Etika Kebajikan terkait AI Medis dan Pemantauan Tenaga Medis


(RD. Domincs Baldawins Masriat)

Pentingnya Kebajikan Kebijaksanaan klinisi
Dalam aspek etika kebajikan, seorang dokter yang baik bukan hanya mengikuti prosedur yang ada dalam institusi atau rumah sakit tetapi juga memiliki kebajikan kebijaksanaan dalam menilai apa yang terbaik bagi pasien. Sehingga Pengawasan AI yang lebih memprioritaskan kesesuaian algoritmik daripada perawatan individual, sesungguhnya mengabaikan kebajikan kebijaksanaan yang dimiliki oleh klinisi berdasar pada keahlian dan pengalaman kerja atau pengalaman personal ketika berhadapan dengan pasien. Klinisi tidak lagi bertindak dengan penuh kebijaksanaan berdasarkan sesuatu yang terjadi saat itu tetapi lebih pada penyesuaian dengan system kesehatan yang telah diatur dalam pengawasan AI. klinisi akan cenderung melayani pasien dengan cepat karena menyesuaikan dengan waktu dan skor yang telah ditentukan daripada mendalami penyakit atau persoalan yang dialami pasien melalui pendekatan kebajikan kebijaksanaan. Oleh karena itu, kemajuan teknologi AI sangat membantu dalam system Kesehatan tetapi jangan sampai mengabaikan aspek kebijaksanaan dari klinisi. Dengan kata lain, para developer dan deployer bukan hanya memperhatikan perkembangan, kemajuan dan keuntungan dari sistem yang digunakan tetapi juga harus mempertimbangkan aspek manusia dalam hal ini klinisi yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam menangani pasien.

Pentingnya Kebajikan keadilan
Kebajikan keadilan adalah prinsip moral yang menekankan perlakuan adil, jujur dan seimbang terhadap semua pihak. Ini melibatkan kesadaran konstan terhadap hak, kebutuhan orang lain, dan penerapan prinsip kebenaran. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa harus ada keseimbangan dalam penggunaan AI untuk memantau. Pemantauan bukan hanya pada yang lemah tetapi juga pada pimpinan dan manajemen. Pimpinan wajib membagikan hak dan kewajiban secara adil. Menggunakan AI untuk menekan produktifitas klinisi tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan mental klinisi adalah bentuk ketidakadilan yang terjadi dalam institusi rumah sakit. Dan hal itu sama dengan merendahkan martabat manusia dalam hal ini klinisi.
Ada juga aspek lain terkait keadilan yang perlu diperhatikan adalah mengenai pengawasan sistem AI dan sanksi finansial. Klinisi akan dianggap melakukan penyimpangan dan akan mendapat sanksi finansial jika dianggap mengurangi jumlah total pasien yang dapat dilayani. Pengawasan AI akan mengevaluasi dan akan memberikan sanksi finansial bagi klinisi karena tidak memenuhi kuota waktu yang ditetapkan perusahaan dan tidak mengikuti skema bicara yang ditetapkan algoritmik. Padahal yang terjadi di tempat kerja adalah klinisi bekerja dengan memberikan kualitas tinggi kepada pasien. Hal ini tentunya mau mengatakan bahwa AI menilai hanya berdasarkan teks dan durasi dan tidak dapat menggantikan nilai sesungguhnya dari pelayanan medis kepada pasien. Pengawasan AI terkadang tidak mengetahui dengan pasti situasi yang terjadi di tempat kerja terkait kondisi klinisi dan kondisi mental pasien. Pengawasan AI hanya mengikuti system yang telah diatur dan dibuat sama terhadap semua pasien yang berkunjung. Sehingga terkadang terdapat ketidakcocokan antara system yang telah diatur dengan situasi manusia di tempat kerja berkaitan dengan kondisi klinisi dan pasien. Klinisi telah bekerja dengan sungguh-sungguh dalam merawat pasien tetapi hanya karena berkaitan dengan tidak mencapai jumlah pasien yang ditentukan, tidak mengikuti skema bicara yang diatur atau tidak sesuai waktu berdasarkan pengawasan AI, kinisi dapat memperoleh sanksi financial. Hal ini tentunya menunjukan salah satu aspek ketidakadilan bagi klinisi. Oleh karena itu, pentingnya mempertimbangan pengawasan AI dalam kaitan dengan kinerja klinisi agar tidak merugikan klinisi melalui sistem yang diatur. Pentingnya Kebajikan keadilan dalam mengelola pengawasan AI dalam system Kesehatan agar tidak merugikan semua pihak, selalu menjunjung kebaikan Bersama dan tidak merendahkan martabat manusia.

Martabat manusia sebagai citra Allah
Manusia adalah gambar Allah yang memiliki intelektual dan kehendak. Sehingga manusia harus diperlakukan sesuai martabatnya dan bukan sebagai alat atau objek untuk mencapai efisiensi rumah sakit. Manusia harus mengambil Keputusan moral secara benar dan bukan diatur oleh mesin. Oleh karena itu, jika klinisi diawasi dan kebijakan yang diambil harus berdasarkan system AI yang diatur maka sesungguhnya terjadi pelecehan terhadap martabat manusia. Dengan kata lain, klinisi akan kehilangan kehendak bebasnya jika setiap kebijakan dan Keputusan medis diambil berdasarkan system pengawasan AI.

Pentingnya Kebajikan kasih Dalam Pelayanan Kesehatan
Dikatakan bahwa salah satu kelebihan dari teknologi AI dalam system Kesehatan adalah memberikan rasa empati agar pasien merasa nyaman dan dikasihi. Namun sesungguhnya empati yang diberikan adalah empati artificial karena kasih membutuhkan kehadiran personal yang dengan tulus mendampingi atau melayani. Menggantikan kehadiran batin klinisi dengan skor empati AI sungguh melanggar prinsip dasar dari pelayanan medis. Karena kasih tidak dapat diukur dari Analisa ketukan keyboard dan nada bicara. Kasih membutuhkan Tindakan kehendak untuk kebaikan orang lain. Ingat selalu bahwa pengawasan AI tetaplah tool yang tidak memiliki nilai-nilai etis. Hanya manusia yang memberi pertimbangan etis. Maka jangan sampai pengawasan AI membatasi clinisi dalam Tindakan personal. Pendekatan pengawasan AI untuk perkembangna medis merupakan hal yang perlu diapresiasi, tetapi sentuhan personal dari klinisi terhadap pasien lebih uatama. Dengan kata lain, jika klinisi menyesuaikan pelayanannya dengan system pengawasan AI maka perhatian akan focus pada memenuhi target algoritmik dan bukan mengasihi pasien yang sakit. Dengan demikian tujuan atau telos dari profesi medis adalah pemenuhan target system AI dan bukan penyembuhan pribadi. Oleh karena itu, pentingnya deployer dan developer mengatur system ini agar tujuan atau telos dari Tindakan atau pelayanan medis sungguh-sungguh terarah pada penyembuan pribadi dan bukan hanya sekedar mengejar target yang diatur dalam system pengawasan AI. Perlu ditekankan bahwa pengawasan AI penting tetapi jangan sampai mengabaikan sentuhan kasih sayang dalam merawat pasien. Kehadiran clinisi harus diutamakan karena kehadiran klinisi sungguh-sungguh membawa kenyamanan, telinga yang mendengarkan, kehadiran dan yang terpenting adalah kelembutan dan kasih sayang dalam merawat pasien.

Related posts

Etika Kecerdasan Buatan (Etika AI)

Naskah Pidato Mgr. Maksimus Regus

Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama: Relevansi Semangat Kartini bagi Perempuan Indonesia