DAILY WORDS
Rabu, 30 September 2026
Pekan Biasa XXVI – Tahun A
PW St. Hironimus, Imam dan Pujangga Gereja
By RP. Pius Lawe, SVD
Bacaan I : Dan 9: 1 ā 12. 14 ā 16
Mzm : 138: 1 ā 2a. 2bc ā 3. 4 ā 5
Injil : Luk 9: 57 ā 62

Ada dua pengalaman yang, hemat saya, bertolak belakang dalam hal bagaimana manusia beriman mestinya āmenaruh harapan pada Allahā. Pengalaman pertama berhubungan dengan sikap iman para petani dalam menghadapi musim kering yang berkepanjangan. Dalam satu pertemuan dengan umat di salah satu rukun (lingkungan/KUB), saat saya sedang memimpin doa penutup, dalam keheningan seorang bapa dengan spontan menginterupsi saya dengan teriakan, āDoa minta hujan jua, Pastorā. Sesuatu yang keluar secara spontan dari mulut seorang petani sederhana ini mengisyaratkan suatu kecemasan dan kegelisahan yang sedang dialami begitu banyak petani di wilayah Pulau Seram. Mereka sedang gundah menanti turunnya hujan. Selama kurang lebih 13 tahun berada di wilayah ini, saya mengalami musim hujan yang sangat dahsyat dari bulan Mei sampai September. Angin Timur yang berhembus melalui perairan yang luas membawa serta uap air yang menghasilkan hujan yang berlimpah. Namun, di tahun ini, yang kita alami justru sebaliknya. Hujan tak kunjung turun sejak bulan Mei. Kekeringan yang mengakibatkan kebakaran yang hebat terjadi hampir di seluruh wilayah Pulau Seram.
Masih dengan topik yang sama. Tiga hari saya barusan mengunjungi umat di stasi Labuan Pulau Tujuh ā Seram Utara Barat. Benar bahwa sepanjang rute perjalanan pergi dan pulang, kami menyaksikan kebakaran hutan di mana-mana. Hutan tropis yang lebat sebagian sudah terbakar hangus. Api merambat masuk ke dalam lahan-lahan perkebunan kelapa dan pala. Ribuan pohon pala dan kelapa hangus terbakar. Banyak petani yang cemas. Ada seorang anggota umat yang sempat menangis tersedu-sedu melihat kobaran api dekat kebunnya yang sarat dengan pohon pala dan kelapa. Syukur, lahannya masih selamat dari serbuan si jago merah. Dikabarkan bahwa seorang petani dari kampung tetangga menderita gangguan jiwa dan sudah masuk di Rumah Sakit Jiwa Nania di Kota Ambon setelah menyaksikan ratusan pohon pala yang dirawatnya berpuluh tahun hangus terbakar.
Sudah begitu banyak umat yang nota bene petani sederhana datang mengadu kepada saya dan memohon doa agar segera diberi hujan dari langit oleh Tuhan. Jawaban saya, āTuhan pasti akan memberi hujan pada waktunya.ā Secara tidak sadar dan tidak dengan sengaja, kata-kata ini saya ungkapkan selalu kepada mereka setiap kali mereka mengeluh tentang bahaya kelaparan akibat kekeringan yang berkepanjangan. Saya ulangi lagi kata-kata di atas, āTuhan pasti akan memberi hujan pada waktunya.ā
Pengalaman kedua berhubungan dengan kisah panggilan menjadi imam dan biarawan dari beberapa sahabat. Sekitar 15 tahun yang lalu, saya menghadiri satu perayaan Kaul Kekal dari para frater SVD Malang. Satu hal yang mengagetkan dan mengharukan banyak umat yang datang dalam perayaan itu ketika menemukan bahwa salah satu peserta yang mengikrarkan kaul kekal adalah anak tunggal ā anak semata wayang. Ayahnya berasal dari Lembata, ibunya seorang dari suku Dayak, Kalimantan. Luar biasa sikap iman dari pasangan suami istri yang dengan tulus menyerahkan anaknya untuk bekerja di ladang Tuhan. Mereka tidak pernah ragu sedikit pun akan kuasa Allah yang membiarkan mereka hidup sebagai pasangan suami istri yang bakal tidak lagi mempunyai generasi yang melanjutkan keturunan dari pihak ayah/suami. Amazing! Ada teman kelasku dari Pulau Solor yang mempunyai tiga imam dalam keluarga, termasuk dirinya sendiri. Betapa murah hatinya orang tua mereka yang rela mempersembahkan tiga putra terbaiknya untuk Tuhan. Kesannya, mereka tidak terobsesi dengan āsiapa yang bakal melanjutkan keturunan dari sisi sang ayahā. Berbeda dengan pengalaman iman di atas, ada juga frater-frater yang masih dalam proses formasi, menarik diri dan tidak lagi melanjutkan panggilannya menjadi imam dengan alasan bahwa dia adalah anak laki-laki tunggal. Dia mesti mengambil jalan hidup sebagai seorang awam agar dapat memperhatikan orang tua di saat mereka lanjut usia, di samping melanjutkan keturunan ayahnya.
