Home Ā» SIGNIFIKANSI/PENTINGNYA IMAN DI DALAM MEMBUAT PILIHAN

SIGNIFIKANSI/PENTINGNYA IMAN DI DALAM MEMBUAT PILIHAN

by Leonardus Ansis
0 comments

DAILY WORDS, KAMIS, 19 FEBRUARI 2026
KAMIS SETELAH RABU ABU – MASA PRAPASKAH,TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : UL 30: 15 – 20
MAZMUR T : MZM 1: 1 – 2. 3. 4. 6
INJIL : LUK 9: 22 – 25

@ Sering, kita dihadapkan pada situasi ā€œbimbang/raguā€. Memilih yang ini, takut salah. Memilih yang itu, takut memikiul resikonya. Memilih yang ini, takut kehilangan sesuatu. Memilih yang itu, takut dapat merugikan yang lain. Maju salah mundur pun salah. Maju benar, namun takut pikul konsekuensinya. Mundur salah dan tetap mundur, demi enaknya, tetapi enak sesaat saja. Pada situasi seperti inilah, kita membutuhkan satu senjata ampuh agar kita tidak tinggal pada keraguan/kebimbangan, atau bahkan membuat pilihan yang salah. Jangan pernah kita menetap pada titik persimpangan. Jangan pula kita menjadi ABU-ABU. You got to choose, no matter what ! Perlu adanya discernment/pembedaan roh. Prapaskah – Retreat Agung adalah saat untuk mengasah ketajaman kita dalam membuat discernment.

@ Dalam kisah perjalanan keluar dari tanah Mesir, di saat bangsa Israel masih sedang mengembara di padang gurun menuju tanah terjanji, mereka sering dihadapkan pada situasi dilematis. Terlebih ketika mereka sedang dihadapkan pada kesulitan yang luar biasa (lapar, haus, sakit penyakit, dst.) Pada saat mengalami kesusah dan penderitaan, ada tawaran lain yang datang dari bangsa-bangsa asing yang mereka jumpai di perjalanan. Ada godaan-godaan untuk menyembah pada allah-allah yang lain, dewa-dewi bangsa asing yang menawarkan sesuatu yang enak, nyaman meskipun kenikmatan atau kenyamanan itu bersifat sementara. Di sinilah iman dan penyerahan diri yang total bangsa Israel pada Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, diuji. Namun, melalui bacaan suci hari ini, kita mengetahui bahwa Allah justru mengemukakan secara lugas konsekuensi yang ditanggung oleh Israel saat membuat satu pilihan. Jika seesuai dengan titah Tuhan sendiri, ya pilihan itu bakal jadi berkat. Jika sebaliknya tidak sesuai atau berlawanan dengan titah Tuhan, pilihan itu menjadi kutukan – membawa mereka kepada penderitaan atau kesusahan atau bahkan kematian.

@ Di dalam Injil yang kita renungkan hari ini, Yesus justru menghadapkan para murid-Nya pada pilihan yang lebih tegas dan menukik. Jika hendak memilih Dia, siap kehilangan nyawa. Kehilangan nyawa dapat diartikan sebagai: matikan ambisi pribadi, matikan keinginan yang bersifat sementara, matikan kesenangan atau kenikmatan sesaat, matikan kerakusan pada harta milik dunia, matikan ambisi untuk berkuasa, bahkan lawan kemauan mayoritas yang menggiring pada tindakan-tindakan hedonis, siap kehilangan kawan atau ā€œ konco ā€ dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani – tidak sesuai dengan aturan main sebuah institusi – berlawanan dengan statuta atau aturan baku bersama yang membawa kepada bonum commune (kebaikan bersama). Ya, kita bisa melitanikan semua hal yang dapat kita golongkan di dalam ā€œ kehilangan nyawa ā€. Kehilangan nyawa juga bisa berarti: siap dipermalukan demi kebenaran, siap kehilangan sahabat demi penegakan aturan bersama, siap menjadi pemimpin yang ā€œ tidak atau kurang populerā€ . Yang penting jangan ABU-ABU. Yesus tegaskan sekali lagi: mau ikut beta, siap bertaruh nyawa – buat pilihan yang tegas.

@ Berhadapan dengan tantangan yang dihadapkan Yesus kepada kita, apa yang harus saya perbuat? Ya, mau ikut Yesus berarti siap kehilangan nyawa. Hmm, sering saya diliputi ketakutan, kegelisahan, kecemasan. Takut malu, takut direndahkan, takut diklaim ā€œkalahā€ dalam pertarungan pilihan nilai, dst. Namun Pemazmur di dalam anthipon-nya menyerukan sebuah syair yang menjanjikan, ā€œ Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaan pada Tuhan.ā€ Inilah senjatanya. Jika saya sungguh percaya pada Tuhan, salib bukanlah momok, ā€œkehilangan nyawaā€ bukanlah kutukan. Saya ulangi ktata-kata Mgr. Hans Monteiro: Imamat tanpa salib adalah KEKUASAAN; Imamat dengan Salib adalah Penyerahan diri total pada Allah dan Pengorbanan. Dengan ini, satu modal saja yang saya bisa pegang: keyakinan/kepercayaan dan penyerahan diri secara total pada Allah ketika saya memilih dan mengambil langkah untuk mengikuti Yesus. Jika demikian, pilihan yang saya buat bukan menjadi KUTUKAN melainkan RAHMAT meskipun di mata dunia bahkan dilihat sebagai KEBODOHAN. Havea great day filled with love and mercy. _ Enjoy the second day of Lent_ …padrepiolaweterengsvd šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»

You may also like