaman tegasnya terhadap setiap bentuk perbudakan, perdagangan manusia, dan komodifikasi manusia\u201d dan ia menggarisbawahi bahwa tidak bereaksi atau mentolerir pelanggaran berat terhadap martabat manusia berarti menjadi kaki tangan mereka. Pada saat yang sama, Paus \u201cdengan tulus meminta maaf\u201d atas keterlambatan Gereja di masa lalu dalam mengutuk \u201cmalapetaka perbudakan\u201d (174-176). Ensiklik ini juga merujuk pada informasi vital\u2014misalnya, tentang kesehatan dan demografi\u2014yang digunakan untuk memandu strategi ekonomi. Ia menyebut ini sebagai wajah baru kolonialisme yang mengubah kehidupan pribadi menjadi informasi yang dapat dieksploitasi, menjadikan lingkungan digital sebagai \u201cruang eksploitasi\u201d (178-179).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengatasi Teori \u2018Perang yang Adil\u2019<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bab kelima\u2014Budaya Kekuasaan dan Peradaban Kasih\u2014Paus Leo XIV mengarahkan pandangannya pada perang, dengan mengatakan \u201crevolusi digital mengubah sifat konflik.\u201d Paus menyerukan pendekatan etis, yang tanpanya keputusan tentang hidup dan mati seseorang akan menjadi semakin impersonal karena penggunaan kekerasan yang dianggap sebagai \u201cpilihan langsung dan layak\u201d (182-183). Akar dari semua ini adalah \u201cbudaya kekuasaan\u201d yang menormalisasi perang dan merehabilitasinya sebagai \u201cinstrumen politik internasional,\u201d yang mendukung persenjataan kembali. Saat ini, katanya, opini publik dibebani oleh narasi media yang terpolarisasi, serta oleh \u201chilangnya ingatan sejarah yang mengkhawatirkan,\u201d yang membuat orang-orang tanpa visi jangka panjang (191). Akibatnya, katanya, perdamaian saat ini tidak lagi dipahami sebagai tugas yang harus dilakukan, tetapi sebagai jeda antara konflik. Karena alasan ini, Paus Leo XIV menegaskan kembali bahwa\u2014sambil tetap menjaga hak untuk membela diri secara sah dalam arti yang paling ketat\u2014teori \u201cperang yang adil\u201d harus diatasi, dan dialog, diplomasi, dan pengampunan harus dipromosikan sebagai gantinya (192).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Algoritma tidak Membuat Perang dapat Diterima Secara Moral.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo mengkritik pertumbuhan industri persenjataan, perlombaan senjata nuklir, dan munculnya aktor bersenjata baru\u2014termasuk kelompok jihadis\u2014yang bertujuan untuk melanggengkan konflik sebagai sumber kekuasaan dan keuntungan. Ia juga memperingatkan terhadap penggunaan senjata yang terkait dengan AI, karena \u201ctidak ada algoritma yang dapat membuat perang dapat diterima secara moral.\u201d Paus menulis, \u201cAI tidak menghilangkan ketidakmanusiaan intrinsik dari konflik; bahkan, AI hanya dapat mempercepat terjadinya konflik dan membuatnya lebih impersonal, menurunkan ambang batas untuk menggunakan kekerasan, mengubah pertahanan menjadi prediksi ancaman, dan dengan demikian mereduksi korban menjadi data. Dengan cara ini, AI akan membiasakan kita pada gagasan bahwa kekerasan tidak dapat dihindari dan hanya perlu dioptimalkan.\u201d Paus mendesak batasan etika yang ketat, yang dianut di tingkat internasional dan didasarkan pada tanggung jawab pribadi dan perlindungan warga sipil. \u201cTeknologi apa pun yang memfasilitasi serangan tanpa melihat wajah manusia menurunkan ambang batas moral konflik\u201d (199).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-2-1.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-19797\" srcset=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-2-1.webp 750w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-2-1-300x169.webp 300w, https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/papa-leon-con-moderadores-de-asociaciones-catolicas-de-fieles-de-movimientos-y-nuevas-comunidades-eclesiales-2-1-585x329.webp 585w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Krisis Multilateralisme<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budaya kekuasaan juga muncul dari krisis multilateralisme dan munculnya \u201cmultipolarisme yang kacau dan penuh konflik\u201d dengan rasa ketidakpercayaan yang dominan (201). Paus menyesalkan bahwa supremasi hukum telah digantikan oleh hukum yang terkuat, sementara logika kekuasaan mengalahkan pembangunan perdamaian dan lembaga-lembaga yang didirikan untuk melindungi nasib bersama bangsa-bangsa kini telah melemah. Dalam hal ini, Paus berharap akan adanya \u201creformasi mendalam\u201d PBB yang dapat mengatasi krisis nilai-nilai saat ini demi kebaikan bersama (226).