Home Ā» DIGERAKKAN OLEH RASA RINDU

DIGERAKKAN OLEH RASA RINDU

by Leonardus Ansis
0 comments

RENUNGAN PAGI
Sabtu, 27 Juni 2026

Bacaan Injil: Matius 8:5–13

ā€œTuhan, aku tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahku; katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.ā€ (Mat. 8:8)

Ada satu kata yang mungkin tidak pernah disebut secara eksplisit dalam Injil pagi ini, tetapi memenuhi seluruh kisahnya.

RINDU.

Bukan rasa rindu yang pasif.

Bukan kerinduan yang berhenti pada perasaan.

Melainkan rindu yang menggerakkan.

Sesungguhnya, setiap perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari sebuah kerinduan.

Allah terlebih dahulu merindukan manusia.

Lalu manusia yang disentuh oleh kerinduan Allah mulai berjalan mencari-Nya.
āø»*———

Perwira Romawi itu sebenarnya memiliki banyak alasan untuk tidak datang kepada Yesus.

Ia seorang perwira.

Ia memiliki kuasa.

Ia mempunyai prajurit yang siap menjalankan perintahnya.

Ia berasal dari bangsa penjajah.

Yesus adalah seorang rabi Yahudi.

Di antara mereka berdiri tembok-tembok yang tebal:

tembok politik,
tembok agama,
tembok budaya,
tembok bahasa,
tembok sejarah,
bahkan tembok prasangka.

Tetapi pagi ini kita menyaksikan sesuatu yang luar biasa.

Rasa rindu ternyata lebih kuat daripada semua tembok itu.

Kerinduannya akan keselamatan hambanya mengalahkan gengsi jabatannya.

Kerinduannya akan kebenaran mengalahkan fanatisme identitasnya.

Kerinduannya kepada Sang Penyembuh mengalahkan seluruh rasa takut dan segala batas yang selama ini memisahkan manusia.

Karena itu ia bergegas.

Ia datang.

Ia mencari Yesus.
āø»*———

Kerinduan sejati selalu menggerakkan.

Orang yang sungguh merindukan Tuhan tidak akan tinggal diam.

Ia akan mencari.

Ia akan mengetuk.

Ia akan berjalan.

Ia akan melintasi batas-batas yang selama ini mengurung dirinya.

Sebab rindu selalu lebih kuat daripada kenyamanan.
āø»*——-

Yang lebih mengagumkan lagi, ia datang bukan untuk dirinya sendiri.

Ia datang membawa luka orang lain.

Hambanya sakit.

Mungkin banyak orang menganggap seorang hamba hanyalah alat kerja.

Tetapi tidak bagi perwira itu.

Di dalam dirinya telah tumbuh hati yang mampu merasakan penderitaan sesama.

Di sinilah letak keagungan imannya.

Rasa rindu kepada Tuhan selalu melahirkan kepedulian kepada manusia.

Mustahil seseorang berkata merindukan Allah tetapi acuh terhadap penderitaan sesamanya.

Sebab Allah selalu hadir di dalam mereka yang terluka.
āø»*——-

Kemudian terjadilah peristiwa yang sangat mengharukan.

Perwira itu berkata,

ā€œTuhan, aku tidak layakā€¦ā€

Kalimat ini bukan lahir dari rasa minder.

Kalimat ini lahir dari kerendahan hati orang yang akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Selama ini ia adalah pemegang otoritas.

Orang-orang tunduk kepadanya.

Perintahnya ditaati.

Tetapi kini ia berdiri di hadapan Otoritas yang jauh lebih tinggi.

Ia menyadari bahwa segala pangkat, kuasa, dan kehormatan manusia mempunyai batas.

Hanya kasih Allah yang tidak berbatas.

Dan di hadapan kasih itu, ia rela menanggalkan seluruh egonya.

Kerinduan telah merobohkan benteng kesombongannya.
āø»*——-

Karena itulah Yesus memuji imannya.

Bukan semata-mata karena ia percaya akan mukjizat.

Tetapi karena imannya telah dibuktikan melalui sebuah perjalanan batin.

Perjalanan dari kesombongan menuju kerendahan hati.

Dari kekuasaan menuju penyerahan.

Dari identitas menuju kasih.

Dari diri sendiri menuju sesama.

Iman seperti inilah yang membuat Yesus berkata,

ā€œAku belum pernah menjumpai iman sebesar ini di antara orang Israel.ā€
āø»*——-

Saudara-saudariku,

Bukankah dunia kita hari ini justru sedang mengalami krisis kerinduan?

Banyak orang haus akan kesuksesan, tetapi tidak lagi merindukan nilai kebenaran, keadilan, belarasa.

Haus akan popularitas, tetapi kehilangan kerinduan untuk melayani.

