.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

KEJUJURAN HATI

Sir. 15:15-20; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37
HM Biasa VI/Minggu, 15 Februari 2026

Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37). Kata-kata ini menegaskan makna kebenaran. Kesaksian yang berdasarkan dengan kenyataan atau apadanya merupakan sebuah kesaksian yang benar, namun sebuah kesaksian yang tidak berdasarkan kenyataan adalah sebuah kebohongan. Kebohongan, penipuan, ketidaksetiaan, ketidakjujuran berasal dari “si jahat”. Sesuatu yang berasal dari yang jahat selalu akan merugikan dan menghancurkan. Tetapi apakah semua kebohongan adalah dosa? Dalam konteks tindakan moral, pertanyaan ini perlu mendapat analisis yang tajam. Dalam situasi ekstrim (antara membiarkan pembunuhan atau berbohong agar pembunuhan tidak terjadi) atau konflik nilai atau tidak ada lagi pilihan nilai tindakan bohong mengalami problematis dan secara bijaksana dapat dilakukan dengan pertimbangan yang serius.
Terlepas dari posisi problematis dari kebohongan dalam situasi ekstrim, sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memiliki kejujuran dalam hidup. Kejujuran hidup tidak hanya nampak dalam tindakan konkrit yang kelihatan, tetapi pertama-tama harus didorong oleh hati yang jujur. Hati merupakan unsur penting dalam menentukan arah tindakan kita. Hati berkaitan dengan kehendak dalam diri. Sebuah perbuatan sungguh-sungguh baik ketika keluar dari hati yang baik; namun perbuatan itu menjadi kepura-puraan dan kebohongan ketika keluar dari hati yang tidak jujur. Kejujuran hati yang baik merupkan modal kepercayaan dalam membangun relasi. Hati yang mulai tidak jujur, menyimpan banyak kepura-puraan mengakibatkan hidup tidak lagi bermakna. Paus Fransiskus, dalam Ensiklik Dilexit Nos, berkata “Jika hati tidak lagi bermakna, maka berbicara dari hati, bertindak dengan hati, mendewasakan dan menyembuhkan hati juga tidak bermakna lagi” (Art, 11). Hati yang sudah rusak harus diperbaiki lagi. Yesus menegaska perlunya perbaikan hati ketika hendak mempersembahkan korban (bdk. Mat. 5:23), dan membersihkan hati dalam memandang orang lain (bdk. Mat. 5:28). Pemberian atau kurban yang jujur berasal dari hati yang damai dan tulus, dan hati yang baik akan mengantar kita untuk memandang kebaikan dalam diri orang lain.
Hari ini, kita merayakan Hari Perkawinan Sedunia. Kesempatan Istimewa ini digunakan untuk berefleksi lagi tentang perjalalan kehidupan berkeluarga, terutama relasi suami istri. Marilah kita menempatkan lagi “hati kudus” Yesus sebagai standar dalam menilai perjalanan hati kita. Hati Yesus penuh cinta kasih dan pengrobanan. Ini menjadi waktu untuk melihat kembali lagi kedalaman hati masing-masing orang (suami-istri). Apakah hati pasangan suami-istri masih menyatu, masih jujur, masih setia, masih penuh cinta? Kesempatan indah ini menjadi momen untuk menyalakan lagi hati yang mulai pudar. Doa kepada Tuhan merupakan energi untuk mengkalibrasi lagi semangat cinta kasih. Selain itu, Paus Fransiskus, dalam Amoris Laetitia, menasehati keluarga-keluarga Kristiani untuk setia mengucapkan 3 kata penting untuk memelihara cinta kasih, yaitu tolong, terima kasih, dan maaf. “Di dalam keluarga kita ketika kita tidak menekan dan bertanya: ‘Bolehkah?’; dalam keluarga kita ketika kita tidak egois dan belajar mengatakan: ‘Terimakasih!’; dan dalam keluarga kita ketika seseorang menyadari bahwa dia melakukan kesalahan dan mampu berkata: ‘Maaf!’, maka keluarga kita akan mengalami damai dan sukacita” (Art, 133). @novlymasriat.

Related posts

BERBICARA DENGAN HIKMAT ROH KUDUS

BANYAK ORANG BERAGAMA TIDAK LULUS SEKOLAH KEMANUSIAAN

KITA ADALAH MAKHLUK CAHAYA