.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

BERSAMA DENGAN TUHAN: BERSYUKUR DAN “TURUN” KE BUMI

Kej. 12:1-4a; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9.

HM Prapaskah II/Minggu, 11 Februari 2026

 

Kisah injil hari ini dekenal sebagi kisah transfigurasi atauperistiwa perubahan wajah Yesus. Dalam tradisi, diyakini bahwaperistiwa inti terjadi di puncak gunung Tabor, 17 km di sebelahbarat dana Galilea, dekat kota Nazaret. Kisah ini menujukkankemuliaan Yesus. Dia bukan sekedar orang biasa sepertimanusia pada umumnya. Dia bukan hanya nabi, guru, tetapianak Allah yang mulia dan sungguh-sungguh Allah. Dalam peristiwa transfigurasi ini Yesus berbicara dengan Musa dan Elia. Kehadiran Musa dan Elia sebagai lambang masa perjanjianlama yang kemudian digenapi dan disempurnakan dalam diriYesus Kristus. Yesus menjadi inti dan puncak perjalanan sejarahkeselamatan. Dia lebih besar dari para nabi sebelum-Nya (dan bahkan sesudah-Nya). Dia merupaka inti dan pokok khabar keselamatan Allah. Dalam diri-Nya Allah sungguh hadir. Untukitu Allah berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5). 

Dalam injil disebutkan bahwa para murid (Petrus, Yakobusdan Yohanes) sangat bahagia ketika menyaksikan peristiwatransfigurasi tersebut. Mereka mengusulkan kepada Yesus untukmembangun tiga kemah di atas gunung. Mereka berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untukEngkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mat. 17:4).Sikap iman para murid ini menunjukkan bahwa buah dariperjumpaan dengan Tuhan adalah sukacita atau kebahagiaan. Tentu, perjumpaan dengan Tuhan adalah kekudusan. Tetapiselain itu, perjumpaan tersebut juga membawa kegembiraan. Orang yang tidak pernah bersyukur, mengeluh (atau selalucomplain), dan tidak pernah bahagia (menemukan kabahagiaan) dalam hidupnya, dapat menjadi tanda bahwa orang tersebutbelum sungguh-sungguh bertemu dengan Tuhan. Doa merupakan bentuk konkrit dari perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan melalui doa seharusnya mengantarkita untuk mampu menemukan kebagiaan dan kebaikan Tuhan dalam setiap pengalaman hidup, termasuk pengalaman sedih. 

Selain itu, buah dari pengalaman sukacita rohani adalahterdorong untuk masuk dalam realitas hidup (hiruk pikuk dunia). Pengalaman rohani tidak membatasi diri kita untuk “turun” dan mengalami hidup yang sesungguhnya. Para murid begitubahagia menyaksikan kemuliaan Tuhan. Sesudah merasakanpengalaman itu, Yesus mengajak mereka untuk turun darigunung. Kedekatan dengan Tuhan, mengantar kita untuk juga dekat dengan sesama. Semakin kita mencintai Tuhan, semakinkita juga mencintai sesama, terutama orang miskin, orang sakit, dan orang yang terabaikan. Paus Leo IX, dalam ensikliknyaDilexit Te, menasehati kita orang kristiani untuk tidak terjerumusdalam keduniawian spiritual (Art. 113), yaitu hidup yang kelihatan rohani tetapi miskin solidaritas (tidak mau bersoliderdengan mereka yang susah dan rentan). 

Marilah, dalam masa prakaskah ini, kita membaharui diridengan sungguh-sungguh, terutama makin dekat dengan Tuhan, yang menghasilkan buah suka cita dan “turun” peduli denganhiruk pikuk dunia yang rumit, terutama mereka yang terabaikan. Amin. @novlymasriat.  

Related posts

BERBICARA DENGAN HIKMAT ROH KUDUS

BANYAK ORANG BERAGAMA TIDAK LULUS SEKOLAH KEMANUSIAAN

KITA ADALAH MAKHLUK CAHAYA