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Realpolitik yang Tidak Bertanggung Jawab<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ensiklik tersebut mencatat bahwa saat ini perang \u201chibrida\u201d juga terjadi \u201cdi bidang ekonomi, keuangan, dan siber, di mana disinformasi dan kampanye yang memicu ketakutan masyarakat digunakan untuk memanipulasi opini publik\u201d sehingga peningkatan pengeluaran militer dipandang sebagai \u201csatu-satunya respons\u201d terhadap masa depan yang tidak pasti. Namun semua ini hanyalah \u201crealisme palsu\u201d, Realpolitik yang tidak bertanggung jawab yang menabur dalam hati nurani dan budaya masyarakat sikap pasrah terhadap perang yang tak terhindarkan dan menggambarkan perdamaian sebagai utopia (204-205). Ia mencatat bahwa ada kemungkinan beberapa orang \u201cmungkin menganggap konflik bersenjata sebagai cara efektif untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik dan alat sinis untuk mengatasi kesulitan\u201d (208).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Peradaban Kasih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata Paus Leo, umat Kristen dipanggil untuk menanggapi budaya kekuasaan dengan membangun \u201cperadaban kasih\u201d dan dengan memilih apakah akan memberi makan logika kekerasan atau menjaga perdamaian. Ia mengingat kembali kenangan para santo, \u201corang-orang saleh dan para pembawa damai yang sering dilupakan, menunjukkan kepada kita bahwa rahmat tidak secara ajaib menghilangkan konflik, tetapi sebaliknya menginspirasi perlawanan aktif terhadap kejahatan dan kreativitas yang menakjubkan dalam berbuat baik\u201d (211). Paus menunjukkan lima jalan tanggung jawab, yang meliputi melucuti kata-kata dengan mengatakan kebenaran; membangun perdamaian dalam keadilan; mengadopsi perspektif korban dengan mengambil sikap, karena ada konflik di mana \u201ctidak adil untuk tetap netral\u201d; menumbuhkan \u201crealisme yang sehat\u201d yang mencari jalan perdamaian yang praktis melalui perbuatan, bukan hanya kata-kata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pentingnya Dialog Antaragama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya, meluncurkan kembali dialog dengan beralih dari budaya kekuasaan ke budaya negosiasi adalah Hal ini disoroti. Dan yang sangat penting adalah \u201cdialog antaragama\u201d, sebagai pembawa pesan perdamaian. Ia menulis bahwa \u201cmereka yang menggunakan nama Tuhan untuk melegitimasi terorisme, kekerasan, atau perang mengkhianati hakikat-Nya yang sebenarnya, karena berperang atas nama agama berarti menyerang agama itu sendiri\u201d (223). Diplomasi Takhta Suci, catatnya, \u201cmengadopsi prinsip belas kasihan Injil sebagai kriteria konkret untuk tindakan politik.\u201d Dan dari sinilah muncul seruan untuk berdoa, karena perdamaian terutama berasal dari Tuhan (227-228).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keagungan Umat Manusia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada penutup ensiklik pertamanya, Paus Leo XIV mengajak umat beriman untuk menavigasi era teknologi baru ini dalam terang Injil, mengikuti \u201cprogram kehidupan Kristen yang bijaksana namun menuntut.\u201d Bahkan di zaman AI, Paus menyimpulkan, \u201cKita dapat menjadi saksi keagungan umat manusia, di mana Tuhan telah berdiam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Poka, 26 Mei 2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PCF<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam rangka memperingati lahirnya Ensiklik Rerum Novarum yang ke-135 dari Paus Leo XIII, Vatikan merilis ensiklik pertama dari Paus Leo XIV berjudul&nbsp;Magnifica Humanitas: Tentang Melindungi Pribadi Manusia di Era Kecerdasan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19798,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[110,67,22],"tags":[],"class_list":["post-19793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kepausan","category-kwi","category-vatikan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"%\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"%\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Keuskupan Amboina\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/keuskupanambon\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-27T00:08:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-27T00:27:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"885\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Leonardus Ansis\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Leonardus Ansis\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Leonardus Ansis\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/97bf18f440403024be6f363cd6cb0071\"},\"headline\":\"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS\",\"datePublished\":\"2026-05-27T00:08:31+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-27T00:27:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/\"},\"wordCount\":2674,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp\",\"articleSection\":[\"Kepausan\",\"KWI\",\"Vatikan\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/\",\"name\":\"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp\",\"datePublished\":\"2026-05-27T00:08:31+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-27T00:27:22+00:00\",\"description\":\"%\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp\",\"width\":1600,\"height\":885},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/ensiklik-magnifica-humanitas\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/\",\"name\":\"Keuskupan Amboina\",\"description\":\"Duc In Altum\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"Keuskupan Amboina\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#organization\",\"name\":\"Amboina Diocese\",\"alternateName\":\"Amboina Diocese\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Coat_of_arms_of_Seno_Inno_Ngutra.