
Bagi para imam, hidup berkomunitas menjadi penting karena menunjuk pada 4 hal mendasar. Pertama, hal yang lebih spiritual: yaitu fraternitas, kolegialitas,āpersaudaraanā atau āpersekutuan persaudaraanā, yang berasal dari hati yang dijiwai oleh cinta kasih. Hal ini turut menggarisbawahi āpersekutuan hidupā dan relasi antarpribadi sebagai imam. Kedua, yang lebih kelihatan: āhidup dalam kebersamaanā atau āhidup berkomunitasā, yang terdiri dari āhidup di dalam rumah biara, rumah Unio atau rumah pastoran yang dibentuk secara yuridisā dan dalam āmenjalani hidup bersamaā melalui kesetiaan pada norma-norma/regulasi yang sama, dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan bersama, dan kerja sama dalam pelayanan bersama. Ketiga, komunitas yg diwarnai dengan komunikasi, relasi, dan interaksi satu sama lain dalam kasih persaudaraan. Benarlah bahwa
Komunitas yang mengikatkan diri di dalam persaudaraan, hendaknya juga terbuka dan menghargai dialog, penuh pertimbangan serta peka tidak saja terhadap kata-kata, akan tetapi juga terhap pelbagai sikap dasar dan prilaku komunikasi yang dibutuhkan dalam membangun komunitas. Seorang komunikator hebat, St. Ignatius dari Loyola, mensharingkan kepada para imam Jesuit sebuah sikap dasar yang mesti dihidupi dalam komunitas, yakni menghargai dan menghormati setiap konfraternya sebagai individu. Sikap itu ditampakan melalui hal-hal seperti: keterbukaan, kerendahan hati, kasih dan kesabaran, penghargaan, mendengarkan, kepercayaan, perhatian terhadap perbedaan sesama dan mengatakan kebenaran dalam kasih: ā masuk melalui pintu orang lainā. Keempat, Sumber hidup berkomunitas juga ada pada intimitas dengan Kristus yang memanggil, yang dibangun melalui keheningan (silence) dan doa ( prayer), mendengarkan Firman ( Listening) dan Ekaristi. Dalam doa dan Keheningan setiap imam dibantu mendengarkan kehendak Dia yang memanggil dan mengungkapkan sukacita dan kegembiraan, kesulitan dan tantangan, kerinduan serta harapan. Dalam Firman, seorang imam mendapatkan terang atau cahaya yang menuntunya dalam jalan, kebenaran dan hidup. Di dalam Ekaristi, seorang imam belajar untuk menjadi roti yang terpecah-pecah dan darah yang tercurah untuk hidup banyak orang. Dia ada untuk memberi diri dalam cinta bagi semua orang.
Salam dari Bukit Bantik Pineleng !