
HKY PUNG CARITA: BERBAGI KASIH UNTUK 32 ANAK HEBAT
Kamis, 24 September 2026
REFLEKSI: Tuhan, Kekosongan Hidup, dan Kasih yang Nyata
āKisah sederhana dari Misa Harian dan Novena Santo Padre Pio hari ke-4 di Paroki HKY ini menjadi cermin jernih dari ajaran Injil Lukas 9:7-9.
Dalam Injil tersebut, Raja Herodes mengalami kecemasan dan kekosongan batin. Ia mendengar segala peristiwa hebat tentang Yesus, tetapi hatinya dipenuhi keraguan dan kebingungan. Herodes hanya ingin “melihat” Yesus karena rasa penasaran, bukan karena kerinduan hati untuk diubah oleh kasih-Nya. Kekosongan Herodes adalah gambaran dari jiwa yang tidak memiliki ruang bagi Allah, meski ia berada di puncak kekuasaan.
āDi sisi lain, kisah 32 anak hebat ini menunjukkan cara terbaik untuk mengisi kekosongan hidup:
- āKesetiaan dalam Hal-Hal Kecil
Anak-anak seperti Darios, Ongen, dan kawan-kawan yang setia hadir Misa pagi, Novena, serta melayani sebagai Misdinar, Lektor, dan Pemazmur, mengajarkan bahwa kehadiran Tuhan dialami dalam kesetiaan harian. Kekosongan jiwa tidak diisi dengan hal-hal megah, melainkan dengan ketekunan mendekatkan diri pada altar-Nya.
- āKasih yang Mengabdi dan Berbagi
Seperti teladan Santo Padre Pio yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani sesama dengan Kasih Kristus, tindakan Pastor Paroki memberikan uang transportasi dan jajan kepada anak-anak ini adalah bentuk nyata dari berbagi kasih. Kristus tidak pernah membiarkan orang yang datang kepada-Nya pulang dengan tangan hampa. Perhatian kecil ini menyentuh hal paling manusiawi: memberi dorongan semangat bagi generasi muda agar terus melangkah.
- āInspirasi untuk Kita
Herodes bertanya-tanya siapa Yesus, sementara anak-anak ini memilih untuk meninggal di dalam rumah-Nya dan melayani-Nya. Kekosongan hidup yang sering kita rasakan dalam rutinitas harian hanya bisa terisi ketika kita bersedia terlibat aktif dalam karya Tuhan dan membuka tangan untuk berbagi bagi sesama.
ā”Berdoalah, berharaplah, dan jangan khawatir. Kecemasan tidak ada gunanya. Allah itu murah hati dan pasti mendengarkan doamu.”
ā Santo Padre Pio
Ratu Norkit Monuk Dedesar.
Ubilaa Naflahar Ita Didtinemun.
Kidabela.
SALVE.