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Coat_of_arms_of_Seno_Inno_Ngutra.png\",\"width\":404,\"height\":528,\"caption\":\"Amboina Diocese\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/keuskupanambon\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/97bf18f440403024be6f363cd6cb0071\",\"name\":\"Leonardus Ansis\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750\",\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750\",\"caption\":\"Leonardus Ansis\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/keuskupanamboina.or.id\\\/ducinaltum\\\/author\\\/leonardus-ansis\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina","description":"%","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina","og_description":"%","og_url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/","og_site_name":"Keuskupan Amboina","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/keuskupanambon\/","article_published_time":"2026-05-27T00:08:31+00:00","article_modified_time":"2026-05-27T00:27:22+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":885,"url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Leonardus Ansis","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Leonardus Ansis","Est. reading time":"13 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/"},"author":{"name":"Leonardus Ansis","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#\/schema\/person\/97bf18f440403024be6f363cd6cb0071"},"headline":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS","datePublished":"2026-05-27T00:08:31+00:00","dateModified":"2026-05-27T00:27:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/"},"wordCount":2674,"publisher":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","articleSection":["Kepausan","KWI","Vatikan"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/","name":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS - Keuskupan Amboina","isPartOf":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","datePublished":"2026-05-27T00:08:31+00:00","dateModified":"2026-05-27T00:27:22+00:00","description":"%","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#primaryimage","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","contentUrl":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","width":1600,"height":885},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/ensiklik-magnifica-humanitas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#website","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/","name":"Keuskupan Amboina","description":"Duc In Altum","publisher":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#organization"},"alternateName":"Keuskupan Amboina","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#organization","name":"Amboina Diocese","alternateName":"Amboina Diocese","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Coat_of_arms_of_Seno_Inno_Ngutra.png","contentUrl":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Coat_of_arms_of_Seno_Inno_Ngutra.png","width":404,"height":528,"caption":"Amboina Diocese"},"image":{"@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/keuskupanambon\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/#\/schema\/person\/97bf18f440403024be6f363cd6cb0071","name":"Leonardus Ansis","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/litespeed\/avatar\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750","url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/litespeed\/avatar\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750","contentUrl":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/litespeed\/avatar\/1426851ffe57601af1cda2da8fd05896.jpg?ver=1780498750","caption":"Leonardus Ansis"},"sameAs":["https:\/\/keuskupanamboina.or.id"],"url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/author\/leonardus-ansis\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/published-on-monday-may-25-the-pope-signed-the-encyclical-on-may-15-the-135th-anniversary-of-the-promulgation-of-pope-leo-xiiis-rerum-novarum-01.webp","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19793"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19793\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19799,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19793\/revisions\/19799"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19798"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/keuskupanamboina.or.id\/ducinaltum\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}