Sungguh sebuah permenungan yang menyentuh hati.
Langkah kaki di tengah rintik hujan di awal Masa Prapaskah ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah ziarah kasih untuk menjumpai Kristus dalam diri sesama di Rukun Santa Theresia.
Berikut adalah refleksi atas dambaan dan rintihan hati yang mungkin dirasakan oleh umat dan para pelayan Tuhan dalam perjumpaan tersebut:
## Suara Hati Umat:
Dambaan dan Rintihan
Dalam keheningan pagi yang basah oleh hujan, keluarga-keluarga yang dikunjungi membawa harapan yang mendalam:
Dambaan Kehadiran:
Bagi Keluarga Bpk. Imo Batfutu, Ibu Uly Nifanngelyau, Bpk. Veky Laratmase, Bpk. Yopi Lesuatbebun, dan Bpk. Y. Laikyer, kehadiran Pastor dan pengurus rukun adalah simbol bahwa Tuhan tidak melupakan mereka.
Dambaan mereka sederhana: dikuatkan dalam iman, didoakan dalam pergumulan, dan disapa sebagai bagian dari satu tubuh mistik Kristus.
Rintihan Kesetiaan:
Di balik senyum menyambut tamu, mungkin ada rintihan tentang beban ekonomi, kesehatan yang mulai menurun, atau kekhawatiran akan masa depan anak-cucu. Hujan rintik di luar seolah mewakili tetesan doa-doa mereka yang dipanjatkan dalam diam.
## Suara Hati Para Pelayan
(Baperus, Lc, & Bendahara)
Baperus & Lc: Menjadi jembatan antara umat dan altar bukanlah tugas yang ringan.
Dambaan mereka adalah melihat umat rukun tetap solid dan saling peduli, namun rintihan mereka seringkali berupa rasa lelah atau perasaan “kurang maksimal” dalam melayani di tengah kesibukan pribadi.
Bendahara Rukun:
Memastikan administrasi kasih berjalan lancar, seringkali harus memutar otak agar pelayanan tetap berjalan meski sumber daya terbatas.
## Hati Sang Gembala (Pastor Paroki)
Misi Prapaskah: Langkah kaki dari Pastoran HKY Olilit Barat menuju rumah-rumah umat adalah wujud nyata dari Gereja yang keluar.
Pastor membawa berkat, namun ia juga datang untuk “menimba” kekuatan dari iman umat yang sederhana namun teguh.
”Pelayanan yang sejati tidak diukur dari megahnya gedung, melainkan dari sejauh mana kaki melangkah menembus hujan demi mendengar rintihan hati yang paling dalam.”
Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk saling menyembuhkan dan menguatkan harapan. Perjumpaan ini adalah kurban yang harum di hadapan Allah. (RD PONSIO08).















