Refleksi Pastoral Pekan Suci Di Banda Neira (1) Leonardus AnsisApril 15, 2025022 views Olah: RP. Jimmy Balubun, MSC Sejak abad 15 Banda Neira merupakan jantung perdagangan international. Bangsa Eropa berloma lomba menguasai pulau yang disebut ‘the island’s nutmeg’. Rempah rempah bernilai sangat tinggi membuat pulau kecil nan exoctic memiliki nilai dagang terbesar dalam sejarah. Myristica Fragrans, nama latin dari pohon Pala menjadi komoditas yang menggerakkan perniagaan lintas benua. Dulu, harganya bahkan lebih mahal daripada kepingan emas. Rempah rempah ini disebut juga sebagai ‘the gold of the spice trading’. Portugis, Belanda, Inggris adalah sejumlah negara yang berdatangan dari ujung dunia, mereka berperang, saling menaklukan merebut ‘harta karun’ yang bernilai itu. Sejarah mencatat pada 31 Juli 1667, Belanda dan Inggris menandatangani Perjanjian Breda yang salah satu isinya tentang kesepakatan tukar guling antara dua pulau. “Pulau Run yang sebelumnya dikuasai Inggris menjadi milik Belanda. Adapun Pulau Nieuw Amsterdam (kini Manhattan) di Amerika yang awalnya koloni Belanda resmi menjadi hak Inggris. Tadi di pesawat, duduk di sebelah saya seorang turis dari Amerika. Setelah berkenalan dan bercerita, saya mengatakan kamu tentu sudah membaca sejarah perjanjian Breda, perihal tukar guling Manhattan dan Pulau Run, dia tersenyum dan mengatakan unbelievable, no words, it’s clear that if we know the past we understand the present.. Related posts:Refleksi Kunjungan Pastoral: Gembala Menyapa Domba-NyaTuesday April 14, 2026Refleksi PastoralSeminari SYV Saumlaki adalah jantung keuskupan kitaThursday June 4, 2026Refleksi PastoralRATU NORKIT MONUK DEDESAR, UBILAA NORANG ITA DIDTINEMUNFriday April 24, 2026Refleksi Pastoral