Home Ā» BANGKIT, ANGKAT TILAMMU, DAN BERJALANLAH!

BANGKIT, ANGKAT TILAMMU, DAN BERJALANLAH!

by Leonardus Ansis
0 comments

RENUNGAN PAGI

Kamis, 2 Juli 2026

(Matius 9:1-8)
————-***———-

Selamat pagi, sahabat-sahabat peziarah harapan.

Barangkali kelumpuhan terbesar zaman ini bukanlah kelumpuhan kaki, melainkan kelumpuhan hati.

Kita hidup di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tetapi semakin banyak orang kehilangan arah. Teknologi semakin canggih, tetapi kesepian semakin dalam. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Banyak orang tampak berhasil, namun diam-diam kehilangan makna hidup.

Injil hari ini berbicara kepada manusia seperti itu.

Yesus berjumpa dengan seorang lumpuh yang tidak mampu datang sendiri. Ia digotong oleh sahabat-sahabatnya.

Di sinilah kita menemukan wajah Gereja yang sejati.

Bukan komunitas orang-orang yang merasa paling suci, melainkan komunitas yang saling mengangkat ketika yang lain tidak lagi sanggup berjalan.

Hari ini Tuhan bertanya kepada kita:

Siapa yang sedang kaubantu bangkit?

Dan mungkin pertanyaan yang lebih sulit ialah:

Sudahkah engkau cukup rendah hati membiarkan dirimu ditolong?
-—***—-

Yang mengejutkan, Yesus tidak langsung menyembuhkan tubuh orang itu.

Ia lebih dahulu berkata,

ā€œPercayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.ā€

Mengapa?

Karena akar terdalam kelumpuhan manusia sering bukan berada pada tubuhnya, melainkan pada batinnya.

šŸ‘‰ Rasa bersalah.
šŸ‘‰ Kekecewaan.
šŸ‘‰ Kemarahan.
šŸ‘‰ Luka masa lalu.
šŸ‘‰ Keputusasaan.

Semuanya dapat melumpuhkan seseorang jauh lebih dahsyat daripada penyakit fisik.

Di tengah budaya yang mudah menghakimi, Kristus justru memulihkan martabat manusia.

Sebelum melihat dosanya, Yesus melihat anak yang dicintai Bapa.

Sebelum melihat kelemahannya, Yesus melihat harapan yang masih mungkin bertumbuh.

Di sinilah kita belajar bersama John Henry Newman bahwa hati yang diterangi Allah selalu lebih mampu melihat kebaikan daripada sekadar mencari kesalahan. Pertobatan sejati bukan lahir karena takut dihukum, melainkan karena mengalami kasih yang lebih dahulu menyapa.
—-***—-

Sesudah itu Yesus berkata,

ā€œBangunlah, angkatlah tilammu dan pulanglah.ā€

Mengapa tilam itu harus diangkat?

šŸ‘‰ Karena Allah tidak menghapus masa lalu kita.
šŸ‘‰ Ia mengubahnya menjadi kesaksian.
šŸ‘‰ Luka tidak selalu dihilangkan.
šŸ‘‰ Tetapi dapat diubah menjadi sumber belas kasih.
šŸ‘‰ Kegagalan tidak selalu dilenyapkan.
šŸ‘‰ Tetapi dapat menjadi sekolah kebijaksanaan.

Di sinilah pesan Viktor Frankl menemukan gema Injilnya: manusia tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi atas dirinya, tetapi selalu dapat memilih sikapnya terhadap peristiwa itu. Bahkan penderitaan pun dapat menjadi jalan menuju makna apabila dijalani bersama Allah.
—-***—-

Saudara-saudari,

Indonesia hari ini membutuhkan semakin banyak orang yang berani bangkit.

šŸ‘‰ Bangkit dari korupsi menuju kejujuran.

šŸ‘‰ Bangkit dari kebencian menuju persaudaraan.

šŸ‘‰ Bangkit dari sikap masa bodoh menuju kepedulian.

šŸ‘‰ Bangkit menjaga hutan, laut, tanah, dan sesama sebagai rumah bersama yang dipercayakan Tuhan.

Iman bukan sekadar percaya bahwa mukjizat pernah terjadi.

Iman adalah keberanian menjadi bagian dari mukjizat itu.

Setiap kali kita mengampuni, mengangkat yang lemah, bekerja dengan jujur, membela martabat orang kecil, dan merawat ciptaan, kita sedang menaati sabda Kristus:

ā€œBangunlah!ā€
—-***—-

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri pagi ini:

šŸ‘‰ Tilam apakah yang masih membuatku enggan melangkah?
šŸ‘‰ Apakah rasa takut?
šŸ‘‰ Dendam?
šŸ‘‰ Kenyamanan?
šŸ‘‰ Atau keputusasaan?

Hari ini Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna.

Ia hanya meminta kita bangkit.

Sebab rahmat Allah selalu lebih besar daripada kelemahan manusia.

Dan ketika kita berani melangkah bersama Kristus, luka-luka kita tidak lagi menjadi penjara, melainkan menjadi jalan tempat cahaya Allah masuk dan menerangi dunia.

ā€œBangkitlah. Sebab harapan selalu dimulai oleh satu langkah kecil yang dilakukan bersama Tuhan.ā€

Warta Injil hari ini dapat dirangkum dalam satu kalimat epigraf:

ā€œMukjizat terbesar bukanlah ketika orang lumpuh dapat berjalan, melainkan ketika manusia yang kehilangan harapan menemukan kembali makna hidupnya di dalam Kristus.ā€
————***————
MIKE KERAF, CSsR
R.A. D’SOS,
Sumba Barat Daya,
02.07.2026

You may also like