MENGENDUS “AKAR DOSA” DI TAMAN EDEN & DI PADANG GURUN YUDEA

DAILY WORDS, MINGGU, 22 FEBRUARI 2026
MINGGU PRAPASKAH I – PEKAN PRAPASKAH I,TAHUN A
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : KEJ 2: 7 – 9; 3: 1 – 7
MAZMUR T : MZM 51: 3 – 4. 5 – 6a. 12 – 13. 14. 17
INJIL : MAT 4: 1 – 11

@ Selamat hari Minggu Prapaskah I buat para Daily Words Readers . Refleksiku hari ini hendak mengantar kita untuk berkelana di taman Eden, taman Hawa dan Adam jatuh ke dalam dosa, dan di padang Gurun Yudea – sebelah barat Laut Mati, tempat Yesus memberi pembelajaran kepada kita bagaimana menangkal dosa dan mencari “akar-nya” sebagai ingatan bagi kita dalam menjalani hari-hari puasa dan pantang.

@ Mari kita ke taman Eden. Iblis tahu, di dalam diri manusia itu ada POTENSI/peluang yang bisa diganggu, siapa tahu bisa goyah. Peluang itu yang saya sebut sebagai “akar” atau “muasal”nya dosa. Peluang apa yang dimaksudkan di sini? Atau “akar” model mana yang dimaksudkan dalam cerita perisiwa Eden dan peristiwa “gurun Yudea”? Saya sebutkan saja, KESOMBONGAN atau dalam dialeg Ambon-nya “seng tahu diri”. Karena kesombongan, Hawa dan Adam mau mencoba untuk mencicipi buah dari pohon kehidupan. Iblis menyodorkan alasan “mengapa” mereka dilarang untuk makan buah dari pohon kehidupan. Kata iblis, karena manusia akan terbuka matanya dan bisad memiliki “pengertian”. Artinya, mereka bisa seperti Allah, mempunyai pengertian yang dapat membuka jalan kepada segala macam potetnsi yang lain. Dengan sendirinya, manusia percaya bahwa dia (manusia), dengan memakan buah dari pohon kehidupan, tidak lagi memerlukan peran Allah. Dia sudah bisa dalam segala hal. Ya, Iblis berhasil. Manusia akhirnya mencobainya. Ternyata, bukan mata pengertian yang didapatinya. Mata hatinya terbuka dan manusia sadar bahwa “dia tidak punya apa-apa” (telanjang) untuk menjamin hidupnya sendiri. Ingat, manusia hanya bisa hidup karena Allah meniupkan nafas ke dalam diri manusia. Dalam hal ini, manusia “ seng tau dir i” alias sombong.

@ Bukan berhenti di situ saja cerita tentang “akar dosa” yaitu kesombongan. Manusia Hawa dan Adam, ketika sadar bahwa mereka telanjang atau mereka “tidak bisa tidak” hidup tanpa Allah, menjadi takut. Apa yang harus mereka katakana di hadapan Sang Pencipta-nya yaitu Allah jika hal ini diketahui Allah. Heeee, Allah yang Mahatahu sudah mengetahui jika mereka sudah jatuh ke dalam rayuan gombal iblis lantaran kesombongan atau rasa “seng tahu diri” yang menggiringnya untuk makan buah terlarang. Alih-alih mau lari dari kenyataan “tergoda” dan “jatuh”, mereka coba bersembunyi dari Allah. Bukan sampai di situ saja. Mereka “menyangkal” atau dengan kata lain “saling lempar kesalahan”. Ketika Adam ditanya “mengapa makan buah dari pohon kehidupan itu, jawabannya adalah “Perempuan yang Kautempatkan disisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan”. Tentu hati kita sedih mendengar jawaban itu. Adam melempar kesalahan pada Hawa. Kesedihan yang sama kita rasakan ketika Hawa ditanya oleh Allah, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawaban dalam nada yang sama, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Kasihan! Keduanya tidak ada yang mengakui atau menerima bahwa kejatuhan itu adalah keputusan pribadinya meskipun itu datang dari rayuan gombal iblis dan tawaran Hawa kepada Adam. This is what we call: the chain of blaming – rantai saling mempersalahkan. Ini adalah bagian dari akan dosa yaitu KESOMBONGAN- tidak mau mengakui kalau BETA SUDAH SALAH . SOMBONG-kan?

@ Dari taman Eden, mari kita ke gurun Yudea – sebelah barat Laut Mati, tempat Yesus menghabiskan waktunya selama 40 hari 40 malam untuk menyepi, berpuasa, dan hanya menyandarkan segalanya pada Bapa-Nya yang di Surga. Al hasil, apapun rayuan gombal iblis, semuanya ditangkalnya dengan taktis dan strategis heee. Akar dosa yaitu kesombongan terpatri dalam tiga model godaan: godaan untuk pakai kuasa-Nya untuk bisa dapat makan. Kalau makanan berkelimpahan karena usaha sendiri, maka Allah tidak perlu ada lagi. Yesus menampi godaan itu dengan keyakinan bahwa makanan jasmani sebagai simbol segala kemewahan di dunia ini bukan jaminan untuk segalanya. Materi cuma sementara. Tidak ada harta dunia ini yang menambah umurmu. Tidak ada harta dunia ini yang dibawa serta waktu kita mati. Namun, Firman Allah itu kekal abadi selalu; kedua, godaan untuk “gila hormat”. Alih-alih punya kuasa, seenaknya mengharapkan kalau ada yang manatangkan tangan untuk menangkap-Nya. Yesus memberi pelajaran kepada manusia agar menjadi rendah hati, tidak sombong – tidak gila hormat; ketiga, godaan untuk “gila kuasa”. Karena kesombongan, manusia merasa bahwa dia punya kemampuan atau kuasa untuk buat apa saja. Yesus menunjukkan kepada manusia jika HANYA ALLAH yang patut DISEMBAH karena dari-Nya, berasal segala sesuatu, termasuk HIDUP MANUSIA itu sendiri. Yesus, lewat peristiwa di gurun Yudea, mengingatkan kita akan “akar dosa” yaitu kesombongan. Hanya karena kesombongan, manusia menjauhkan diri dari Allah dan merasa “bisa dalam segala hal”. Sesungguhnya, tidak demikian! Semua yang ada di atas dunia ini TIDAK ADA YANG KEKAL. Pada akhirnya, kita akan KEMBALI kepada ALLAH sebagai sumber segalanya.

@ Kita saling mendoakan, semoga Roh Kudus memampukan kita untuk menjadi RENDAH HATI dan tidak sombong – tidak merasa serba bisa tanpa Allah, tidak terikat pada HARTA – KEDUDUKAN – KUASA. Hanya di dalam Allah, ada kekekalan…. Have a wonderful First Sunday of Lent. My warm greetings to you all . Please pray for me as I am going to drive to two mission churches which far away from Masohi (Hatu-Piliana, 114 km and Naiwel, 162 km from Masohi)padrepiolaweterengsvd

Related posts

Menjadi Saksi Kasih-Nya

Perayaan Ekaristi dan Pembukaan Novena Santo Mikael Malaikat Agung

KEPALSUAN MERUSAK CITRA DIRIMU SEBAGAI MANUSIA