Vatikan PERTEMUAN DENGAN PARA KLERUS KEUSKUPAN ROMA Leonardus AnsisFebruary 22, 2026017 views PIDATO PAUS LEO XIV Ruang AudiensiKamis, 19 Februari 2026 Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Damai sertamu. Saudara-saudara yang terkasih,Saya menyapa Anda semua dengan penuh sukacita, dan saya berterima kasih atas kehadiran Anda di sini pada pagi ini. Saya berterima kasih kepada Kardinal Vikaris atas kata-kata yang disampaikannya kepada saya, dan dengan hangat saya menyapa Anda semua: para anggota Dewan Episkopal, para pastor paroki, dan seluruh imam (presbiter) yang hadir. Dan saya katakan, jika memang benar bahwa kita berada di awal masa perjalanan Prapaskah ini, ini bukanlah suatu tindakan silih (penitensi): setidaknya bagi saya, ini adalah sebuah sukacita besar! Dan saya menyatakannya dengan tulus! Di awal tahun pastoral ini, kita membiarkan diri kita diinspirasi oleh apa yang Yesus katakan kepada perempuan Samaria di sumur Yakub: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah” (Yoh 4:10). Karunia tersebut, sebagaimana kita ketahui, juga merupakan sebuah undangan untuk menghidupi tanggung jawab yang kreatif. Kita tidak sekadar ditempatkan ke dalam arus tradisi sebagai pelaksana pasif atas rencana pastoral yang telah ditentukan sebelumnya, melainkan sebaliknya, dengan kreativitas dan karunia (karisma) kita, kita dipanggil untuk bekerja sama dengan karya Allah. Dalam kaitan ini, kata-kata yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius sangatlah mencerahkan: “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu” (2 Tim 1:6). Kata-kata ini tidak hanya ditujukan kepada individu tetapi juga kepada komunitas, dan hari ini kita dapat mendengarnya sebagai pesan yang ditujukan kepada kita: Gereja Roma, ingatlah untuk mengobarkan kembali karunia Allah! Apa arti dari mengobarkan kembali? Paulus menyampaikan nasihat ini kepada sebuah komunitas yang dalam beberapa hal telah kehilangan kesegaran aslinya dan semangat pastoralnya; seiring dengan perubahan konteks dan berjalannya waktu, kepenatan tertentu, beberapa kekecewaan atau rasa frustrasi, serta kemunduran spiritual dan moral tertentu dapat terlihat. Oleh karena itu, Sang Rasul berkata kepada Timotius dan kepada komunitas tersebut: ingatlah untuk mengobarkan kembali karunia yang telah kalian terima. Kata kerja yang digunakan oleh Paulus ini – mengobarkan kembali – membangkitkan gambaran tentang bara api di balik abu dan, seperti yang diungkapkan oleh Paus Fransiskus, “memberikan gambaran tentang seseorang yang meniup api untuk menghidupkan kembali nyalanya” (Katekese, 30 Oktober 2024). Kita juga dapat mengatakan hal yang sama mengenai perjalanan pastoral di keuskupan kita: api telah menyala, namun ia harus terus-menerus dikobarkan lagi dan lagi. Api yang menyala adalah karunia yang tak dapat ditarik kembali, yang telah Tuhan berikan kepada kita; Roh Kuduslah yang telah merintis jalan bagi Gereja kita, mewariskan sejarah serta tradisi yang telah kita terima, dan apa yang biasa kita teruskan di dalam komunitas-komunitas kita. Pada saat yang sama, kita harus mengakui dengan kerendahan hati bahwa nyala api ini tidak selalu mempertahankan vitalitas yang sama dan perlu dikobarkan kembali. Terdesak oleh perubahan budaya yang mendadak dan berbagai skenario di mana perutusan kita berlangsung, terkadang dihinggapi kelelahan dan beban rutinitas, atau berkecil hati karena meningkatnya ketidakpedulian terhadap iman dan praktik keagamaan, kita merasakan kebutuhan agar api ini diberi bahan bakar dan dihidupkan kembali. Hal ini secara khusus berlaku pada beberapa bidang kehidupan pastoral, yang ingin saya sampaikan secara singkat. Yang pertama tentu