Home Ā» KEJAHATAN SELALU BERUSAHA MENYERET KITA MENJADI SERUPA DENGANNYA

KEJAHATAN SELALU BERUSAHA MENYERET KITA MENJADI SERUPA DENGANNYA

by Leonardus Ansis
0 comments

RENUNGAN PAGI, 15.06.2026
Bacaan I: 1 Raja-raja 21:1-16
Injil: Matius 5:38-42
⸻——-šŸ«¶šŸ»ā€”ā€”ā€”ā€”-

Renungan pagi ini saya kirim dari Sukabumi yang sejuk, dari halaman-halaman biara yang masih dibasahi embun, dari doa para Suster Fransiskanes yang baru saja mengangkat hati kepada Tuhan. Bersama dengan mereka semua saya mengajak saudara saudariku semuanya untuk memandang dunia dengan mata yang lebih jernih.

Ada sesuatu yang selalu menenangkan ketika pagi dimulai dengan doa. Sebab doa mengingatkan kita bahwa dunia ini tidak pertama-tama digerakkan oleh kekuasaan manusia, melainkan oleh kebijaksanaan Allah yang diam-diam bekerja di balik segala sesuatu.
————-šŸ«¶šŸ»ā€”ā€”ā€”ā€”-

KEJAHATAN SELALU BERUSAHA MENYERET KITA MENJADI SERUPA DENGANNYA

Ahab adalah contoh klasik manusia yang kalah terhadap dirinya sendiri.

Ia tidak lapar roti.

Ia lapar kuasa.

Ia tidak miskin harta.

Ia miskin kebijaksanaan.

Ia memiliki istana, tetapi tidak memiliki kedalaman jiwa.

Dan itulah tragedi terbesar manusia.

Bukan ketika kita tidak mempunyai apa-apa.

Melainkan ketika kita mempunyai banyak hal tetapi kehilangan diri sendiri.

Mengutip Mahatma Gandhi:

ā€œDunia memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang.ā€

Kalimat ini seolah ditulis khusus untuk Ahab.

Dan mungkin juga untuk dunia kita hari ini.

Kita menyaksikan hutan-hutan ditebang bukan karena manusia lapar.

Laut dicemari, tanah dilobangi dan dikeruk habis bukan karena manusia kekurangan.

Korupsi merajalela bukan karena manusia tidak mampu hidup.

Tetapi karena keinginan memiliki telah berubah menjadi agama baru. Agama tamak.

Segala sesuatu harus dimiliki.

Segala sesuatu harus dikuasai.

Segala sesuatu harus ditaklukkan.

Dan ketika hasrat memiliki menjadi ilah, manusia mulai mengorbankan sesamanya.

Nabot-nabot baru terus bermunculan dalam sejarah.

Petani kehilangan tanah.

Masyarakat adat kehilangan hutan.

Anak-anak kehilangan masa depan.

Alam kehilangan napasnya.

Inovator kreatif diberangus nasibnya dan diancam bui.
āø»

YESUS TIDAK MENGAJARKAN KELEMAHAN

Banyak orang mengira bahwa ā€œmemberikan pipi kiriā€ berarti menyerah.

Tidak!

Justru dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar untuk tidak membalas.

Orang yang membalas sedang bereaksi.

Orang yang mengampuni sedang memilih.

Orang yang membenci masih dikendalikan oleh lawannya.

Orang yang mengasihi telah merebut kembali kebebasan jiwanya.

Nelson Mandela menulis setelah keluar dari penjara:

ā€œKetika saya melangkah keluar dari pintu penjara menuju kebebasan, saya tahu bahwa jika saya tidak meninggalkan kepahitan dan kebencian di belakang, saya sesungguhnya masih berada dalam penjara.ā€

Betapa Injili testimoni itu.

Tubuh Mandela pernah dipenjara.

Tetapi jiwanya tidak.

Banyak orang hari ini berjalan bebas di jalan-jalan raya, tetapi sesungguhnya masih dipenjara oleh dendam, iri hati, keserakahan, dan luka masa lalu.

Sebaliknya, ada orang-orang yang miskin, sakit, tertindas, namun memiliki kebebasan batin yang luar biasa.

Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat diperbudak oleh keadaan.
āø»

KEKUATAN TERBESAR BUKAN MENAKLUKKAN ORANG LAIN

Dalam dunia yang memuja kekuasaan dan nafsu memiliki lebih, Injil hari ini adalah revolusi kemerdekaan.

Kita diajari bahwa yang kuat adalah yang menang.

Yang besar adalah yang menguasai.

Yang berhasil adalah yang memiliki lebih banyak.

Namun Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya.

Yang besar adalah yang mampu melayani.

Yang kaya adalah yang mampu berbagi.

Yang merdeka adalah yang tidak diperbudak oleh apa pun selain kasih.

Gandhi menyebutnya:

ā€œKekuatan sejati tidak lahir dari kemampuan fisik, tetapi dari kehendak yang tak tergoyahkan.ā€

Dalam bahasa Injil:

Kekuatan sejati lahir dari hati yang berakar dalam Allah.
āø»

MENJADI MANUSIA YANG DIPIMPIN KEBIJAKSANAAN ILAHI

Pagi ini Sukabumi mengajarkan sesuatu yang indah.

Gunung-gunung tidak berlomba menjadi lebih tinggi.

Pepohonan tidak iri kepada sungai.

Embun tidak menuntut penghargaan.

Mereka cukup menjadi apa yang dikehendaki Sang Pencipta.

Dan karena itu mereka menghadirkan keindahan.

Barangkali kebijaksanaan Ilahi dimulai dari sini:

tidak lagi bertanya ā€œapa yang masih kurang bagiku?ā€, melainkan ā€œuntuk apa aku diciptakan?ā€

Karena orang yang terus menghitung kekurangannya akan hidup dalam kecemasan.

Tetapi orang yang menemukan panggilannya akan hidup dalam syukur.

Dan syukur adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.
āø»

Penutup

Saudara-saudari terkasih,

Ahab mengajarkan kepada kita bagaimana manusia dapat kehilangan jiwanya karena ingin memiliki dunia.

Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana manusia dapat menemukan jiwanya kembali dengan belajar melepaskan dunia.

Mandela mengingatkan bahwa kebencian adalah penjara.

Gandhi mengingatkan bahwa keserakahan adalah penyakit peradaban.

Dan Injil mengingatkan bahwa kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu memutus rantai kejahatan tanpa menciptakan kejahatan baru.

Maka ketika kita melangkah memasuki hari ini, marilah kita berdoa:

Tuhan,
di pagi yang tenang ini kami bersyukur atas udara yang kami hirup,
atas bumi yang Kaupercayakan kepada kami,
atas saudara-saudari yang berjalan bersama kami,
dan atas kasih-Mu yang tidak pernah berhenti menopang hidup kami.

Lepaskanlah kami dari keinginan untuk memiliki segala sesuatu.

Ajarlah kami cukup dengan apa yang kami perlukan,
dan murah hati membagikan apa yang kami miliki.

Bebaskanlah kami dari kemarahan yang mengeras,
dari dendam yang membelenggu,
dan dari ketakutan yang membuat kami enggan berbuat baik.

Karuniakanlah kepada kami hati yang bijaksana:
hati yang mampu membedakan antara yang penting dan yang sementara,
antara yang benar dan yang sekadar menguntungkan,
antara kehendak kami dan kehendak-Mu.

Semoga hari ini kami melangkah sebagai anak-anak terang,
yang tidak diperbudak oleh hasrat memiliki,
tetapi dipimpin oleh Roh-Mu yang kudus.

Dan seperti Santo Fransiskus,
semoga kami menjadi pembawa damai,
penjaga kehidupan,
serta sahabat bagi segala ciptaan.

Sebab bumi ini indah bukan karena bebas dari persoalan,
melainkan karena masih ada manusia-manusia yang hidup dalam kebijaksanaan-Mu.

Amin.

ā€œOrang yang dipenuhi Allah tidak perlu menguasai dunia; ia cukup mencintainya dan merawatnya.ā€ 🌿
Amin šŸ™
————-šŸ«¶šŸ»ā€”ā€”ā€”ā€”-
MIKE KERAF, CSsR
Biara SFS, Sukabumi,
15.06.2026

You may also like