Ada 3 pokok permenungan yang bisa saya bagikan kepada kita melalui bacaan Injil hari ini.
“Mengikuti Yesus ke dalam perahu.” Sama seperti para murid yang mengikuti Yesus masuk ke dalam perahu, maka bagi kita para imam, biarawan dan biarawati, “naik atau mengikuti Yesus ke dalam perahu” adalah momen ketika kita mengucapkan Ya, Siap! Atau mengucapkan 3 kaul atau janji saat tahbisan untuk mengikuti Yesus. Kita memilih untuk meninggalkan pantai yang indah, aman demi mengikuti Yesus mengarungi samudera perutusan. Namun, Injil hari ini mengingatkan kita tentang sebuah realitas yang jujur bahwa mengikuti Yesus tidak membuat kita kebal dari badai.
“Selalu ada badai dalam hidup panggilan” Badai dalam hidup membiara atau imamat berupa rasa cape dalam berpastoral, krisis dalam panggilan, terlena dengan kenikmatan duniawi, rutinitas yang kadang membuat rasa jenuh, konflik dalam komunitas, hingga merasakan kesepian yang mendalam. Ketika badai itu mengamuk, sering kali kita merasa takut, cemas, khawatir, panik seperti para murid. Kadang kita terjebak untuk “menyelamatkan perahu” dengan kekuatan sendiri. Kita bekerja begitu keras mengandalkan kecerdasan, talenta atau strategi pastoral kita sampai kita lupa bahwa kita sedang berada di perahu Yesus, kita lupa bahwa perahu itu adalah milik Yesus, dan bukan milik kita.
“Sadarlah bahwa Yesus masih bersama kita di dalam perahu, maka andalkanlah Yesus dan minta tolonglah pada-Nya.” Mari kita masuk dalam keheningan batin, berdoa dan mengatakan, Tuhan, saya cape, Tuhan, saya lelah. Tolonglah saya! Maka yakinlah bahwa jika Tuhan mampu menghardik angin dan danau menjadi teduh sekali, maka semua badai, persoalan dalam hidup kita pun pasti Tuhan juga akan sangat mampu membuat hidup kita aman dan teduh sekali. Amin