saja berkaitan dengan reksa pastoral paroki pada umumnya. Dan di sini, pertama-tama saya ingin membagikan ungkapan rasa syukur kepada Anda, dengan mengingat kembali kata-kata yang disampaikan Paus Fransiskus kepada Anda dalam salah satu Misa Krisma yang lalu: “Terima kasih atas pelayanan Anda. Terima kasih atas kebaikan tersembunyi yang Anda lakukan. … Terima kasih atas pelayanan Anda, yang sering kali dilakukan dengan upaya besar, dengan sedikit pengakuan dan tidak selalu dipahami” (Homili Misa Krisma, 6 April 2023). Namun demikian, berbagai kesulitan dan kesalahpahaman juga dapat memberikan peluang untuk merefleksikan tantangan pastoral yang harus dihadapi. Secara khusus, mengenai hubungan antara inisiasi Kristen dan evangelisasi, kita membutuhkan perubahan arah yang jelas. Memang, reksa pastoral biasa disusun berdasarkan model klasik yang terutama bertujuan untuk memastikan bahwa Sakramen-sakramen diterimakan, tetapi model semacam itu mengandaikan bahwa iman juga diturunkan oleh lingkungan sekitar, oleh masyarakat maupun lingkungan keluarga. Pada kenyataannya, perubahan budaya dan antropologis yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir memberi tahu kita bahwa hal tersebut tidak lagi berlaku; sebaliknya, kita menyaksikan pengikisan konstan dalam praktik-praktik keagamaan. Oleh karena itu, sangatlah mendesak untuk kembali mewartakan Injil: ini adalah prioritas utamanya. Dengan rendah hati, namun juga tanpa membiarkan diri kita berkecil hati, kita harus mengakui bahwa “sebagian dari umat kita yang telah dibaptis kurang memiliki rasa memiliki pada Gereja”, dan ini mengajak kita untuk berhati-hati dalam “menerimakan sakramen-sakramen secara terpisah dari bentuk-bentuk evangelisasi lainnya” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 63). Mari kita mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan dari Rasul Paulus: “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rm 10:14). Sebagaimana halnya di semua kawasan aglomerasi perkotaan yang besar, kota Roma ditandai dengan mobilitas yang terus-menerus, dengan cara-cara baru dalam menempati wilayah dan memaknai waktu, serta melalui struktur keluarga dan relasional yang semakin pluralistik dan kadang-kadang merapuh. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi reksa pastoral paroki untuk kembali berfokus pada pewartaan, mencari cara dan sarana guna membantu umat terhubung kembali dengan janji Yesus. Dalam konteks ini, inisiasi Kristen, yang sering kali meniru ritme sekolah, perlu ditinjau kembali: kita perlu bereksperimen dengan metode lain dalam mewariskan iman di luar jalur-jalur tradisional, demi mencoba melibatkan anak-anak, kaum muda, dan keluarga dalam cara yang baru. Aspek yang kedua adalah: belajar untuk bekerja sama, dalam suatu persekutuan. Untuk menempatkan prioritas pada evangelisasi dalam segala bentuknya yang beragam, kita tidak dapat berpikir dan bertindak secara sendirian. Di masa lalu, paroki sangat erat kaitannya dengan wilayah setempat dan mencakup semua orang yang tinggal di sana; namun saat ini, model dan gaya hidup telah beralih dari yang bersifat tetap (stabil) menuju mobilitas, dan banyak orang, selain karena urusan pekerjaan, berpindah demi berbagai macam pengalaman, menjalani relasi-relasi yang melampaui batas-batas teritorial dan budaya dari tempat asal mereka. Paroki saja tidaklah cukup untuk memprakarsai proses evangelisasi yang mampu menjangkau mereka yang tidak dapat berpartisipasi secara memadai. Di wilayah yang luas seperti Roma, kita harus menaklukkan godaan akan kesombongan rohani (referensi berpusat pada diri sendiri), yang akan menghasilkan beban kerja berlebih dan tercerai-berainya