.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

KITA ADALAH MAKHLUK CAHAYA

Renungan Berdasarkan Markus 12:18-27
————-***————-

Orang-orang Saduki datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya cerdas, tetapi sesungguhnya lahir dari hati yang tidak percaya akan kebangkitan. Mereka berbicara tentang kematian. Mereka berbicara tentang kubur. Mereka berbicara tentang akhir hidup manusia dalam ketiadaan.

Namun Yesus membawa mereka beranjak melampaui kubur.

Ia berkata:

“Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” (Mrk 12:27)

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung daya yang mampu merubah seluruh cara kita memandang hidup.

Kita sering hidup seolah-olah kematian adalah kata terakhir.

Kita takut pada kegagalan.
Kita takut pada penderitaan.
Kita takut pada kehilangan.
Kita takut pada usia tua.
Kita takut pada kematian.

Padahal Injil hari ini mengingatkan bahwa bagi Allah, kehidupan tidak pernah berakhir. Kematian bukan tujuan akhir. Kubur bukan rumah terakhir manusia.

Karena itu, orang beriman tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan, melainkan dalam terang pengharapan.

Kita adalah makhluk cahaya.

Allah menciptakan manusia bukan dari kegelapan, melainkan untuk mengambil bagian dalam terang-Nya.

Di dalam Kristus, kita bukan anak-anak maut, melainkan anak-anak kebangkitan.

Maka ketika dunia dipenuhi kebencian, kita dipanggil menjadi cahaya kasih.

Ketika kebohongan dan korupsi merajalela, kita dipanggil menjadi cahaya kejujuran.

Ketika banyak orang menyerah karena kemiskinan, penyakit, dan ketidakpastian hidup, kita dipanggil menjadi cahaya pengharapan.

Ketika kekuatan-kekuatan gelap mencoba membuat manusia putus asa, kita dipanggil menjadi saksi bahwa Allah masih dan akan tetap bekerja.

Bahkan ketika kematian datang mengetuk pintu rumah kita, ketika orang yang kita kasihi dipanggil pulang, ketika tubuh kita sendiri mulai rapuh, iman Kristen mengajarkan bahwa kita sedang berjalan menuju kepenuhan hidup, bukan menuju ketiadaan.

Maka …. Bapa, Mama, Saudara, Saudari, Anak-anak cahaya,

Jangan pernah takut! Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus, Sang Cahaya dari segala cahaya!

Mengapa?

Karena Kristus telah memasuki wilayah yang paling gelap: penderitaan, salib, kematian, dan kubur. Namun Ia keluar sebagai Sang Pemenang.

Maut tidak mampu menahan-Nya.

Dan jika Kristus bangkit, maka hidup kita pun tidak berakhir dalam kegelapan.

Demikianlah kita juga percaya bahwa kematian orang beriman adalah kelahiran baru menuju kepenuhan misteri cahaya Allah.

Kita boleh percaya bahwa bagi orang yang hidup dalam kasih Allah, kematian bukanlah kehancuran, melainkan perjumpaan dengan Sahabat yang telah lama dicintai, dan selalu ditarik oleh rasa rindu yang kuat untuk berjumpa dengan-Nya.

Karena itu, jangan biarkan hati kita dikuasai oleh gelap.

Jangan menyerah kepada pesimisme.

Jangan membiarkan kebencian, dendam, ketidakadilan, dan ketakutan memadamkan cahaya yang telah Allah nyalakan dalam diri kita.

Ingatlah:

Kita bukan makhluk kegelapan.

Kita bukan penghuni kubur.

Kita bukan anak-anak maut.

Kita adalah makhluk cahaya.

Dan cahaya sekecil apa pun selalu memiliki kekuatan untuk menantang kegelapan sebesar apa pun.

Hari ini dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berani menjadi terang:
di keluarga,
di kantor,
di sekolah,
di ladang,
di pasar,
di media sosial,
di Gereja,
dan di tengah bangsa Indonesia.

Karena hanya terang yang mampu menunjukkan jalan pulang kepada mereka yang tersesat dalam gelap.
—————***————-

Doa

Tuhan Yesus Kristus,
Engkau adalah Terang Dunia yang telah mengalahkan kegelapan dan maut.

Ketika kami berhadapan dengan kesulitan hidup, teguhkanlah hati kami.
Ketika kami berhadapan dengan ketidakadilan, berilah kami keberanian.
Ketika kami berhadapan dengan penderitaan, berilah kami ketekunan.
Ketika kami berhadapan dengan kematian, berilah kami pengharapan akan kebangkitan.

Jangan biarkan kami hidup sebagai anak-anak kegelapan.

Jadikanlah kami pembawa terang-Mu:
terang kasih di tengah kebencian,
terang kejujuran di tengah kepalsuan,
terang pengharapan di tengah keputusasaan,
dan terang iman di tengah dunia yang sering kehilangan arah.

Sebab Engkaulah Allah orang hidup,
Allah yang memanggil kami keluar dari kegelapan menuju terang-Mu yang ajaib.

Dan karena Engkau hidup,
kami pun akan hidup.

Amin 🙏
—————***————-
MIKE KERAF, CSsR
RA D’SOS, Sumba Barat Daya, 03.06.2026

Related posts

BANYAK ORANG BERAGAMA TIDAK LULUS SEKOLAH KEMANUSIAAN

KUDAMBA SURGAMU, TUHAN

Gambar dan Tulisan Siapakah ini?