DAILY WORDS, SENIN, 19 JANUARI 2026
PEKAN BIASA II ā TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : 1 SAM 15: 16 ā 23
MAZMUR T : MZM 50: 8 ā 9. 16bc ā 17. 21. 23
INJIL : MRK 2: 18 ā 22
@ Judul di atas merupakan penggalan dari syair lagu Tantum Ergo yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan selalu kita nyanyikan pada saat Perarakan Sakramen Mahakudus maupun pada saat pemberkatan dengan Sakramen Mahakudus (benediktis). Di dalamnya kita memahami jika ada CARA LAMA yaitu cara yang ada di dalam Perjanjian Lama. Cara ini berhubungan dengan tata cara Persembahan Korban Bakaran yang dilakukan oleh bangsa Israel sesuai dengan petunjuk di dalam Pentateuch (Taurat Musa). Dalam Kitab Imamat, tertulis secara rinci tata cara mempersembahkan korban bakaran. Persembahan korban dapat berupa domba, sapi atau banten jantan tanpa cacat. Selain korban bakaran, ada juga korban sajian yang terbuat dari tepung halus, minyak, dan kemenyan. Korban sajian biasanya dipersembahkan berbarengan dengan korban bakaran. Tindakan mempersembahkan korban oleh bangsa Israel kepada Tuhan dapat merupakan suatu ungkapan syukur, pendamaian dengan Tuhan, penebusan atas kesalahan dan dosa, atau juga sebagai pernyataan sikap tobat dan ikhtiar untuk kembali mendekatkan diri dengan Allah. Dalam Perjanjian Baru, tata cara lama diganti dengan tata cara yang baru. Jenis korban bakarannya bukan lagi domba Jantan melainkan Kristus sendiri sebagai korban. Dia adalah Anak Domba Allah yang dikorbankan demi penebusan dosa umat manusia.
@ Raja Saul membiarkan rakyatnya mempersembahkan kepada Tuhan hasil jarahannya. Di satu pihak, Saul dan rakyatnya mengedepankan persembahan kepada Tuhan. Namun di pihak lain, Saul dan rakyatnya justru menggunakan cara yang tidak halal untuk memperoleh bahan persembahan. Dengan demikian, apa yang dipersembahkan merupakan sesuatu yang najis karena diperoleh dengan cara yang tidak halal. Atas tindakan ini, Samuel dengan tegas mengatakan kepada Saul bahwa Allah lebih berkenan pada pengamalan sabda-Nya ketimbang mempersembahkan korban. Allah memilih pelaksanaan firman-Nya ketimbang korban bakaran yang bahannya diperoleh dengan cara yang tidak jujur. Samuel menyerukan satu pembaruan atas hati nurani dan motivasi raja Saul dan rakyatnya. Mereka perlu bertobat dari cara-cara tidak halal. Jalan kebaikan dan kejujuran harus mereka kedepankan di dalam menjalin hubungan damai dengan Tuhan. Dalam hal ini, raja Saul dan rakyatnya mesti mengubah cara berpikir yang lama dengan motivasi yang dangkal, dan mengenakan satu semangat yang baru dengan motivasi yang murni dan luhur.
@ Yesus sendiri mengritik tindakan murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi yang menjalankan puasa dengan motivasi yang kabur. Mereka sekedar berpuasa tanpa memahami arti dan tujuan dari puasa yang mereka lakukan. Orang-orang Farisi mesti menanggalkan cara berpikir atau pemahaman dan penghayatan yang keliru tentang puasa. Puasa yang mereka jalankan sering kali didasari atas motivasi yang dangkal: sekedar show off/ pamer kepada public. Padahal puasa sebenarnya satu niatan hati sebagai simbol kesedihan, dst. Mana mungkin pengantin pria (YEsus) ada di tengah-tengah para murid-Nya dan mereka diminta untuk berpuasa? Ketika Yesus sebagai pengantin pria ada di tengah-tengah umat-Nya, mereka patut bersukacita. Tentunya menjadi sesuatu yang kontradiktif jika mereka berpuasa di saat orang-orang sedang bersukacita bersama pengantin pria. Agar dapat masuk dalam pemahaman dan penghayatan yang baru, orang-orang Farisi harus menanggalkan cara berpikir/pemahaman dan penghayatan yang lama dan yang keliru. Saatnya untuk bertobat dan menghayati satu tindakan spiritual dengan motivasi yang murni dan luhur. Ya, cara lama mesti diganti dan diperbarui.
@ Saatnya bagi kita untuk belajar dari pengalaman iman Saul dan juga pengalaman orang Farisi dan murid-murid Yohanes. Bukan sekedar korban bakaran yang kita persembahkan. Hati dan niatan yang tulus dalam melakukan sesuatu adalah satu bukti persembahan atau korban bakaran yang berkenan pada Allah. Kita juga bukan sekedar berpuasa atau melaksanakan praktek-praktek spiritual keagamaan lainnya hanya untuk dipamerkan/show off. Inilah saatnya untuk mengubah cara dan pemahaman serta penghayatan yang lama dan mengenakan cara dan pemahaman serta penghayatan yang baru. KETULUSAN hendaknya menjadi kualitas diri yang dikenakan dalam setiap tindakan spiritual: berdoa dan membantu yang kecil, berkekurangan dan terlupakan atau terpinggirkan. Have a good evening filled with love and compassion. My warm greetings to you all. . padrepiolaweterengsvd