Home Ā» Iman yang Memilih, Memikul, dan Menghidupkan

Iman yang Memilih, Memikul, dan Menghidupkan

by Leonardus Ansis
0 comments

HOMILI HARI MINGGU

28 Juni 2026
Bacaan Injil:
Matius 10:37–42

ā€œIman yang Memilih, Memikul, dan Menghidupkanā€
————***———-

Anak-anak,
Bapa, Mama,
Saudara-saudari,
Sahabat-sahabat terkasih,

Injil hari ini mungkin termasuk salah satu sabda Yesus yang paling keras sekaligus paling membebaskan.

ā€œBarangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.ā€

Sekilas, kita bisa bertanya:

Bukankah Yesus sendiri mengajarkan kita menghormati ayah dan ibu?

Bukankah keluarga adalah sekolah pertama cinta kasih?

Mengapa sekarang Yesus seolah-olah meminta kita memilih antara Tuhan dan keluarga?
…………….

Tentu bukan itu maksud-Nya.

Yesus tidak sedang mengurangi kasih kepada keluarga.

YESUS SEDANG MENATA PUSAT HIDUP KITA.

Karena bila pusat hidup kita benar, maka semua relasi yang lain juga akan menemukan arah yang benar.

Tetapi bila pusat hidup kita salah, maka keluarga, pekerjaan, kekuasaan, bahkan agama sekalipun dapat berubah menjadi berhala.


šŸ‘‰ Mengasihi Tuhan berarti menempatkan Dia sebagai Kutub Utara kehidupan

Pelaut-pelaut ulung di kampungku Lamalera – misalnya, mengetahui satu hal.

Di tengah samudera yang luas, ombak dapat berubah sewaktu-waktu; tanpa aba-aba.

Angin dapat berbalik.

Langit dapat menggelap.

Tetapi mereka selalu membutuhkan satu titik orientasi.

Kalau orientasi hilang, perahu tetap bergerak.

Tetapi tidak lagi menuju tujuan yang tepat.

Demikian pula hidup manusia.

Hari ini kita mempunyai banyak ā€œkompasā€.

Media sosial memberi arah.

Pasar memberi arah.

Politik memberi arah.

Popularitas memberi arah.

Keuntungan ekonomi memberi arah.

Teknologi memberi arah.

Tetapi tidak semua arah membawa manusia menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Yesus berkata:

ā€œAku harus menjadi pusat orientasi hidupmu.ā€

Bukan karena Ia haus dihormati.

Melainkan karena hanya Dia yang mengetahui ke mana manusia seharusnya menuju.

Bukankah
ā€œManusia adalah makhluk yang hanya menemukan dirinya ketika ia bergerak menuju Misteri yang kita sebut Allahā€?
(Karl Rahner)

Ketika Allah menjadi pusat, keluarga tidak kehilangan tempatnya.

Justru keluarga menemukan makna terdalamnya.

Pekerjaan menjadi pelayanan.

Kekuasaan menjadi tanggung jawab.

Kekayaan menjadi sarana berbagi.


šŸ‘‰ Salib bukan hukuman. Salib adalah arah kasih.

Kemudian Yesus berkata:

ā€œBarangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku.ā€

Banyak orang mengira salib adalah penderitaan.

Padahal penderitaan saja belum tentu salib.

Sakit bisa dialami siapa saja.

Gagal bisa dialami siapa saja.

Tetapi salib adalah penderitaan yang dipikul demi kasih, keadilan, damai sejahtera dan kebenaran.

Seorang ibu yang begadang menjaga anaknya sedang memanggul salib kasih.

Seorang ayah yang bekerja jujur meski penghasilannya kecil sedang memikul salib.

Petani yang tetap mengolah tanah, pupuk, dan menanam meski musim tidak menentu sedang memanggul salib pengharapan.

Nelayan yang tetap melaut dengan hormat kepada laut sedang memanggul salib pengabdian.

Guru yang tetap mengajar dengan hati ketika jalan sulit dan fasilitas terbatas sedang memikul salib pendidikan.

Imam, biarawan-biarawati, dan para pelayan Gereja yang setia di tengah berbagai tantangan sedang memanggul salib Injil.

Salib bukan lambang kekalahan.

Salib adalah bukti bahwa cinta selalu memiliki harga.


