Home Ā» Melihat dengan Belas Kasih, Bertindak dengan Keberanian

Melihat dengan Belas Kasih, Bertindak dengan Keberanian

by Leonardus Ansis
0 comments

Renungan Pagi
07.07.2026

Bacaan: Matius 9:32–38

Anak-anak,
Bapa, Mama,
Saudara-saudari terkasih,

Ada satu kalimat dalam Injil hari ini yang layak kita renungkan sepanjang hari:

ā€œMelihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka.ā€ (Mat. 9:36).

Mari kita perhatikan baik-baik.

Mukjizat dalam Injil hari ini tidak dimulai dari tangan Yesus.

Mukjizat dimulai dari cara Yesus memandang manusia.

Ia melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan.

Ia tidak melihat orang sebagai rentetan angka.

Ia tidak melihat mereka sebagai massa.

Ia tidak melihat mereka sebagai pendukung atau lawan.

Ia melihat mereka sebagai manusia yang lelah, terluka, bingung, kehilangan arah, dan merindukan harapan.

Inilah yang sedang hilang dari kehidupan publik kita.

Kita hidup di zaman yang penuh informasi, tetapi miskin perhatian.

Setiap hari kita menggulir layar telepon genggam. Kita melihat bencana, kemiskinan, korupsi, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kerusakan hutan, pencemaran sungai, ujaran kebencian, serta pertikaian di media sosial.

Namun karena semuanya datang silih berganti, hati kita perlahan menjadi kebal.

Yang seharusnya membuat kita menangis, kini hanya kita lewati dengan satu gerakan jari.

Yang seharusnya menggerakkan kaki kita untuk menolong, kini cukup kita balas dengan tanda suka atau komentar.

Padahal belas kasih tidak pernah berhenti pada rasa iba.

Belas kasih selalu berubah menjadi tindakan.

Yesus tidak hanya berkata, ā€œKasihan mereka.ā€

Ia berjalan.
Ia menyembuhkan.
Ia memulihkan martabat.
Ia mengutus murid-murid-Nya.

Di Indonesia hari ini, Tuhan masih melihat banyak orang yang ā€œseperti domba tanpa gembala.ā€

Mereka adalah petani yang gagal panen karena musim yang berubah.

Nelayan kecil yang hasil tangkapannya semakin tidak menentu.

Anak-anak yang kehilangan masa depan karena kemiskinan, kekerasan, atau kecanduan gawai dan judi daring.

Kaum muda yang cerdas tetapi kehilangan arah hidup.

Keluarga yang tinggal serumah tetapi semakin jauh karena masing-masing sibuk dengan layar ponsel.

Para pekerja yang jujur tetapi tersingkir oleh budaya suap dan nepotisme.

Masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanah dan sumber kehidupannya.

Mereka semua adalah wajah-wajah yang sedang dipandang Yesus dengan kasih.

Pertanyaannya bukan lagi:

ā€œApakah Tuhan melihat mereka?ā€

Tuhan sudah melihat.

Pertanyaan sesungguhnya adalah:

ā€œApakah kita mau melihat mereka dengan mata yang sama?ā€

Lalu Yesus berkata,

ā€œTuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.ā€

Masalah dunia bukan hanya karena banyaknya orang jahat.

Sering kali masalahnya justru karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.

Diam ketika korupsi dianggap biasa.

Diam ketika hoaks memecah persaudaraan.

Diam ketika alam dirusak demi keuntungan sesaat.

Diam ketika anak-anak kehilangan perlindungan.

Diam ketika orang miskin diperlakukan seolah tidak terlihat.

Iman Kristen tidak pernah dipanggil menjadi penonton.

Iman selalu menjadi pelaku.

Kita sering berdoa agar Tuhan mengubah Indonesia.

Tetapi mungkin Tuhan sedang menunggu orang-orang yang bersedia dipakai-Nya untuk mengubah Indonesia.

Sesungguhnya hidup selalu meminta tanggung jawab dari kita. Pertanyaan terbesar bukanlah, ā€œApa yang saya harapkan dari hidup?ā€ melainkan, ā€œApa yang hidup dan Tuhan harapkan dari saya saat ini?ā€

John Henry Newman menulis:

ā€œGod has created me to do Him some definite service.ā€

ā€œAllah menciptakan aku untuk suatu tugas yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun.ā€

Kalimat itu sangat relevan bagi kita.

Jika engkau seorang guru, jadilah guru yang membangkitkan harapan.

Jika engkau seorang petani, rawatlah tanah sebagai titipan Allah bagi anak cucu.

Jika engkau seorang nelayan, jagalah laut, jangan hanya mengambil hasilnya.

Jika engkau seorang pegawai negeri, layani masyarakat dengan jujur.

Jika engkau seorang pengusaha, jangan hanya mencari laba, tetapi juga menciptakan martabat melalui pekerjaan yang adil.

Jika engkau seorang imam, religius, atau pelayan Gereja, jangan pernah kehilangan keberanian untuk berdiri di pihak mereka yang kecil, miskin, dan tersingkir.

Jika engkau seorang muda, jangan biarkan media sosial membentuk hatimu menjadi keras. Gunakan teknologi untuk menyebarkan kebenaran, membangun persaudaraan, dan menumbuhkan harapan.

Karena pekerja Kerajaan Allah bukanlah mereka yang banyak berbicara tentang iman.

Melainkan mereka yang membuat orang lain merasakan kasih Allah melalui kehadiran dan tindakannya.

Hari ini, sebelum kita memulai pekerjaan, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Siapakah satu orang yang akan kuringankan bebannya hari ini?

Ketidakadilan apa yang tidak akan kudiamkan?

Kebaikan konkret apa yang akan kulakukan sebelum matahari terbenam?

Mungkin dunia tidak berubah karena satu tindakan kita.

Tetapi hidup seseorang bisa berubah karena satu tindakan kasih yang kita lakukan dengan setia.

Dan di situlah Kerajaan Allah mulai bertumbuh.

Bukan dengan suara yang paling keras.

Melainkan melalui hati yang paling berbelas kasih dan tangan yang paling siap melayani.
———-***———

Doa

Tuhan Yesus, anugerahkanlah kepadaku mata yang mampu melihat penderitaan, hati yang berani tergerak oleh belas kasih, pikiran yang jernih untuk membedakan yang benar, serta tangan yang tidak lelah melakukan kebaikan. Jangan biarkan aku menjadi penonton yang hanya mengeluh tentang keadaan bangsa ini. Jadikanlah aku murid-Mu yang menghadirkan kejujuran di tengah korupsi, persaudaraan di tengah perpecahan, harapan di tengah keputusasaan, dan kasih di tengah kebencian. Semoga melalui hidupku, orang lain mengalami sentuhan kasih-Mu.
Amin.
————***————
MIKE KERAF, CSsR
R.A. D’SOS,
Sumba Barat Daya,
07.07.2026

You may also like