Home » BELAJAR MENAKAR TINDAKAN MANUSIADENGAN MENGENAKAN KACAMATA “KEBAIKAN & BELASKASIH” ALLAH

BELAJAR MENAKAR TINDAKAN MANUSIADENGAN MENGENAKAN KACAMATA “KEBAIKAN & BELASKASIH” ALLAH

by Leonardus Ansis
0 comments

DAILY WORDS, MINGGU, 20 SEPTEMBER 2026
PEKAN BIASA XXV – TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YES 55; 6 – 9
MZM T : 145: 2 – 3. 8 – 9. 17 – 18
BACAAN II : FLP 1: 20c – 24. 27a
INJIL : MAT 20: 1 – 16

Baru-baru ini, di kota kami, ada orang yang hilang ketika sedang melaut. Meski telah berhari-hari kaum keluarga dan sahabat bergotong royong mencari bersama team BASARNAS, toh korban belum juga ditemukan. Banyak spekulasi yang dihembuskan seputar hilangnya korban. Mirisnya, ada yang bercerita jika si korban adalah orang yang pernah melakukan kesalahan ini dan itu sehingga oleh karena pergumulan orang-orang yang dirugikan oleh korban selama masa tugasnya, dia akhirnya mengalami musibah. Hmmm, inikah sosok Allah yang kita imani? Sesadis inikah Tuhan yang menciptakan kita dan mengutus Putera-Nya untuk menebus dosa-dosa kita? Jika Yesus masih hidup sampai saat ini di kota kami, apa kira-kira komentar-Nya atas spekulasi di atas?
Spekulasi tentang hilangnya korban sebenarnya mencerminkan cara pandang orang tentang siapa Allah bagi mereka. Mungkin mereka memandang Allah sebagai hakim yang kejam, yang menjalankan hukum Hammurabi – gigi ganti gigi, mata ganti mata -, yang menerapkan hukum retribusi yang bersifat barter: beta tukar satu potong daging ikan paus dengan satu sisir pisang. Kebaikan ditukarkan dengan kebaikan, kejahatan ditukarkan dengan kejahatan. Tidak ada “ ruang pertobatan dan pengampunan” bagi yang mengimani sosok allah yang demikian.
Pada hari ini, melalui nubuatnya, nabi Yesaya mengedepankan kepada kita sosok Allah yang memberi pengampunan dengan limpah. Allah mengandalkan “keadilan” yang bernuansa belaskasih. Cara pandang Allah berbeda dengan cara pandang manusia. “ Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” (Yes 55: 8). Yesus menegaskan hal ini lewat satu perumpamaan yang kedengarannya sangat ekstrim. Masakan orang yang datang lebih dahulu di pagi hari, mendapat upah yang sama satu dinar dengan orang yang datang paling kemudian di sore hari? Tentu saja hal ini membawa rasa ketidak-adilan bagi mereka yang datang lebih dahulu. Itulah ukuran yang manusia pakai untuk mengukur setiap pekerjaan dan perbuatannya. Datang pagi ya mestinya bayar lebih, datang kemudian di sore hari, ya harus bayarannya lebih kecil.
Hal di atas tidak berlaku bagi Allah. Yesus menegaskan bahwa Allah Bapa tidak memperhitungkan berapa lama seseorang telah mengenal Dia. Entah sejak masa muda dia sudah mengenal Allah maupun pada usia senja dia baru mengenal Allah, hak prerogative ada pada Allah yang menganugerahkan keselamatan kepada semua yang bertobat. Pada prinsipnya, keselamatan adalah ANUGERAH ALLAH semata. Manusia tidak bisa menjadi IRI HATI pada keputusan Allah. Dia memutuskan dengan landasan hukum BELASKASIH. Allah memperhaikan kita semua secara sama tanpa membeda-bedakan derajad, pangkat, maupun kedudukan. Di mata Allah, kita semua sama kedudukannya. Allah tidak pernah memprioritaskan mereka yang datang lebih dahulu di pagi hari dan menyepelehkan mereka yang datang kepada-Nya lebih kemudian di sore hari.
Tentu saja sebagai pengikut Kristus, kita pun diajak untuk menghidupi semangat atau spiritualitas belaskasih Allah. Hal ini tidak mudah bagi kita untuk bersaksi di tengah dunia yang sangat menampakkan wajah Allah sebagai hakim yang kejam. Kita tentu akan mendapat banyak tantangan. Seperti Rasul Paulus, kita tetap maju bersaksi tentang kebaikan dan belaskasih Allah dengan prinsip, “ bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan._ ” Apapun tanggapan dunia atas kebaikan dan belas kasih yang kita tabur, kita tetap maju memberi kesaksian yang benar. Tuhan memberkati! Have a wonderful and blessed Sunday filled with love and forgiveness. My warm greetings to you from Masohi manise…. padrepiolaweterengsvd

You may also like