fokus, untuk dapat bekerja sama dengan lebih erat, khususnya di antara paroki-paroki yang berdekatan, mengkonsolidasikan karisma serta potensi yang kita miliki, merencanakan bersama dan menghindari program inisiatif yang tumpang tindih. Dibutuhkan koordinasi yang lebih luas yang, jauh dari sekadar taktik atau alat pastoral semata, dimaksudkan untuk mengekspresikan persekutuan imamat kita. Aspek terakhir yang ingin saya tekankan: kedekatan dengan kaum muda. Banyak di antara mereka – seperti yang kita ketahui – “hidup tanpa referensi apa pun kepada Tuhan dan Gereja” (Pidato kepada para peserta Sidang Paripurna Dikasteri untuk Ajaran Iman, 29 Januari 2026). Oleh karena itu, ini menjadi masalah pemahaman dan penafsiran atas kegelisahan eksistensial yang mendalam yang ada di dalam diri mereka, kebingungan mereka, banyaknya kesulitan yang mereka hadapi, serta berbagai fenomena yang melibatkan mereka dalam dunia maya dan gejala agresivitas yang mengkhawatirkan, yang mana terkadang berujung pada kekerasan. Saya tahu bahwa Anda semua menyadari realitas ini dan berkomitmen untuk mengatasinya. Kita tidak memiliki solusi-solusi mudah yang menjamin hasil instan, namun sejauh yang memungkinkan, kita dapat mendengarkan kaum muda, hadir untuk mereka, menyambut mereka, dan berbagi sedikit bagian dari kehidupan mereka. Pada saat yang sama, karena persoalan-persoalan ini berdampak pada berbagai dimensi kehidupan, marilah kita juga mencoba, sebagai paroki, untuk berdialog dan berinteraksi dengan lembaga-lembaga setempat, sekolah, pakar di bidang pendidikan dan ilmu-ilmu kemanusiaan, serta dengan mereka yang peduli terhadap nasib dan masa depan kaum muda kita. Dan berbicara tentang generasi muda, saya ingin menyampaikan kata-kata penyemangat kepada para imam yang lebih muda – sebagian besar dari Anda berada di sini, bukan? – yang sering kali secara langsung merasakan potensi dan juga pergumulan dari generasi mereka dan di era ini. Di dalam konteks sosial dan gerejawi yang jauh lebih sulit serta kurang memberikan penghargaan (apresiasi), terdapat risiko bagi kita untuk segera menguras energi, menumpuk rasa frustrasi, dan jatuh ke dalam kesepian. Saya mendorong Anda agar selalu setia setiap harinya dalam hubungan Anda bersama Tuhan dan untuk terus berkarya dengan penuh antusiasme, bahkan jika Anda belum melihat buah-buah karya kerasulan Anda saat ini. Di atas segalanya, saya mengajak Anda untuk tidak pernah menutup diri: jangan takut untuk berbagi pengalaman-pengalaman Anda, bahkan atas rasa letih serta masa-masa krisis Anda, khususnya dengan para rekan-rekan (konfrater) yang Anda yakini dapat membantu. Tentu saja, kita semua dipanggil untuk senantiasa memiliki sikap yang mendengarkan dan penuh perhatian, dan melaluinya kita bisa menghidupi persaudaraan persatuan imamat secara nyata. Mari kita saling mendampingi dan saling mendukung. Teman-teman terkasih, saya bahagia telah berbagi momen ini bersama Anda. Seperti yang baru-baru ini saya sampaikan, tugas pertama kita adalah “menjaga dan memelihara panggilan melalui sebuah perjalanan pertobatan yang berkelanjutan dan kesetiaan yang terus diperbarui, yang mana itu tidak akan pernah sekadar menjadi sebuah jalan yang murni bersifat individu belaka namun mengikat kita untuk dapat saling peduli satu sama lain” (Surat Apostolik Kesetiaan yang Menghasilkan Masa Depan, 13). Dengan cara ini, kita akan menjadi gembala-gembala yang berkenan di hati Allah dan kita akan mampu untuk melayani keuskupan Roma kita dengan sebaik-baiknya. Terima kasih! Buletin Kantor Pers Takhta Suci, 19 Februari 2026 Related posts:ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITASWednesday May 27, 2026Vatikan