šŸ‘‰ Kehilangan hidup justru menjadi jalan menemukannya

Yesus melanjutkan:

ā€œBarangsiapa mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku akan memperolehnya.ā€

Paradoks ini sulit dipahami dunia modern.

Budaya kita berkata:

ā€œKumpulkan sebanyak mungkin.ā€

ā€œAmankan dirimu.ā€

ā€œJangan rugi.ā€

ā€œUtamakan kepentinganmu.ā€

Tetapi Injil berkata:

Hidup bertumbuh ketika dibagikan.

Kasih bertambah ketika diberikan.

Harapan berkembang ketika dibagikan.

Pengetahuan berkembang ketika diajarkan.

Iman bertumbuh ketika disaksikan.

Seperti benih.

Selama ia tetap berada di genggaman tangan, ia memang aman.

Tetapi ia tidak pernah menjadi pohon.

Ia baru hidup ketika rela jatuh ke tanah.


šŸ‘‰ Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil

Bagian terakhir Injil tampak sederhana.

ā€œBarangsiapa memberi secangkir air sejuk kepada seorang kecil karena ia murid-Ku, ia tidak akan kehilangan upahnya.ā€

Luar biasa.

Yesus tidak berbicara tentang mukjizat besar.

Tidak berbicara tentang pembangunan megah dengan hamburan duit.

Tidak berbicara tentang prestasi luar biasa dan diviralkan.

Hanya…

Segelas air.

Mengapa?

Karena Kerajaan Allah dibangun bukan pertama-tama oleh tindakan spektakuler.

Melainkan oleh kesetiaan pada kasih dalam hal-hal kecil.

Di Indonesia hari ini kita sering terpesona oleh proyek-proyek besar.

Tetapi bangsa ini justru sedang sangat membutuhkan jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.

Mengembalikan dompet yang ditemukan.

Tidak menyuap.

Tidak menyebarkan fitnah.

Mendengarkan anak-anak.

Menyapa tetangga.

Membayar pekerja dengan adil.

Menghormati perempuan.

Melindungi anak-anak.

Merawat orang tua.

Menanam pohon.

Menghemat air.

Menjaga laut.

Membersihkan sungai.

Membuang sampah pada tempatnya.

Menghargai perbedaan.

Semua itu tampak kecil.

Tetapi justru dari situlah Kerajaan Allah tumbuh.


šŸ‘‰ Gereja dipanggil menjadi rumah yang mengutus

Injil hari ini sesungguhnya bukan berbicara tentang memilih antara Tuhan dan keluarga.

Tetapi tentang menjadikan seluruh hidup sebagai keluarga Allah.

Ketika Kristus menjadi pusat hidup kita,

keluarga menjadi lebih penuh kasih.

Masyarakat menjadi lebih adil.

Bangsa menjadi lebih manusiawi.

Gereja menjadi lebih rendah hati.

Dan dunia menjadi lebih layak dihuni.

Mengutip John Henri Nouwen:

ā€œPertanyaan terbesar bukanlah apakah kita berhasil, tetapi apakah kita sungguh mengasihi.ā€

Bukankah setiap pilihan moral sejati adalah jawaban kasih terhadap panggilan Allah?

Paus Fransiskus almarhum mengingatkan:

ā€œIman yang sejati selalu keluar dari dirinya sendiri untuk menjumpai mereka yang berada di pinggiran.ā€


Penutup

Saudara-saudariku,

Sesudah misa ini kita akan kembali ke rumah.

Kembali ke sawah.

Ke kebun.

Ke laut.

Ke sekolah.

Ke kantor.

Ke pasar.

Ke jalan-jalan kehidupan yang biasa.

Injil hari ini mengajak kita membawa tiga pertanyaan ke dalam setiap langkah:

Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidupku?

Salib kasih apa yang hari ini kupikul dengan setia?

Siapa yang dapat kuberi ā€œsecangkir airā€ hari ini?

Karena pada akhirnya, kekudusan tidak diukur dari seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan.

Kekudusan diukur dari seberapa jauh hidup kita membuat orang lain merasakan kasih Tuhan.

Maka ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, salib tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan, melainkan jembatan yang menghubungkan kita dengan sesama. Dan ketika kasih diwujudkan dalam tindakan-tindakan kecil yang setia, bahkan secangkir air pun dapat menjadi awal perubahan dunia.

Amin šŸ™
————-***————
MIKE KERAF, CSsR
R.A. D’SOS,
Sumba Barat Daya,
28.06.2026

You may also like