.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

Gereja yang Merangkul, Kasih yang Tak Berbatas

MUTIARA IMAM

Gereja yang Merangkul, Kasih yang Tak Berbatas ( Matius 7:24-30), Kamis, 12 Feb. 2026

Kisah Injil hari ini menarik untuk direfleksikan. Seorang perempuan Siro-Fenisia, seorang paganis, non Yahudi datang kepada Yesus dengan hati yang hancur. Sejujurnya ia bukan bagian dari bangsa Israel, bukan siapa-siapa, bukan juga umat pilihan yang dianggap layak menerima berkat dari Tuhan. Namun ia berani melangkah dengan iman, membawa luka anaknya, dan memohon belas kasih. Jawaban Yesus terdengar keras: “Roti itu disediakan bagi anak-anak, bukan untuk anjing”. Tetapi perempuan itu tidak tersinggung, marah pun tidak. Dengan rendah hati ia berkata, “Benar Tuhan, tetapi anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Dari kerendahan hati dan iman yang teguh itu, lahirlah mukjizat: anaknya disembuhkan.

Kisah ini menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penyembuhan. Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tidak terbatas pada satu bangsa, suku, atau agama. Ia melihat iman, bukan asal-usul. Ia merangkul hati yang percaya, bukan identitas yang membatasi. Dengan tindakan-Nya, Yesus mengedepankan sikap inklusif, mengesampingkan eksklusivitas, dan menegaskan bahwa keselamatan adalah milik semua orang yang terbuka pada belas kasih Tuhan.

Dalam dunia kita saat ini, khususnya dalam konteks hidup beragama, pesan ini berbicara dengan sangat kuat. Fanatisme agama, suku, atau ras masih sering melahirkan sikap eksklusif: kita menutup diri, hanya mau bergaul atau melayani mereka yang serupa dengan kita. Sikap seperti ini berpotensi menumbuhkan diskriminasi, bahkan konflik. Padahal sabda Tuhan mengingatkan bahwa iman sejati tidak diukur dari identitas lahiriah, melainkan dari keterbukaan hati terhadap kasih Allah. Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kasih yang inklusif, sebuah rumah yang pintunya terbuka lebar, tempat semua orang dapat masuk dan mengalami belas kasih. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa Gereja harus berani keluar, menjumpai semua orang, bahkan menjadi Gereja yang “memar” karena hadir di tengah kehidupan nyata umat manusia. Gereja yang sejati adalah Gereja yang tidak hanya memberi roti kepada “anak-anak” tertentu, tetapi juga memastikan bahwa remah kasih itu sampai kepada mereka yang merasa kecil, tersisih, dan tak layak.

Kisah perempuan Siro-Fenisia mengingatkan kita bahwa bahkan remah kasih Tuhan cukup untuk menghidupkan siapa saja yang percaya. Gereja yang inklusif adalah Gereja yang menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih, yang universal, yang merangkul semua orang tanpa kecuali. Gereja yang terbuka adalah Gereja yang menghadirkan kasih yang melampaui sekat-sekat manusia, sehingga melalui perbuatan baik umat beriman, dunia dapat melihat dan memuji Bapa di surga. Amin

Salam dan doa,
Rev. Andy Sainyakit

Related posts

SUKACITA JIWA KARENA MILIKI YESUS

PENYERTAAN TUHAN BAGIMU SEMPURNA

KETIKA SESEORANG DITUNTUN OLEH ROH KUDUS