Renungan Ketika Kebun Anggur Itu Dipercayakan kepada Kita Leonardus AnsisMay 31, 2026018 views Araswaraku, 01 Juni 2026 Markus 12:1-12———-*——— Pagi ini Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan yang indah, dan sangat akrab dengan kehidupan kita. Ia bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang menanam kebunnya dengan sangat baik, teliti, dan teratur. Ia memasang pagar pelindung, menggali tempat pemerasan anggur, membangun menara penjagaan, lalu mempercayakannya kepada para penggarap. Tidak ada yang kurang. Segala sesuatu telah disiapkan dengan penuh perhatian dan kasih. Dalam bahasa iman, pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Dialah Sang Pemilik Agung kehidupan. Dialah yang menciptakan dunia yang indah ini. Dialah yang menyiapkan bumi dengan segala kekayaannya. Dialah yang memberi manusia akal budi, hati nurani, kemampuan bekerja, mencipta, mencintai, dan membangun masa depan. Kemudian Ia mempercayakan semuanya itu kepada manusia. Menariknya, setelah mempercayakan kebun itu, sang pemilik pergi jauh. Bukan karena ia tidak peduli. Justru karena ia percaya. Ia memberi ruang kebebasan. Ia tidak mengawasi setiap saat. Ia tidak mengendalikan setiap gerakan para penggarap. Ia memberi mereka kesempatan untuk bertumbuh dalam tanggung jawab. Di sinilah salah satu martabat terbesar manusia. Allah tidak menciptakan kita sebagai robot. Ia menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi merdeka yang mampu memilih, mencintai, dan bertanggung jawab. Menurut banyak penafsir Kitab Suci, para penggarap itu pertama-tama menunjuk kepada bangsa Israel, umat yang dipilih dan dipercayai Allah untuk merawat perjanjian-Nya. Namun kisah ini tidak berhenti pada Israel. Perumpamaan ini berbicara tentang seluruh umat manusia sepanjang sejarah. Tentang Gereja. Tentang bangsa-bangsa. Tentang keluarga-keluarga. Tentang kita masing-masing. Sebab sesungguhnya seluruh kehidupan adalah kebun anggur yang dipercayakan Allah kepada manusia. Sayangnya, kebebasan sering kali berubah menjadi keserakahan. Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan. Tanggung jawab berubah menjadi perebutan kuasa. Para penggarap mulai lupa bahwa mereka hanyalah pengelola. Mereka mulai berpikir: “Kebun ini milik kami.” Lalu mereka mengusir para utusan. Mereka memukul para hamba. Mereka membunuh mereka. Menurut tradisi Gereja, para hamba yang diutus itu adalah para nabi. Mereka datang mengingatkan: “Jangan lupa Tuhan.” “Jangan lupa keadilan.” “Jangan lupa orang miskin.” “Jangan lupa kebenaran.” Tetapi suara para nabi sering kali dianggap mengganggu kenyamanan. Maka mereka ditolak. Bahkan disingkirkan. Akhirnya Sang Pemilik mengutus Putra-Nya yang terkasih. Dan kita tahu siapa Dia. Dialah Yesus Kristus. Putra Tunggal Allah. Namun Anak itu pun ditangkap, dibuang keluar kebun anggur, dan dibunuh. Salib menjadi puncak dari penolakan manusia terhadap kasih Allah. Tetapi sebelum kita menunjuk orang lain, Injil hari ini pertama-tama mengajak kita bercermin. Apakah aku masih sadar bahwa hidupku adalah titipan? Ataukah aku mulai menganggap semuanya sebagai milikku sendiri? Tubuh yang sehat. Keluarga yang kucintai. Anak-anak yang kubesarkan. Jabatan yang kupegang. Tanah yang kuolah. Laut yang kutangkap ikannya. Usaha yang kubangun. Pelayanan yang kujalankan. Bahkan waktu yang kuhirup setiap hari. Bukankah semuanya pertama-tama adalah pemberian? Bukankah semuanya adalah kebun anggur yang dipercayakan kepadaku? Dan suatu hari nanti Sang Pemilik akan datang meminta pertanggungjawaban. Bukan untuk menghukum. Tetapi untuk melihat apakah kebun itu menghasilkan buah. Buah kasih. Buah kejujuran. Buah pelayanan. Buah keadilan. Buah pengorbanan. Buah iman. Hari ini bangsa kita, Indonesia, merayakan Hari Lahir Pancasila. Dalam terang Injil ini, Indonesia pun dapat kita lihat sebagai sebuah kebun anggur yang amat istimewa. Tuhan menganugerahkan kepada bangsa ini tanah yang subur. Laut yang luas. Budaya yang kaya. Ratusan suku bangsa. Bahasa. Tradisi. Agama-agama. Dan sebuah dasar hidup bersama yang luhur: Pancasila. Semua itu bukan milik segelintir orang. Bukan milik kelompok tertentu. Bukan milik penguasa. Bukan milik oligarki. Semua itu adalah titipan Tuhan bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka pertanyaan Injil hari ini menjadi sangat relevan: Apakah kita mengelola “kebun anggur Indonesia” demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan seluruh rakyat? Ataukah kita merampasnya untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan? Apakah sumber daya alam dipelihara sebagai warisan bersama? Ataukah dieksploitasi tanpa batas? Apakah jabatan dipahami sebagai pelayanan? Ataukah sebagai kesempatan memperkaya diri? Apakah Pancasila sungguh menjadi pedoman hidup? Ataukah hanya slogan yang indah di bibir? Pada akhirnya, seluruh hidup kita adalah perjalanan seorang penggarap. Kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan kita akan kembali kepada Tuhan tanpa membawa apa-apa. Yang akan kita bawa hanyalah buah-buah yang kita hasilkan dari kebun yang dipercayakan kepada kita. Maka pagi ini marilah kita berdoa: “Tuhan, jangan biarkan aku lupa bahwa Engkaulah Pemilik Agung hidupku. Ajarlah aku mengelola semua yang Kaupercayakan kepadaku dengan setia, rendah hati, dan penuh syukur. Ketika tiba waktunya Engkau datang, semoga aku dapat mempersembahkan kembali kepada-Mu buah-buah kasih yang memuliakan nama-Mu dan membahagiakan sesama.” Yesus,Engkaulah Andalanku.Yesus,Engkau, bersama Bapa dan Roh Kudus adalah Pemilik Agungku.Amin. 🌿🙏🏻————*———-MIKE KERAF, CSsRRA D’SOS, Sumba Barat Daya, 01.06.2026 Related posts:PENYERTAAN TUHAN SEMPURNA BAGIMUSaturday May 9, 2026Embun PagiPENYERTAAN TUHAN BAGIMU SEMPURNAWednesday May 13, 2026Embun PagiYESUS SEDANG MENEMANI DAN BERJALAN BERSAMAMUSunday April 19, 2026Embun Pagi