Araswaraku Renungan Menjadi Murid Yesus Ketika Tidak Ada yang Berani Berdiri Leonardus AnsisJuly 7, 2026013 views Renungan Pagi08.07.2026 Bacaan Injil: Matius 10:1–7 Anak-anak,Bapa, Mama,Saudara dan saudariku terkasih. Selamat pagi. Pagi ini kami baru saja selesai berdoa bersama anak-anak di Rumah Aman. Doa kami diperkaya dengan cerita hidup dari anak-anak. Mereka bersaksi. Anak-anak berbagi pengalaman sederhana tentang bagaimana mereka ingin menjadi murid Yesus: ketika berhadapan dengan diri sendiri yang sedang marah atau kecewa, ketika berjumpa dengan sesama yang membutuhkan pertolongan, ketika menghadapi situasi yang tidak adil, ketika berhadapan dengan sistem yang kadang membiarkan orang kecil menderita, bahkan ketika berhadapan dengan Ibu Bumi yang sedang dilukai oleh keserakahan manusia. Lalu Injil hari ini tiba-tiba menjadi sangat nyata. Semalam, seorang nenek datang ke Rumah Aman bersama tiga orang cucunya. Mereka datang bukan membawa koper penuh pakaian. Mereka datang membawa ketakutan. Mereka mengalami kekerasan yang berulang dari sang ayah. Mereka lari jauh ke Sumba Timur untuk berlindung pada sang nenek. Ibu mereka sudah beberapa lama meninggalkan rumah untuk bekerja. Sang nenek akhirnya memilih mendengarkan suara nuraninya. Ia melapor kepada polisi. Bersama pihak UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sumba Barat Daya, ketiga anak itu dibawa ke Rumah Aman Donders agar mereka memperoleh perlindungan dan kesempatan untuk kembali merasakan bahwa dunia masih memiliki tempat yang aman. Bukankah pada saat itu sang nenek sedang melakukan apa yang dilakukan para murid Yesus? Ia tidak berkhotbah. Ia tidak mengutip ayat Kitab Suci. Ia hanya memilih berdiri di pihak kehidupan. Kadang-kadang, menjadi murid Yesus berarti memiliki keberanian untuk berkata, “Cukup. Kekerasan harus berhenti.” Menjadi murid Yesus bukan pertama-tama soal berbicara tentang kasih. Menjadi murid Yesus adalah melindungi mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Yang lebih mengharukan lagi terjadi sesudah mereka tiba. Anak-anak Rumah Aman tidak bertanya, “Mengapa mereka datang?” Mereka tidak menghakimi masa lalu teman-teman baru mereka. Mereka tidak menjaga jarak. Mereka justru berlari menyiapkan kamar, merapikan tempat tidur, mengambil selimut, menemani mereka berbicara pelan-pelan, mengajak bermain, dan perlahan-lahan mengembalikan rasa aman yang sempat dirampas oleh kekerasan. Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada kamera.Tidak ada pemberitaan. Tetapi saya percaya, Kerajaan Allah hadir di sana. Bukankah Yesus berkata, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.” Ternyata Kerajaan Allah kadang hadir bukan melalui mukjizat yang besar. Kerajaan Allah hadir ketika seorang anak yang semalam menangis mulai berani tersenyum karena merasa diterima. Kerajaan Allah hadir ketika seseorang yang ketakutan akhirnya bisa tidur dengan tenang. Kerajaan Allah hadir ketika ada orang yang memilih melindungi daripada membiarkan, memeluk daripada menghakimi, mendengarkan daripada menyalahkan. Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari kekuasaan, uang, dan popularitas, Yesus justru mengukur keberhasilan seorang murid dari keberaniannya menghadirkan belas kasih. Di Indonesia hari ini, kita membutuhkan lebih banyak murid seperti sang nenek itu. Kita membutuhkan lebih banyak aparat yang berpihak kepada korban. Lebih banyak guru yang peka terhadap anak yang terluka. Lebih banyak tetangga yang berani peduli. Lebih banyak keluarga yang menjadi tempat pulang, bukan tempat orang melarikan diri. Dan kita membutuhkan lebih banyak anak-anak yang, seperti anak-anak di Rumah Aman, mampu menerima teman baru tanpa prasangka. Sering kali kita berpikir bahwa mengubah dunia harus dimulai dari kebijakan besar. Padahal dunia sering berubah karena seseorang berani melakukan satu tindakan kasih pada saat yang paling menentukan. Mengutip John Henry Newman, bahwa Allah menciptakan setiap orang untuk suatu tugas yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Mungkin tugas sang nenek adalah menyelamatkan tiga cucunya. Mungkin tugas anak-anak di Rumah Aman adalah mengembalikan senyum mereka. Dan mungkin tugas kita hari ini adalah menjadi orang yang membuat orang lain merasa aman untuk tetap percaya bahwa kasih masih ada. Viktor Frankl mengatakan bahwa makna hidup ditemukan ketika kita menjawab panggilan situasi yang sedang ada di hadapan kita.Situasi semalam bertanya kepada semua orang di Rumah Aman, “Apakah kalian akan membiarkan mereka sendirian?” Dan jawabannya diberikan bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tangan yang menata tempat tidur, dengan senyum yang menyambut, dan dengan hati yang membuka ruang bagi mereka yang terluka. Kiranya setiap pagi kita berani bertanya: Siapa yang sedang Tuhan percayakan kepadaku hari ini? Sebab menjadi murid Yesus bukan hanya datang kepada-Nya. Menjadi murid Yesus adalah membuat setiap orang yang terluka dapat merasakan bahwa melalui diri kita, Kristus sendiri masih berjalan di dunia. Semoga Rumah Aman tidak hanya menjadi sebuah bangunan. Semoga ia menjadi sebuah Injil yang hidup. Tempat di mana orang-orang yang terluka kembali percaya bahwa kasih lebih kuat daripada kekerasan, harapan lebih kuat daripada ketakutan, dan kehidupan lebih kuat daripada segala bentuk kematian. Semoga renungan ini juga menjadi penghormatan bagi keberanian sang nenek, dedikasi para petugas yang melindungi korban, dan terutama bagi anak-anak Rumah Aman yang telah mengajarkan bahwa menjadi murid Yesus dimulai dari tindakan kasih yang sederhana, hening, dan nyata.————***———-MIKE KERAF, CSsRR.A. D’SOS,Sumba Barat Daya,08.07.2026