.wp-block-jetpack-rating-star span.screen-reader-text { border: 0; clip-path: inset(50%); height: 1px; margin: -1px; overflow: hidden; padding: 0; position: absolute; width: 1px; word-wrap: normal; }

Sejenak Sabda


(Kamis, 28-05-2026)

Semoga kasih Allah memberkati kita selalu

Bacaan-Bacaan Liturgi
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Bac I: 1 Ptr 2:2-5.9-12
Bac Injil: Mrk 10:46-52

Pesan Tuhan Hari Ini

Pertama, belajar dari Bartimeus (orang buta, terisolir dan di pinggir jalan) yang tetap berseru kepada Yesus demi kesembuhan dan kebaikan dirinya, kita pun dipanggil untuk berseru atau bersuara demi kesembuhan dan kebaikan bersama dalam gereja dan masyarakat. Jangan takut bersuara demi kesembuhan dan kebaikan diri kita, keluarga kita, gereja dan masyarakat kita. Jika ada yang menyuruh diam, itulah saatnya untuk berseru lebih keras demi kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Kedua, Dalam Injil, kita mendengar bahwa ketika Yesus memanggil Bartimeus, dia melemparkan jubahnya. Bagi seorang pengemis di zaman itu, jubah adalah aset paling berharga, alat untuk mengumpulkan koin, selimut di malam hari, dan simbol status sosialnya sebagai pengemis. Namun dia berani menanggalkannya. Oleh karena itu, belajar dari Bartimeus, kita harus berusaha untuk bertransformasi. Dan untuk mengalami transformasi hidup yang sejati, kita harus rela menanggalkan “jubah lama” kita. Jubah ini bisa berupa ego, masa lalu yang pahit, ketergantungan pada materi, atau identitas lama yang membuat kita stagnan di pinggir jalan.

Ketiga, Secara fisik Bartimeus buta, namun secara rohani ia justru “melihat” dengan paling jelas siapa Yesus sebenarnya (ia mengenali Yesus sebagai “Anak Daud”, Sang Mesias), sementara orang banyak yang bisa melihat secara fisik justru buta terhadap identitas Yesus.
Hal ini tentunya mau mengingatkan kita bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan hati dan hilangnya empati. Oleh karena itu pesan penting bagi kita adalah berusaha melatih kepekaan batin agar kita mampu melihat kehadiran Tuhan dan penderitaan sesama di tengah kesibukan hidup.

Keempat, Iman yang sejati tidak berhenti pada saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan (berkat atau kesembuhan). Iman yang matang mewujud dalam komitmen untuk berjalan bersama Yesus, mengambil bagian dalam tanggung jawab, dan siap memikul salib dalam kehidupan sehari-hari.

Marilah berdoa
Ya Allah jadikanlah kami pribadi yang mampu membawa dampak positif bagi setiap orang yang berada di sekitar kami.

Salam kasih dan doa,
RD. Domincs Baldawins Masriat

Related posts

BANYAK ORANG BERAGAMA TIDAK LULUS SEKOLAH KEMANUSIAAN

KITA ADALAH MAKHLUK CAHAYA

KUDAMBA SURGAMU, TUHAN