Daily Words Renungan CARA PANDANG TERHADAP HARTA DUNIAWI ( Bercermin pada Iman Abraham dan SP Maria) Leonardus AnsisOctober 20, 2025016 views DAILY WORDS, SENIN, 20 OKTOBER 2025PEKAN BIASA XXIX– TAHUN CBY RP. PIUS LAWE, SVD BACAAN I : ROM 4: 2-0 – 25MAZMUR : LUK 1: 69 – 70. 71 – 72. 73 – 75INJIL : LUK 12: 13– 21 Jika kita telusuri kisah panggilan Abraham, ada sesuatu yang luar biasa terjadi di sana. Abraham yang waktu itu masih dipanggil Abram, dengan sigap menjawab panggilan Allah. Tidak ada banyak diskusi. Dia langsung menuruti suruhan Allah. Ada janji-janji dari Allah terhadap Abram: negeri baru yang akan ditunjukkan kepadanya; jadikan Abram bangsa yang besar; memberkati keluarganya dan membuatnya masyur; Abram dan keluarga akan menjadi berkat; Allah akan memberkati orang-orang yang memberkati Abram dan keluarganhya, mengutuk orang-orang yang mengutuk Abram dan keluarganya; dari turunan Abram, semua orang di muka bumi mendapat berkat. Waoooo janji yang luar biasa. Dan Abram, sekali lagi, langsung menuruti perintah Allah. Tidak ada surat perjanjian yang ditanda-tangani di atas meterai. Yang ada hanyalah: METERAI IMAN – KEPERCAYAAN – KEYAKINAN. Di atas meterai IMAN inilah Abram mulai bertualang menuju negeri terjanji: Kanaan. Abram membawa sertanya segala yang dimilikinya. Ada satu yang tidak dapat dibawa serta olehnya: TANAH AIR-NYA – KENYAMANANNYA. Namun, Abram melakukan itu karena IMAN – KEPERCAYAAN – KEYAKINAN. Dalam IMAN, janji Allah dilihat Abraham sebagai KEBENARAN bukan KEBOHONGAN. Janji Allah yang dilihat sebagai KEBENARAN dan bukan KEBOHONGAN inilah yang memberanikan Abraham untuk meninggalkan TANAH AIR dan KENYAMANAN-NYA. Ya, meskipun Tanah Air dan kenyamanan adalah HARTA TERBESAR di dalam hidup, Abraham rela meninggalkan semuanya karena dia lebih melihat PERJANJIAN ALLAH sebagai KEBENARAN dan bukan KEBOHONGAN – ABUNAWAS – PARLENTE – KOLONGPOHONG. Dalam seruan Kidung Pujian Maria yang kita dengungkan dalam Mazmur Tanggapan hari ini, tersirat satu keyakinan akan janji Allah. Janji Allah itu sedang diwujudkan Allah dalam diri orang-orang kecil dan sederhana seperti Maria. Atas keyakinan akan JANJI ALLAH yang dilihat sebagai KEBENARAN, Bunda Maria menjawab YA terhadap TAWARAN ALLAH untuk menjadi BUNDA PENEBUS. Maria menjawab ya tanpa tedeng aling-aling. Ya, karena Maria melihat perjanjian Allah sebagai sebuah KEBENARAN, bukan suatu KEBOHONGAN – ABUNAWAS – PARLENTE – KOLONGPOHONG. Dalam keyakinan akan Janji Allah sebagai suatu KEBENARAN inilah, Maria dengan sigap meninggalkan segala kenyamanannya di Nazaret dan memulai suatu peziarahan sebagai Bunda Penebus yang mulai memanggul salib kehidupan Puteranya. Abraham dan Bunda Maria dengan sigap meninggalkan kenyamanan yang sudah menjadi Tanah Air yang menjanjikan. Keduanya merelakan HARTA PALING BERHARGA dalam kehidupannya yaitu KENYAMANAN direnggut demi suatu tujuan yang lebih luhur dan mulia. Di dalam hidup, kita mempunyai banyak harta. Mungkin secara finansial, tidak banyak yang punya. Cuma segelintir orang saja. Namun bukan berarti kita tidak punya sama sekali harta duniawi. Ingat, kenyamanan itu juga sebuah harta. Kenyamanan itu juga dapat ditunjang oleh ekonomi atau finansial yang memadai atatu mencukupi bahkan berkelebihan. Sering harta dunia membuat kita, atau merasa nyaman, atau kurang merasa nyaman. Orang-orang yang kaya tentu menyadari apa yang saya gambarkan di atas. Dalam kaitan dengan kenyamanan dan harta dunia (uang, tanah, rumah, dst.) saya justru tertegun – decak kagum dengan banyak orang (umat paroki, donatur – penderma, keluarga biarawan/imam) yang sama sekali tidak terikat dengan harta dunia yang saya sebutkan di atas. Mereka justru merasa nyaman ketika mereka melihat sesama yang sedang menderita kekurangan, mengalami kebahagiaan. Para penderma/donatur inilah yang sebenarnya sedang menghayati apa yang dihidupi oleh Abraham dan Bunda Maria: percaya pada janji Allah sebagai suatu KEBENARAN. Umat yang adalah penderma/donatur itu justru lebih yakin akan JANJI ALLAH tentang hidup kekal. Dan janji Allah ini diyakini sebagai SUATU KEBENARAN. Atas keyakinan ini, mereka tidak pernah mengikatkan diri dengan uang, tidak pernah mengeluh dan siap menderma, tidak pernah menceritakan kepada dunia kalau mereka selalu menderma. Ya, seperti Abraham dan Bunda Maria, para penderma/donatur/umat yakin akan HIDUP KEKAL sebagai jaminan akhir, dan bukan harta duniawi yang bersifat sementara ini. Mari kita saling mendoakan, semoga oleh gerakan Roh Kudus, kita sungguh yakin akan JANJI ALLAH sebagai sebuah KEBENARAN. Keyakinan inilah yang akan memengaruhi cara pandang dan sikap kita terhadap HARTA DUNIA. Have a wonderful day filled with love and compassion. padrepiolaweterengsvd 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼 Related posts:HATIMU ADALAH RUMAH BAGI SESAMAThursday April 30, 2026Embun PagiJADILAH RANTING YANG BERBUAHTuesday May 5, 2026Embun PagiJANGAN TAKUT UNTUK BERKORBAN DALAM PELAYANANTuesday May 26, 2026Embun Pagi