HR Tubuh dan Darah Kristus/Minggu, 22 Juni 2025 Kej. 14:18-20; 1Kor. 11:23-26; Luk. 9:11b-17 Semua orang mengejar kebahagiaan. Hidup bahagiaadalah dambaan setiap orang. Banyak hal yang diupayakanuntuk mencapai kebahagiaan tersebut. Sebagian orang yang mengukur kebahagiaan pada materi. Harta dipandang sebagaistandar kebahagiaan. Namun di lain sisi, ada orang yang tidaksemata-mata memandang materi pokok kebahagiaan. Kebahagiaan terletak pada hati. Kebahagiaan ini tidak diukuroleh harta, uang, atau materi. Ketenangan hati adalah tandakebahagiaan. Selain itu, kebahagiaan juga tidak berarti ketikakita hanya sukses. Paus Fransiskus dalam beberapa momenmenekankan bahwa kebahagaiaan tidak berarti tidak memilikikegagalan dalam hidup. Hidup bahagia bukan berarti tidakmemiliki badai, kekecawaan, dan keputusasaan. Hidupbahagia berarti ketika kita menemukan kekuatan dalampengampunan, harapan dalam pertentangan, ketenangandalam ketakutan, cinta dalam perselisihan. Kebahagiaan juga bukan hanya ketika kita merayakan keberhasilan, tetapi juga ketika kita belajar dari kegagalan. Yesus adalah sumber kekuatan. Dialah kebahagiaansejati. Dia melengkapi segala kekurangan yang kita miliki, dan menganugerahkan kebagiaaan bagi kita. Ketika orang-orang lapar, putus harapan, Dia membantu untuk menemukankebahagiaan di tengah penderitaan. Para murid merasakhawatir terhadap banyak orang yang mengikuti perjalananYesus. Mereka meminta Yesus untuk menyuruh merekapulang karena akan mengalami kesulitan untuk memberimakan dan penginapan bagi orang-orang tersebut. Tetapijustru mengingatkan para murid bahwa memberi makan dan penginapan adalah tanggungjawab para murid. Lalu Yesusmengadakan mujizat. Dia menggandakan lima roti dan duaikan untuk dimakan (lima …
@2022 – All Right Reserved. Leonard Ansis