Haus akan keuntungan, tetapi tidak lagi merindukan solidaritas.

Teknologi membuat kita semakin mudah saling terhubung, tetapi hati kita semakin sulit saling menjumpai.

Media sosial mempercepat arus informasi, tetapi tidak selalu memperdalam kasih.

Yang kita perlukan bukan pertama-tama lebih banyak pengetahuan.

Kita membutuhkan hati yang kembali rindu kepada Allah.

Sebab ketika manusia berhenti merindukan Allah, perlahan-lahan ia juga berhenti merindukan sesamanya.

Tetapi ketika kerinduan kepada Allah hidup kembali, lahirlah keberanian untuk menembus sekat-sekat suku, agama, ras, bahasa, status sosial, dan kepentingan pribadi.

Kerinduan itu menggerakkan kita untuk membangun persaudaraan, merawat bumi, membela martabat kaum kecil, dan menghadirkan damai di tengah masyarakat.
āø»*———

Baiklah kita berdoa di awal hari ini bersama St. Agustinus:

ā€œHatiku gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.ā€

Kegelisahan itu sesungguhnya adalah kerinduan terdalam manusia kepada Allah.

Henri Nouwen mengatakan bahwa hidup rohani bukanlah terutama soal memiliki semua jawaban, melainkan menjaga agar kerinduan kepada Allah tetap menyala.

Carlo Carretto menulis dengan indah:

ā€œAllah sering kita temukan bukan pada saat kita merasa kuat, tetapi ketika kita tidak lagi mampu menyembunyikan kerinduan kita kepada-Nya.ā€
āø»*——-

Mungkin pagi ini Tuhan tidak pertama-tama bertanya,

ā€œSeberapa besar pengetahuanmu tentang Aku?ā€

Ia bertanya,

ā€œApakah engkau masih merindukan Aku?ā€

Masihkah kita merindukan doa?

Merindukan keheningan?

Merindukan Ekaristi?

Merindukan Sabda-Nya?

Merindukan kehadiran-Nya dalam diri orang miskin, orang sakit, anak-anak yang terlantar, para petani, nelayan, buruh, dan mereka yang sedang memikul salib kehidupan?

Karena dari kerinduan itulah lahir langkah-langkah iman.

Dan dari langkah-langkah iman itulah dunia mulai disembuhkan.
āø»*——-

Pertanyaan Refleksi
1. Apa yang paling kurindukan dalam hidupku saat ini: Tuhan atau sekadar berkat-berkat-Nya?
2. Tembok apa yang masih menghalangi aku untuk datang kepada Tuhan: ego, jabatan, luka batin, prasangka, atau rasa takut?
3. Apakah kerinduanku kepada Tuhan telah menggerakkan aku untuk lebih peduli terhadap penderitaan sesama?
āø»*——-

Doa Pagi

Tuhan Yesus,

Pagi ini kami datang kepada-Mu seperti perwira dari Kapernaum.

Bukan karena kami merasa layak.

Bukan pula karena kami telah sempurna.

Kami datang karena hati kami merindukan Engkau.

Tanamkanlah dalam diri kami kerinduan yang tidak pernah padam.

Kerinduan yang lebih kuat daripada rasa nyaman.

Kerinduan yang lebih besar daripada kesombongan.

Kerinduan yang berani menembus sekat-sekat suku, agama, ras, bahasa, jabatan, dan kepentingan diri.

Ajarlah kami untuk tidak hanya mencari-Mu ketika kami terluka, tetapi juga mencintai-Mu ketika hidup berjalan baik.

Jadikanlah kerinduan kepada-Mu sebagai tenaga yang menggerakkan langkah kami untuk mengunjungi yang sakit, menguatkan yang lemah, membela yang tertindas, merangkul yang tersisih, menghibur yang berduka, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang hampir menyerah.

Runtuhkanlah benteng ego kami, sebagaimana Engkau meruntuhkan kesombongan perwira itu dengan cahaya kasih-Mu.

Semoga kami berani berkata setiap hari:

ā€œTuhan, aku tidak layakā€¦ā€

Namun justru dalam kerendahan hati itu, kami percaya bahwa satu sabda-Mu cukup untuk menyembuhkan hidup kami.

Semoga kerinduan kepada-Mu menjadi api yang terus menyala di hati kami, hingga setiap langkah, setiap keputusan, setiap karya, dan setiap pelayanan menjadi jalan yang membawa semakin banyak orang berjumpa dengan kasih-Mu.

Karena orang yang sungguh merindukan Allah tidak akan berhenti berjalan, sampai ia menjadi saluran kasih Allah bagi dunia.

Amin šŸ™
——————
MIKE KERAF, CSsR
R. A. D’SOS,
Sumba Barat Daya,
27.06.2026

You may also like