Saat merenungkan kisah Ayub dan jawaban yang diberikan kepada Bildad sahabatnya, saya teringat akan pengalaman keraguan, kebimbangan dan kecemasan yang sedang dialami begitu banyak orang oleh karena kekeringan yang berkepanjangan ini. Saya juga teringat akan dilema yang dihadapi para biarawan/biarawati yang hendak mengikuti Tuhan dengan risiko meninggalkan segalanya. Saya, dan mungkin saudara-saudari semua yang mengalami berbagai ragam penderitaan atau tantangan dan rintangan, kata-kata Ayub terhadap Bildad mestinya menjadi peneguh yang baik bagi kita. Allah itu Maha Tahu. Dia lebih tahu mengapa semuanya ini terjadi. Dia Maha Bijaksana dan tidak akan membiarkan kita semua tinggal berkubang dalam penderitaan. Dia adalah Allah yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tak terduga. Dia adalah Allah yang Maha Besar yang telah melakukan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya. Andaikan kita mempunyai keyakinan yang kuat seperti Ayub, apa pun tantangan musim yang menerpa, kita tetap tenang dan memasrahkan semua pada penyelenggaraan Allah.
Ayub juga ikut meneguhkan perjalananku sebagai imam dan biarawan misionaris. Jika saya sudah maju membajak, jangan pernah menoleh ke belakang. Saya tidak perlu mengkhawatirkan nasib sanak kerabatku. Fokus saya adalah melayani umat. Tuhan pasti selalu ada bersama kaum keluarga dalam pengalaman suka maupun duka. Pengalaman iman Ayub mengisyaratkan satu keberanian untuk mengambil risiko apa pun ketika saya mau mengikuti Tuhan.
Hal di atas senada dengan jawaban Yesus terhadap mereka yang bertanya tentang syarat mengikuti Dia. Bagi Yesus, serigala mempunyai liang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Yesus menegaskan satu sikap ālepas bebasā dari segala macam hal yang mengungkung hati kita dalam mengikuti Dia. Bagi-Nya, jika hendak mengikuti jalan salib-Nya, seseorang harus berjiwa militan. Artinya, siap untuk mengorbankan segalanya dan pasrah pada kehendak dan penyelenggaraan Allah.
Di dalam hidup, seperti para petani, kita pun mengalami berbagai macam tantangan dan cobaan. Di dalam hidup, kita pun sering dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Mau jadi imam, saya cuma seorang anak laki-laki tunggal. Mau jadi awam, apakah benar bahwa saya akan menjawab semua kecemasan sebelumnya? Bagaikan makan si buah malakama, jika dimakan, ayah mati, jika tidak dimakan, ibu mati. Bagaimana menghadapi tantangan dan rintangan seperti ini? Ayub telah memberi teladan bagi kita sebuah sikap iman yang benar. Yesus pun menegaskannya dengan mengajak kita agar memercayakan semua pada penyelenggaraan Allah. Mari kita saling mendoakan, semoga kita pun dikaruniai rahmat kebijaksanaan agar pada saatnya, kita dapat membuat pilihan yang bijaksana pula dengan iman akan kebesaran dan kemurahan hati Allah. Tuhan memberkati! Have a wonderful day filled with love and compassion. My warm greetings from Masohi manise⦠Padre Pio Lawe, SVD