MERDEKAKAN KAMI YA TUHAN( Kiat Mmenguji Kemurnian Motivasi Dalam Beriman & Berama l)

DAILY WORDS, SENIN, 12 OKTOBER 2026
PEKAN BIASA XXVIII – TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I: GAL 4: 22 – 24. 26 – 26. 31 – 5: 1
MAZMUR T: MZM 113: 1 – 2. 3 – 4. 5a. 6 – 7
INJIL: LUK 11: 29 – 32

Pada tahun 1993, pasca-Gempa Flores 12 Desember 1992, Seminari San Dominggo Hokeng mulai menerapkan latihan bela diri bagi para siswa seminari yang disebut THS (Tunggal Hati Seminari). Selain latihan fisik, kami juga dipandu untuk melakukan pengolahan napas. Pengolahan napas ini dipraktikkan di dalam meditasi dan kontemplasi. Dalam proses perkembangannya, banyak siswa seminari terobsesi untuk bermeditasi dan mempraktikkan latihan napas hanya untuk memperoleh tenaga dalam. Bahkan tenaga dalam ini pun dipakai untuk menyembuhkan seseorang dari sakit fisik yang diderita. Untuk membuktikan bahwa seseorang sudah dapat memberdayagunakan tenaga dalam lewat keuletannya dalam latihan pernapasan dan meditasi, dibuatlah demonstrasi-demonstrasi. Ada siswa yang berhasil, namun lebih banyak yang gagal. Perlahan, praktik meditasi yang pada saat awalnya digandrungi begitu banyak siswa, akhirnya ditinggalkan. Terbukti, orang hanya mau bermeditasi – berjumpa dengan Tuhan hanya untuk memperoleh tenaga dalam. Kasihan!

Ada banyak praktik doa yang dijalankan hanya untuk menarik orang lewat penyembuhan-penyembuhan fisik. Benar, ada yang memang mengalami penyembuhan. Sayangnya, ada banyak orang yang termotivasi untuk bergabung dengan grup-grup doa tertentu hanya untuk tujuan demikian. Ketika target tidak tercapai atau terpenuhi, perlahan mereka mulai meninggalkan Persekutuan Doa bersangkutan. Kasihan!

Ada banyak orang yang menghidupi iman secara kaku. Semuanya harus ikut aturan ini dan itu. Padahal ada banyak kasus khusus yang sebenarnya bisa dibuat pertimbangan pastoral. Orang-orang yang kaku dan tradisional ini menunjukkan tendensi legalistik dalam setiap keputusan dan tindakan atau jalan keluar. Fatalnya, ada nilai-nilai kemanusiaan dan cinta kasih dikorbankan atau dilalaikan. Kasihan!

Dalam kehidupan harian, saya juga menemukan begitu banyak orang yang melakukan sesuatu hanya didasari oleh motivasi “asal bapak senang” atau “asal mama senang”. Hidup mereka hanya untuk menyenangkan bos. Bos tidak ada di tempat, kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk kembali diulangi. Kalau bos ada, ya dia pasti ada. Kalau bos absen, dia pun menghilang. Kasihan!

Contoh-contoh yang saya beberkan di atas hendak menggambarkan bahwa saya dan mungkin saudara-saudari sekalian masih hidup dalam perhambaan dosa. Sementara St. Paulus menegaskan kepada kita lewat suratnya kepada jemaat di Galatia bahwa Kristus telah memerdekakan kita. Jangan lagi kita diperhamba dengan mentalitas pamrih: bermeditasi untuk dapat tenaga dalam, masuk grup doa hanya untuk bisa sembuh, atau berbuat sesuatu hanya untuk menyenangkan hati bos atau cari muka. Bagi saya, sikap-sikap demikian menunjukkan bahwa orang tidak hidup apa adanya, melainkan lebih banyak bermain drama atau sandiwara. Inilah satu indikator kesombongan terselubung.

Terhadap hal ini, Pemazmur mengajak kita untuk bertindak seperti Allah. Dia yang dari tempat tinggi, telah merendahkan diri-Nya untuk melihat ke langit dan ke bumi. Hendaknya kita mengambil sikap rendah hati, hidup apa adanya dan bukan sekadar bersandiwara atau berusaha menyenangkan bos atau pimpinan saja.

Jika kita bertahan untuk hidup dalam ambisi mengejar hal-hal spektakuler atau penyembuhan yang ajaib, atau sekedar menyenangkan pihak-pihak tertentu, kita tidak ada bedanya dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hidup mereka sungguh terbelenggu oleh ambisi-ambisi sosial politik hanya karena ketertindasan mereka oleh bangsa Romawi. Mereka menutup mata terhadap kehadiran Yesus Kristus dan lebih mengimpikan pembebas yang spektakuler. Mereka sungguh diperhamba oleh angan-angan yang besar, sementara Tuhan yang tampil dalam diri seorang Putera Manusia yang sederhana justru mereka abaikan.

Mari kita saling mendoakan, semoga hidup iman dan setiap tindakan kita dilandasi oleh motivasi-motivasi yang murni, dan bukan sekadar menyenangkan hati orang-orang tertentu di dalam hidup. Hendaknya doa-doa kita berisikan permohonan untuk menjadi merdeka dalam melayani Tuhan dan sesama.
Have a great Monday filled with love and compassion.
Padre Pio Lawe, SVD

Related posts

TIDAK SEKEDAR TANDA TAPI JADILAH ORANG BAIK

ENGKAULAH YANG MENENTUKKAN KESELAMATANMU

FIRMAN YANG MENYELAMATKAN