Refleksi Pastoral Renungan Iman Butuh Mutilasi…??? Leonardus AnsisJanuary 22, 2026024 views (Matius 5:27-32) Radikalitas iman tidak perlu mutilasi. Tiada maksud Yesus mengatakan kepadakita, bila mata mencelakakan kita, sebaiknya mata itu dicungkil dan dibuangdalam artian yang sesungguhnya. Begitu juga bila tangan melakukan hal yangsama, maka tangan itu dipotong dan dibuang saja. Lalu apa maksud Yesus sebenarnya? Makna dasar kata-kata itu adalah Yesusmeminta kita supaya sedapat mungkin, kita sendiri bersedia sejak awal,mengendalikan atau mengatasi kecenderungan jahat dari dalam diri kita terhadapapa yang dirasa begitu nikmat oleh tangkapan inderawi kebertubuhan kita.Alangkah baiknya melatih dan mengolah kebatinan kita supaya tidak terperosokjatuh pada kejahatan. Begitupun melatih dan membiasakan raga kita untuk tidaksecara sembarangan merespon rangsangan liar yang bermunculan di ke sekitaranjangkaun indrawi kita dan justru benar-benar mencelakakan kita. Jiwa dan tubuh yang mampu menahan dan menolak daya tarik luaran yang serbanikmat akan tampil menjadi persembahan diri yang sempurna di mata Tuhan.Sebaliknya, dapat tinggal hanya sebagai persembahan yang cacat atau bahkan takberkenan di mata Tuhan bila terbukti berulangkali menistakan diri dalamkejatuhan nikmat dunia. Hati tak perlu ditikam, mata tak perlu dicungkil dan tangan tak perludipotong. Semua yang ada pada lapis batin dan luaran perlu saja diasasedemikian rupa sehingga tidak menjadi sumber malapetaka kini dan kelak.Mutilasi tak dilegalkan sebagai sanksi hukum Kristiani. Metanoia, iya. Itulahcara merubah atau mempertobatkan diri yang dimulai dari cara pikir dan olahbatin. Tanpa itu, kita akan terus terbuai dengan nikmat duniawi yang mengenakantubuh raga kita dalam kesementaraan namun mencelakan dan menyengsarakan kitapelan-pelan sambil memperlebar kerusakan masa depan kita.M. Taher (Dosen di Seminari Tinggi Fajar Timur Abepura Jayapura)