Araswaraku Renungan BERANGKAT TANPA BANYAK BEKAL, TETAPI PENUH KEPERCAYAAN Leonardus AnsisJune 11, 202608 views Renungan berikut saya buat sebagai catatan perjalanan iman yang lahir dari pengalaman sederhana di dalam Kereta Api Argo Lawu 13 yang sedang melaju cepat dari Yogyakarta menuju Jakarta.————-***———— Bacaan Injil: Matius 10:7-13:“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.” (Mat. 10:7)————***———— Saya menulis renungan ini di atas Kereta Api Argo Lawu 13 yang melaju cepat dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Gambir Jakarta. Di stasiun tadi, saya memperhatikan begitu banyak orang bergerak cepat. Ada yang berlari kecil mengejar waktu keberangkatan. Ada yang sibuk melakukan check-in. Ada yang memastikan tiketnya benar. Ada yang memeriksa nomor gerbong dan kursi. Ada yang menelepon keluarga sebelum kereta berangkat. Semua tampak sigap. Semua tampak tahu ke mana mereka akan pergi. Ketika tanda dibunyikan dan kereta mulai bergerak, setiap orang tahu bahwa dia harus meninggalkan sesuatu di belakangnya. Rumah. Keluarga. Sahabat. Pekerjaan. Kenyamanan. Rutinitas. Mereka berangkat karena memiliki tujuan. Atau, digerakkan oleh tujuan. Dan di tengah perjalanan ini, saya termenung pada Sabda Tuhan yang berbicara dengan sangat kuat: “Pergilah!” Itulah kata pertama yang diberikan Yesus kepada para murid. Bukan: duduk dan diam di sini. Bukan: tunggulah. Bukan: amankan dirimu terlebih dahulu. Tetapi: Pergilah! Iman Kristiani sejak awal adalah iman yang bergerak. Iman yang berjalan. Iman yang bergegas. Iman yang berani meninggalkan zona nyaman. Iman yang merdeka dari kelekatan. Yesus mengutus para murid bukan pertama-tama untuk membangun gedung, mengumpulkan harta, atau mencari kedudukan dan popularitas. Ia mengutus mereka untuk membawa kabar baik. Untuk menghadirkan harapan. Untuk menyembuhkan yang terluka. Untuk menguatkan yang putus asa. Untuk mengingatkan manusia bahwa Allah masih berjalan bersama mereka. Sering kali kita berpikir bahwa kita baru dapat melayani jika semua kebutuhan sudah terpenuhi. Kita mungkin berkata: “Nanti kalau saya punya waktu.” “Nanti kalau ekonomi saya sudah stabil.” “Nanti kalau keadaan lebih baik.” “Nanti kalau saya sudah siap.” Tetapi Yesus justru mengutus para murid dalam keadaan yang sangat sederhana. Mereka tidak diutus karena sudah sempurna. Mereka diutus karena percaya. Di dalam dunia yang semakin cepat seperti kereta yang sedang saya tumpangi ini, banyak orang sibuk mengejar tujuan hidup, tetapi kehilangan arah hidup. Banyak yang bergerak cepat, tetapi tidak tahu untuk siapa mereka bergerak. Banyak yang berhasil mengumpulkan kekayaan, tetapi kehilangan sukacita. Banyak yang memiliki koneksi luas, tetapi kehilangan relasi yang mendalam. Banyak yang mempunyai rumah besar, tetapi tidak lagi memiliki rumah di dalam hati. Di sinilah Injil hari ini menjadi sangat relevan. Kerajaan Allah ternyata bukan pertama-tama soal tempat yang jauh di langit. Kerajaan Allah hadir ketika seorang ibu tetap setia merawat keluarganya dengan penuh kasih; juga ketika usianya tidak muda lagi. Kerajaan Allah hadir ketika seorang ayah bekerja dengan jujur dan setia. Kerajaan Allah hadir ketika seorang petani tetap menanam dan mencari kiat-kiat cerdas ketika musim sulit dan haru biru. Kerajaan Allah hadir ketika seorang guru mendidik dengan sepenuh hati, meski gaji honorer yang jauh di bawah UMR. Kerajaan Allah hadir ketika seorang imam, biarawan-biarawati, aktivis sosial, pengusaha, profesional, atau pejabat publik berani mengutamakan kebenaran daripada keuntungan pribadi. Kerajaan Allah hadir ketika manusia menjadi pembawa damai sejahtera. Yesus berkata: “Kalau kamu masuk ke suatu rumah, berilah salam kepada rumah itu.” Artinya, ke mana pun kita pergi, kita dipanggil untuk membawa damai. Dan, harus diberi dengan cuma-cuma. Bukan membawa ketakutan. Bukan membawa kebencian. Bukan membawa fitnah. Bukan membawa perpecahan. Dunia hari ini terlalu penuh dengan orang yang ingin menang sendiri. Tuhan membutuhkan lebih banyak orang yang ingin menghadirkan damai. Kereta ini akan tiba di Gambir beberapa jam lagi. Perjalanan akan selesai. Penumpang akan turun. Masing-masing akan kembali kepada tugas dan panggilannya. Tetapi satu metafora indah yang tidak bisa disangkal: Hidup kita sendiri sesungguhnya adalah sebuah perjalanan. Suatu hari kita juga akan tiba di “stasiun terakhir” kehidupan. Dan ketika itu tiba, Tuhan tidak akan bertanya berapa jauh kita telah bepergian. Ia akan bertanya: Berapa banyak kasih yang telah engkau bagikan dengan jiwa merdeka? Berapa banyak luka yang telah engkau sembuhkan? Berapa banyak harapan yang telah engkau hidupkan? Berapa banyak damai dan rasa adil yang telah engkau taburkan? Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah jabatan. Bukan kekayaan. Bukan popularitas. Melainkan kasih yang telah kita berikan selama perjalanan. Maka selama kereta kehidupan ini masih bergerak, jangan hanya menjadi penumpang. Jadilah murid yang diutus. Jadilah pembawa damai. Jadilah saksi Kerajaan Allah. Sebab Kerajaan Surga sungguh sudah dekat. Bahkan mungkin sedang duduk di kursi di sebelah kita.————-***———— Doa Tuhan Yesus,Engkau mengutus para murid untuk berjalan membawa kabar baik dan damai. Di tengah perjalanan hidup kami yang sering tergesa-gesa, ajarlah kami untuk tidak kehilangan arah. Ketika dunia mengajarkan kami untuk mengejar keberhasilan, ajarlah kami mengejar kebenaran. Ketika dunia mengajarkan kami untuk mengumpulkan sebanyak mungkin, ajarlah kami untuk memberi sebanyak mungkin. Ketika dunia dipenuhi kegelisahan, jadikanlah kami pembawa damai. Berkatilah setiap orang yang sedang melakukan perjalanan hari ini: para pekerja, petani, nelayan, guru, pengusaha, profesional, pejabat publik, imam, biarawan-biarawati, serta semua yang berjuang bagi kehidupan keluarganya. Semoga ke mana pun kami pergi, kami membawa jejak kasih-Mu. Dan ketika kelak kami tiba di tujuan akhir perjalanan hidup kami, semoga kami dapat mendengar suara-Mu berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Amin 🙏———-***———-MIKE KERAF, CSsRDi atas KA Argo Lawu 13 – Stasiun Tugu, Yogyakarta – Stasiun Gambir, Jakarta – 11.06.2026