Home » Pesta St. Teresia dari Kanak – Kanak Yesus

Pesta St. Teresia dari Kanak – Kanak Yesus

by Leonardus Ansis
0 comments

DAILY WORDS

Kamis, 01 Oktober 2026

Pekan Biasa XXVI – Tahun A

By RP. Pius Lawe, SVD

Bacaan I  : Yes 66: 10 – 14b
Mzm       : 131: 1.2.3
Injil     : Mat 18: 1 – 5

Dalam proses membuat analisa sosial (ansos), dosen Misiologi STFK Ledalero, P. Dr. John Prior, SVD (alm.) mengajak kami, para mahasiswa/mahasiswi, menonton sebuah film berjudul “The Mission”. Ini adalah satu film sejarah yang menceritakan misi para misionaris Jesuit di wilayah perbatasan Paraguay, Argentina dan Brasil, wilayah di sekitar air terjun Iguazhyu. Ada satu adegan yang sangat menyentuh hatiku adalah ketika Pastor Gabriel (Jeremi Iron) dicegal oleh kaum Guarani (salah satu suku asli di wilayah Amerika Latin) oleh karena dia sedang mencoba masuk ke wilayah pedalaman, tempat orang-orang Guarani hidup. Beliau masuk, dengan pertama-tama, memainkan sebuah alat musik tiup yang disebut oboe. Meskipun diancam dengan berbagai cara bahkan dengan mematahkan alat musik yang sedang dimainkannya, dia tetap tabah dan menyerahkan diri ke dalam tangan para penduduk Guarani dan dituntun ke tempat kediaman mereka. Akhirnya dia diterima sangat baik oleh para kaum Guarani. Pastor Gabriel yang menolong membangun misi San Carlos di wilayah itu, akhirnya mati bersama kaum Guarani akibat konflik kepentingan antara bangsa Portugis dan bangsa Spanyol. Satu pesan yang kuat datang dari cara Pastor Gabriel menghadirkan dirinya di tengah kaum Guarani adalah ketulusan, kepolosan, kerendahan hatinya untuk menolong sesama tanpa agenda-agenda sosial politik yang tersembunyi.

Hari ini, Gereja Kudus merayakan Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pelindung Misi. Dia dikenal sebagai pelindung misi. Anehnya, St. Teresia adalah seorang biarawati Karmel yang memiliki kondisi fisik yang lemah dan hidup tersembunyi di dalam biara namun dinobatkan sebagai seorang santa pelindung misi. Mengapa? Saya pernah menonton film dokumenter tentang St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus. Benar bahwa dia hidup sebagai seorang biarawati yang sederhana namun tekun dalam doa. Fisiknya yang lemah tidak memungkinkan dia untuk melakukan pekerjaan berat atau kasar. Dia menampilkan diri sebagai seorang anak yang polos namun tekun di dalam doa. Inilah bukti jiwa atau spirit seorang anak kecil: memasrahkan seluruhnya pada kehendak Allah, tidak mempunyai kepentingan lain atau agenda tersembunyi untuk popularitas diri.

Baik St. Teresia maupun Pastor Gabriel, keduanya tidak mempunyai agenda tersembunyi. Pastor Gabriel tidak mempunyai kepentingan yang lebih di pedalaman daerah perbatasan tempat kaum Guarani hidup, selain itikad baiknya untuk membangun peradaban masyarakat setempat dan memperkenalkan iman akan Tuhan Yesus Kristus – Sang Penebus. Keberanian Pastor Gabriel membuktikan bahwa dia hanya berserah total kepada Allah. Begitupun St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang juga berani melepaskan segala, melepaskan kepentingan-kepentingan duniawi dan rela mengikuti Tuhan sebagai seorang biarawati Karmel.

Apa yang saya nonton tentang hidup St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus maupun apa yang saya nonton dalam film The Mission tentang misi Pastor Gabriel, keduanya mencerminkan apa yang menjadi inti pesan dari firman Tuhan hari ini: memakai jalan yang sederhana untuk menciptakan Kerajaan Allah. Spiritualitas “kesederhanaan” ini yang Yesus simbolkan dengan kehadiran seorang anak kecil (Mat 5: 3 – 5). Jika saya mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, saya mesti bertobat dan mengenakan semangat seorang anak kecil: polos, tidak punya ambisi tertentu, tidak manipulatif, dan sungguh-sungguh menggantungkan hidupnya pada orang tuanya (Tuhan). Jika saya mau masuk dalam Kerajaan Allah, saya mesti menanggalkan semua kesombongan, keangkuhan, kepentingan pribadi-ku dan menggantungkan seluruh hidupku hanya kepada Allah. Inilah yang didengungkan dalam Mazmur 131: 1.

Bertobat dan memiliki jiwa bak seorang anak kecil itu digambarkan oleh nabi Yesaya dalam gambaran “sukacita” yang dialami seseorang karena keyakinan bahwa Allah telah memperhatikan dirinya seperti seorang ibu yang menggendong dan menyusui serta membelai-belainya. Sebagai seorang imam dan biarawan misionaris, jika saya sungguh percaya pada Allah sebagai ibu yang menggendong – mengasihi – mengasuh-ku dengan penuh kasih sayang, tentunya saya akan melayani dengan tulus dan polos tanpa ada iming-iming kepentingan itu dan itu (ingat kepasrahan total Pastor Gabriel dalam The Mission). Pemazmur dalam seruannya menegaskan hal yang sama dengan berkata, “Sungguh, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” (Mzm 131: 2).

Pada pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, saya belajar untuk melayani sebagai seorang imam misionaris yang rendah hati, tidak sombong, tidak mempunyai agenda atau ambisi tertentu, tidak manipulatif dan memperkaya diri sendiri. Saya belajar menjadi seperti seorang anak kecil yang pasrah total pada kehendak Allah, sebagaimana telah dihidupi oleh St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan Pastor Gabriel dalam misi-nya yang sangat militan di tengah kaum Guarani. Semoga demikian. Have a wonderful day filled with love. My warm greetings to you all from Masohi manise…

designed by AI and original reflection by Padre Pio Lawe, SVD

You may also like