.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

MELIHAT DAN MENYEBUHKAN

1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41

HM Prapaskah IV?Minggu, 15 Maret 2026

 

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang butasejak lahirnya (Yoh. 9:1). Para murid yang berjalan bersamadengan Yesus juga melihat itu dan bertanya tentang penyebabkebutaan itu. Para murid menguhubungkan penyakit dengandosa. Sehingga mereka menganalisis dosa yang mengakibatkankebutaan tersebut. Mereka bertanya kepada Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh. 9;2). Yesus berkatabahwa orang buta menjadi buta bukan karena orang itu atau juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harusdinyakatan (Yoh. 9:3). Yesus dari awal sudah melihat orang butatersebut. Dia tahu kebutaan orang buta itu. Para murid juga tentumelihat itu, namun resepon mereka pada hubungan sebab akibatdari kebutaan. Memang, kadang kala kelemahaan diri sulitdisembunyikan dari banyak orang, apalagi kelemahan tersebutkasat mata. 

Yesus mengajak para murid agar tidak fokus pada analisistentang akar penyakit atau dosa. Yesus menekankan tindakankonkrit untuk menyelamatkan orang buta tersebut. Pertolonganterhadap orang yang buta sangat mendesak daripada sekegarmenganalisis kebutaannya. Kadang kala kesibukan untukmenganalisis, menguraikan, atau bahkan “menjelekan” kelehaman orang lain menjadi sangat penting sampai lupa untukmenolong orang yang lemah. Dalam banyak keadaan, orang sering mendefenisikan kelemahan tanpa sedikitpun memikirkanbagaiamana mengurangi kelemahan itu. Yesus mengubahparadigma ini. Yesus menuntut sebuah tindakan konkrit untukmengeluarkan orang dari kelemahan. 

Kemudian, Yesus segera menyebuhkan orang buta tersebut. Yesus “meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengantanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolamSiloam.” Siloam artinya: Yang diutus. Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudahmelek” (Yoh. 9:6-7). Yesus menggunakan sarana-saranapenyebuhan yang sederhana. Dia meludah ke tanah, dan mengaduk tanah itu, lalu mengoleskan pada mat aorang butatersebut. Tindakan ini sangat sederhana namun memiliki daya. Daya bukan berada pada tanah atau ludah atau kegiatanmengaduk, tetapi berasal dari Yesus. Sumber daya penyembuhanberasal dari Yesus. Hal-hal yang sederhana dapat menjadi luarbiasa yang didorong oleh kekuatan Allah. Sesuatu yang biasa-biasa saja atau dipandang sebelah mata mengandung daya ketikaTuhan di dalamnya. Daya atau kekuatan Tuhan yang mendasaradalah “kasih” karena Allah adalah kasih. Paus Benediktus berkata, Allah adalah kasih (Deus Caritas Est, art. 1). Paus juga katakan, segala sesuatu berawal dari kasih Allah, segalasesuatu dibentuk olehnya, segala sesuatu diarahkan kepadanya. Kasih adalah karunia terbesar Allah bagi umat manusia, ituadalah janji-Nya dan harapan kita (Caritas In Veritate, art. 2).Kasih memberi makna bagi setiap perbuatan, termasukperbuatan kecil dan sederhana. Selain itu, kita harus menyadaribahwa Tuhan mampu melihat kelemahan dan menyelamatkankita. Dia tahu “kebutaan” kita. 

Marilah, sepanjang masa prakaskah ini, kita menyadaribahwa kita juga orang buta. Banyak dosa yang membuat kitadan membutuhkan pertolongan dari Tuhan. Selain itu, kita juga dipanggil untuk menolong orang yang buta. Merekamembuthkan bantuan kita, bukan hinaan dan analisis. Merekamembutuhkan pertolongan, walaupun dengan tindakan yang kecil, tetapi dengan kasih yang mendalam. Amin. @novlymasriat.

Related posts

Ingatlah teladan Santo Bonifasius

Seminari SYV Saumlaki adalah jantung keuskupan kita

Terimakasih Pastor Paroki