.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah!

Sungguh sebuah kabar yang menyejukkan hati mendengar bagaimana saudara-saudara kita dari Legium Christi (LC) Pasukan Kristus turut menjaga kekhusyukan ibadah di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

​Berikut adalah refleksi mengenai indahnya harmoni tersebut:

​Refleksi:

Sajadah dan Salib dalam Dekapan Kasih Tanimbar

​Di bawah langit pagi Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebuah pemandangan indah tersaji bukan dari alamnya, melainkan dari nurani manusianya. Ketika takbir berkumandang memuji kebesaran Allah SWT, di sana berdiri tegap pemuda-pemuda Katolik yang tergabung dalam Legium Christi (LC).

Mereka tidak sedang beribadah di dalam masjid, namun mereka sedang memuliakan Tuhan melalui pengabdian kepada sesama.

​1. Toleransi yang Hidup.

Bukan Sekadar Slogan
​Kehadiran LC di sepanjang jalan poros Polres KKT membuktikan bahwa toleransi di Tanimbar bukanlah teori di dalam buku, melainkan nadi yang berdenyut. Saat umat Muslim bersujud dalam damai, umat Kristiani menjadi “pagar hidup” yang memastikan kedamaian itu tidak terusik. Ini adalah manifestasi nyata dari semangat Duan Lolrat, di mana persaudaraan melampaui sekat keyakinan.

​2. Keamanan yang Bersumber dari Kasih

​Membantu mengamankan jalannya Salat Idul Fitri adalah simbol bahwa rasa aman adalah hak setiap insan. Ketika LC turun ke jalan, mereka sedang mengirimkan pesan kuat:

“Ibadahmu adalah kehormatanku.”

Kehadiran mereka menghapus sekat mayoritas dan minoritas, berganti menjadi satu identitas: Manusia Tanimbar yang religius dan inklusif.

​3. Menenun Kembali Tenun Kebangsaan

​Di tengah dunia yang sering kali terbelah karena perbedaan, Tanimbar memberikan teladan bagi Indonesia.

Refleksi pagi ini mengajarkan kita bahwa:
​Perbedaan bukan pemisah, melainkan warna yang memperkaya.
​Agama bukan tembok, melainkan jembatan untuk saling melindungi.
​Kehadiran fisik LC adalah bentuk doa dalam perbuatan (Laborare est Orare).

​”Indahnya hidup bertoleransi bukan saat kita berdiri bersama di tempat yang sama, melainkan saat kita saling menjaga ketika saudara kita sedang menghadap Sang Pencipta dengan caranya.”

Terima kasih kepada LC Pasukan Kristus Wilayah KKT atas dedikasinya. Semoga semangat ini terus menyala dan menjadi berkat bagi seluruh Bumi Duan Lolrat. (RD Ponsio08).

Related posts

Ingatlah teladan Santo Bonifasius

Seminari SYV Saumlaki adalah jantung keuskupan kita

Terimakasih Pastor Paroki