Home Ā» KEBAIKAN ALLAH ITU TAK DAPAT KUBARTER DENGAN APA PUN

KEBAIKAN ALLAH ITU TAK DAPAT KUBARTER DENGAN APA PUN

by Leonardus Ansis
0 comments

DAILY WORDS, KAMIS, 07 OKTOBER 2026
PEKAN BIASA XXVII – TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I: GAL 3: 1 – 5
MAZMUR T: LUK 1: 69 – 75
INJIL: LUK 11: 5 – 13

Kabut asap akibat kebakaran hutan di wilayah Papua Barat, pulau Seram dan pulau-pulau sekitarnya membersitkan pesan ini: alam pun ikut dalam dukacita keluarga Lelawerang – Ilewutun, desa Baopana, Tanahtereket – Lembata. Air mata kami belum bisa bendung, meskipun pasokan semakin berkurang seiring mengeringnya mata air oleh karena kemarau panjang yang sedang melanda wilayah Indonesia pada umumnya. Hati-ku dan hati semua warga masyarakat Baopana di mana pun berada, sungguh teriris oleh tragedi yang dasyat ini. Lima nyawa para ibu – pejuang yang tak kenal lelah, melayang dengan cara yang tragis. Sembilan korban luka-luka masih dirawat, baik di rumah sakit maupun di rumahnya masing-masing. Adik Arnoldus Telele Lengari – the driver, yang nota bene anggota keluarga kami sendiri, harus mendekap di tahanan POLRES Lembata. Sungguh, inilah kabut asap penderitaan yang sedang menyelimuti nubari keluarga besar yang kehilangan orang-orang terkasih: mama Moni, Tata Maria, Tata Magi, teman kelas Yohana Uri dan anak Kewa Lamataro.

Kabut itu terasa semakin tebal menyelimuti hati kami ketika memikirkan alasan perjalanan pendakian melalui jalur maut dan siapa saja yang mereka tinggalkan sekarang ini. Mereka pergi dalam tawa ria karena diberi kesempatan untuk mengais rejeki lewat panenan kebun kemiri. Semuanya demi menyekolahkan anak, membiayai wisuda anak, dan persiapan tahbisan imam anak yang sekarang sebagai seorang diakon yang siap ditahbiskan pada tahun mendatang (tinggal menghitung bulan). Sadis! Menyakitkan! Luka yang tak terperikan! Piluh! Sedih! Semua perasaan tercampur baur tak menentu.

Ekspresi perasaan di atas menjadi lebih paradoksal (kontradiktoris/berlawanan) ketika saya hadapkan dengan gambaran tentang ā€œAllah yang Maha Baikā€ yang sungguh mengasihi umat kesayangan-Nya. Kalau Allah itu baik, mengapa Dia membiarkan tragedi itu terjadi atas keluargaku? Mengapa Dia membiarkan ibu-ibu pencari nafkah ini meninggal dunia secara tragis.

Terhadap pertanyaan eksistensial di atas, saya coba membuat sebuah monolog sebagai bagian dari pergumulanku mencari pegangan untuk menjalani dukacita ini. Ya Allah itu baik. Kebaikan Allah itu melampaui kekurangan dan keterbatasan manusiawi-ku. Dia Maha Baik dan karena itu Dia merelakan Putera-Nya menanggung derita untuk penebusan dosa kita. Atas kasih dan kebaikan Allah dalam peristiwa inkarnasi ini, saya yakin Allah tidak membiarkan tragedi itu terjadi. Dia telah menganugerahkan manusia, akal budi untuk dipakai dalam menjalani hidup dan mengusahakan sesuatu untuk memperpanjang hidup (cari nafkah). Dalam mencari nafkah, kita tetap mengggunakan akal budi untuk mensiasati setiap jalan atau cara yang tidak beresiko.

Mengikuti alur berpikir di atas, saya boleh katakan bahwa keluargaku kurang waspada. Mereka telah mengambil cara yang penuh resiko dengan mengendarai sebuah dum truck bermuatan pasir tiga bucket dan air dalam beberapa jeregen (40 liter per-jeregen) plus 14 penumpang dan seorang driver untuk menaklukan pendakian yang curam? Jawaban yang saya peroleh, ā€œIni bukan hal baru. Mereka sudah biasa bepergian dengan cara demikian (pendakian dengan dum truck bermuatan material dan manusia).ā€ Kata keluarga-ku. Ya, mungkin karena ā€œkebiasaanā€ akhirnya menyebabkan keluargaku kurang waspada.

Hmm, kembali lagi pada common sense /akal sehat. Tuhan memberi kita akal budi untuk tidak melanggar TATATANAN – hukum alam dan akal sehat yaitu mengendarai dum truck bermuatan berat di pendakian itu mungkin dilarang – dikurangi – diwaspadai. Hukum tatanannya adalah ketika kita bergerak melawan gravitasi, resikonya adalah JATUH. Allah yang Maha Baik menghendaki agar kita tidak melakukan sesuatu yang melawan tatanan. Dia yang Maha Baik menghendaki agar kita mengikuti perintah-Nya yaitu menjaga tatanan yang sudah diatur-Nya. Di luar itu, bakal terjadi sesuatu yang bukan merupakan tanggung jawab Allah melainkan kelalaian manusia (melawan tatanan).

Tatanan yang saya maksudkan di atas lebih mengarah kepada ā€œhukum alamā€. Namun, ada banyak tatanan yang ada di dalam hidup ini. Ada tatanan adat istiadat/ sosial-kultural, ada tatanan religius. Dari segi sosio – kultural, mungkinkah keluargaku melanggar tatanan adat istiadat yang berimbas pada tragedi ini? Saya tidak berani mengklaim ini sebagai sebuah kemungkinan penyebab kecelakaan. Kalau pun mungkin, saya tidak bermaksud menggiring keluargaku untuk fokus pada hal yang mistis. Ada tatanan religius/spiritual. Apakah keluargaku tidak menyertakan Allah di dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan? Saya yakin dan saya bersaksi bahwa mereka selalu menyertakan Allah dalam setiap derap langkah usahanya. Lagi pula, Allah yang Maha Baik tidak mungkin menyeret mereka ke dalam maut hanya karena tidak menyadari kehadiran-Nya. Ingat pesan St. Paulus kepada jemaat di Galatia. Kita menerima Roh Kudus bukan karena jasa-jasa kita, tetapi karena semata karena kebaikan Allah. Iman yang hidup bukan sekedar menjalankan hal-hal ritual atau tindakan karitatif yang dipamerkan, melainkan lebih kepada tindakan kasih tanpa pamrih. Allah tidak se-naif yang kita takar.

Akhirnya, saya sampai pada keyakinan ini: Allah itu Maha Baik. Dia selalu mendengarkan doa-doa kita. Dia pun mengabulkan doa-doa kita di dalam ukuran ke-mahabijaksanaan-Nya dan bukan dalam ukuran atau takaran manusia. Allah itu Maha Baik dan Dia menghendaki agar saya tidak pernah berhenti memohon kebijaksanaan dari-Nya. Kebijaksanaan-Nya-lah yang akan mengantarku pada kebijakan-kebijakan yang tidak merusakkan atau melanggar tatanan yang sudah ditetapkan oleh Allah. Semoga demikian! Have a great day filled with love and compassion. With a deep grief I send you my warm greetings from Langgur – the City of Martyrs. Padre Pio Lawe, SVD

You may also like