Home Ā» Saya Tinggal Sebagai Saudara

Saya Tinggal Sebagai Saudara

by Leonardus Ansis
0 comments

Bapa Uskup Mgr. Seno Ngutra dan para Pastor Keuskupan Amboina yang terkasih,

Malam ini adalah malam terakhir saya berada di Kepulauan Maluku setelah kurang lebih dua setengah bulan menjalani masa sabatikal, tinggal, berjalan, berjumpa, dan mengalami kehidupan Gereja di Keuskupan Amboina.

Ada banyak hal yang saya bawa pulang. Bukan terutama cerita tentang pulau-pulau yang saya kunjungi, laut yang saya seberangi, atau perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lain. Yang paling membekas justru adalah wajah-wajah persaudaraan yang saya jumpai.

Sejak pertama tiba, Rumah Keuskupan Amboina menerima saya bukan sekadar sebagai seorang imam yang sedang berkunjung, tetapi sebagai saudara yang diberi tempat di dalam rumah. Ada meja makan yang selalu terbuka, percakapan-percakapan sederhana, canda para pastor, perhatian dalam perjalanan, hingga sapaan-sapaan kecil yang membuat saya sungguh merasakan: Gereja adalah rumah, dan persaudaraan imamat adalah keluarga.

Dari Ambon saya kemudian memperoleh kesempatan melihat lebih jauh wajah Gereja di tanah Maluku: menyeberangi laut, mendatangi pulau-pulau, berjumpa dengan umat di kota maupun di pelosok, memasuki wilayah-wilayah yang tidak selalu mudah dijangkau. Saya belajar bahwa Gereja Keuskupan Amboina hidup bukan hanya karena gedung-gedung gerejanya, tetapi karena para gembala dan umatnya yang dengan tekun menjaga iman di tengah bentangan pulau dan laut yang begitu luas.

Karena itu, malam ini hati saya terutama dipenuhi rasa syukur.

Terima kasih kepada Bapa Uskup atas penerimaan, kepercayaan, dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengalami secara lebih dekat kehidupan Keuskupan Amboina. Terima kasih kepada para pastor, frater, suster, karyawan Rumah Keuskupan, dan semua yang selama ini menemani perjalanan saya. Terima kasih atas kamar yang menjadi tempat beristirahat, meja makan yang menjadi tempat berbagi cerita, kendaraan dan perjalanan yang membawa saya ke berbagai tempat, serta terutama persaudaraan yang membuat saya tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Dua setengah bulan ternyata cukup singkat untuk mengenal Maluku, tetapi cukup panjang untuk jatuh hati kepada persaudaraannya.

Besok saya meninggalkan tanah ini. Namun saya percaya, sebuah perjalanan tidak sungguh-sungguh berakhir ketika pesawat lepas landas atau kapal meninggalkan pelabuhan. Perjalanan akan terus hidup selama orang masih membawa dalam hatinya wajah-wajah yang pernah dijumpai, cerita yang pernah didengarkan, dan kebaikan yang pernah diterima.

Saya datang sebagai tamu.
Saya tinggal sebagai saudara.
Dan saya pulang membawa Maluku di dalam hati.

Bila selama kebersamaan ini ada tutur kata, sikap, candaan, atau tindakan saya yang kurang berkenan, dengan tulus saya memohon maaf. Semoga persaudaraan yang telah tumbuh tidak berhenti karena jarak. Sebab pada akhirnya kita tetap berjalan dalam satu panggilan, satu imamat, dan satu pelayanan bagi Gereja Tuhan.

Terima kasih, Bapa Uskup. Terima kasih, saudara-saudaraku para pastor Keuskupan Amboina.

Maluku telah mengajarkan kepada saya bahwa persaudaraan tidak selalu dibangun oleh kesamaan asal, tetapi oleh kesediaan menerima orang lain dan memberinya tempat di dalam rumah dan hati.

Saya pulang dengan membawa banyak cerita, tetapi terlebih lagi membawa syukur.

Tuhan memberkati Keuskupan Amboina. Tuhan menjaga persaudaraan kita. Sampai berjumpa kembali di lain waktu, di lain pulau ataupun di pulau yang sama, dalam sukacita pelayanan yang satu untuk semua, semua untuk satu.

Ambon, 12 Agustus 2026
Malam terakhir di Tanah Maluku

  • Rm Yos Bintoro, Pr

You may also like