Home Ā» Sejenak Sabda

Sejenak Sabda

by Leonardus Ansis
0 comments


(Minggu, 31-05-2026)

Semoga kasih Allah memberkati kita selalu

Bacaan-Bacaan Liturgi
Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Bac I: Kel 34:4b-6.8-9
Bac II: 2 Kor 13:11-13
Bac Injil: Yoh 3:16-18

Pesan Tuhan Hari Ini

Pertama, Manusia diciptakan menurut citra Allah yang relasional yakni relasi Tritunggal Mahakudus. Sehingga kita dipanggil untuk meruntuhkan egoisme dan individualisme. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri sendiri. Hidup kita baru bermakna ketika kita membuka diri, membangun relasi yang sehat, dan hidup dalam persekutuan (komunitas) yang saling mendukung di tengah keluarga dan masyarakat.

Kedua, kasih adalah Komunikasi dan Penyerahan Diri Total (Self-Giving). Bapa menyerahkan Putra-Nya yang tunggal demi dunia. Di dalam Tritunggal, setiap Pribadi Ilahi saling memberikan diri seutuhnya kepada Yang Lain tanpa menahan apa pun. Oleh karena itu, dalam kehidupan moral praktis, khususnya dalam hidup berkeluarga dan persahabatan, kasih sejati menuntut penyerahan diri dan komunikasi yang tulus. Kasih bukan soal “apa yang bisa saya dapatkan dari orang lain,” melainkan “apa yang bisa saya berikan demi kebaikan orang lain.” Tritunggal mengajar kita bahwa memberi diri tidak membuat kita kehilangan identitas, melainkan justru membuat kita utuh.

Ketiga, menghargai perbedaan dalam Kesatuan (Unity in Diversity). Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang berbeda dengan “peran” yang khas (Bapa yang mencipta dan mengutus, Putra yang menebus dan menjelma menjadi manusia, Roh Kudus yang menguduskan). Namun, Ketiganya adalah Satu Allah yang tidak terpisahkan. Dan Ini adalah dasar moral untuk inklusivitas dan toleransi. Perbedaan latar belakang, karakter, atau pandangan di antara manusia tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan. Kita dipanggil untuk menciptakan kesatuan di dalam kepelbagaian. Seperti Tritunggal, keharmonisan sosial tercapai ketika perbedaan dihormati dan disatukan oleh ikatan kasih.

Keempat, sebagai gambar dan rupa Allah, tindakan moral kita sehari-hari harus bersifat membangun dan memulihkan, bukan menghancurkan. Ketika melihat sesama yang jatuh, gagal, atau tersesat, respons kita seharusnya bukan mengucilkan atau menghakimi mereka, melainkan menjadi perpanjangan tangan Tritunggal untuk merangkul, mengampuni, dan membawa pemulihan bagi mereka.

Marilah berdoa
Ya Allah berkatilah kami agar hidup kami dipenuhi kasih, menolak sikap menghakimi, menghargai perbedaan, dan berani berkorban demi keutuhan sesama manusia.

Salam kasih dan doa,
RD. Domincs Baldawins Masriat

You may also like